JawaPos.com - Ketegangan antara Turki dan Israel kembali meningkat setelah Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, melontarkan pernyataan keras yang memicu respons tajam dari pihak Israel.
Dalam sebuah acara politik, Erdogan secara terbuka menyampaikan ancaman yang mengejutkan.
“Jika Pakistan tidak memediasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran, kami sudah menunjukkan posisi Israel. Seperti kami masuk ke Libya dan Karabakh, kami juga bisa masuk ke Israel,” ujarnya mengutip The News Pakistan.
Ia juga menyerang Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dengan pernyataan tajam.
“Netanyahu telah dibutakan oleh darah dan kebencian,” kata Erdogan.
Israel Balas Tudingan
Pernyataan tersebut langsung dibalas oleh Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, yang juga menggunakan nada keras terhadap Erdogan.
“Presiden Turki Erdogan, yang tidak merespons serangan rudal Iran ke wilayahnya dan terbukti hanya macan kertas, kini berlindung di balik retorika antisemitisme,” ujar Katz.
Ia juga menuding Erdogan memiliki catatan buruk terkait perlakuan terhadap kelompok Kurdi.
Sebagai informasi, hubungan Ankara dan Tel Aviv memang telah lama tegang. Kedua negara bersaing memperebutkan pengaruh di kawasan Timur Tengah, baik secara politik, militer, maupun diplomatik.
Turki menjadi salah satu pengkritik paling vokal terhadap operasi militer Israel di Gaza, yang disebutnya sebagai tindakan genosida. Bahkan sejak Mei 2024, Ankara memberlakukan embargo perdagangan terhadap Israel yang membuat hubungan ekonomi kedua negara merosot tajam.
Situasi semakin kompleks setelah laporan dari Turki menyebut jaksa setempat tengah mengupayakan tuntutan berat terhadap sejumlah pejabat Israel.
Selain Netanyahu, nama Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben Gvir hingga petinggi militer Israel juga ikut disebut dalam proses tersebut.
Langkah ini dinilai memperdalam jurang konflik diplomatik yang sudah lama terjalin di antara kedua negara.
Di luar perang pernyataan, Turki dan Israel juga merupakan dua kekuatan militer besar di kawasan. Turki memiliki salah satu kekuatan militer terbesar di dalam NATO, sementara Israel dikenal unggul dalam teknologi pertahanan.
Menariknya, baik Erdogan maupun Netanyahu sama-sama memiliki hubungan dekat dengan mantan Presiden AS, Donald Trump, yang selama ini berpengaruh dalam dinamika geopolitik Timur Tengah.
Turki juga terus memperluas pengaruhnya di kawasan, termasuk memperkuat hubungan dengan negara-negara Teluk dan meningkatkan perannya di Suriah—yang kerap berseberangan dengan kepentingan Israel.
Meski sebagian analis menilai pernyataan keras ini masih sebatas retorika politik, eskalasi yang terus meningkat tetap memicu kekhawatiran.
Perang kata-kata antara Ankara dan Tel Aviv kini menunjukkan bahwa rivalitas lama keduanya belum mereda, dan justru berpotensi memasuki fase yang lebih berbahaya jika tidak diredam.