← Beranda
Gara-gara Serangan Israel ke Lebanon, Iran Kembali Tutup Selat Hormuz
Rian AlfiantoKamis, 9 April 2026 | 17.59 WIB
Selat Hormuz adalah salah satu jalur perdagangan minyak utama dunia, yang ditutup buntut perang antara AS-Israel melawan Iran. Penutupan Selat Hormuz diperkirakan bakal mengerek harga minyak dunia. (Google Maps)

JawaPos.com - Gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang bahkan belum genap 24 jam kini berada di ambang kegagalan.

Teheran dilaporkan mengumumkan kembali menutup Selat Hormuz sebagai respons langsung atas serangan Israel yang terus berlanjut di Lebanon.

Langkah ini menjadi pukulan telak bagi kesepakatan yang sebelumnya digadang-gadang sebagai peluang meredakan konflik di Timur Tengah.

Penutupan kembali Selat Hormuz bukan sekadar simbolis. Jalur ini merupakan salah satu rute pelayaran paling vital di dunia, dilalui sekitar seperlima pasokan minyak global.

Baca Juga: Gencatan Senjata Baru Hitungan Jam, Israel sudah Bombardir Lebanon: Ratusan Tewas, Perdamaian Terancam

Dalam kesepakatan sebelumnya, Presiden AS, Donald Trump, setuju menunda serangan selama dua minggu dengan syarat Iran membuka dan menjamin keamanan jalur tersebut.

Artinya, pembukaan Hormuz adalah fondasi utama gencatan senjata, bukan sekadar elemen tambahan.

Namun kini, dengan keputusan Iran menutup kembali jalur tersebut, dasar kesepakatan itu praktis runtuh bahkan sebelum benar-benar berjalan.

Mengutip laporan media lokal, Iran menilai Israel telah melanggar semangat gencatan senjata melalui serangan simultan ke wilayah Iran dan Lebanon.

Langkah Israel yang tetap menggempur Lebanon menjadi pemicu utama keputusan Teheran untuk kembali membatasi pelayaran di Hormuz.

Baca Juga: Iran ke AS: Gencatan Senjata, Atau Perang Berkelanjutan Melalui Israel!

Di sisi lain, Washington sebelumnya memang menyatakan bahwa konflik di Lebanon tidak termasuk dalam cakupan kesepakatan.

Presiden Donald Trump menegaskan bahwa situasi Lebanon adalah 'terpisah' dari kesepakatan dengan Iran.

Diberitakan sebelumnya, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, sejak awal memang telah menyatakan bahwa gencatan senjata tidak berlaku untuk Lebanon.

Serangan besar-besaran pun terus dilakukan, dengan puluhan hingga ratusan korban jiwa dilaporkan dalam gelombang serangan terbaru.

Menteri Pertahanan Israel menegaskan bahwa target utama adalah infrastruktur milik Hizbullah.

Baca Juga: Liga Arab Desak AS Paksa Israel Hentikan Serangan Besar ke Lebanon

Sementara itu, Hizbullah menegaskan 'hak untuk merespons' atas serangan yang terus berlangsung.

Sementara itu, Menteri Kesehatan Lebanon, Rakan Nassereddine, melaporkan puluhan korban tewas dan ratusan lainnya luka-luka akibat serangan terbaru.

Jumlah korban diperkirakan masih akan bertambah seiring proses evakuasi yang terus berlangsung.

Serangan ini juga memperparah krisis kemanusiaan di Lebanon, yang sejak awal Maret telah mencatat ribuan korban dan jutaan pengungsi.

Baca Juga: Membabi Buta! Israel Serbu Lebanon Besar-besaran, 254 Orang Tewas

EDITOR: Bayu Putra