JawaPos.com - Perombakan besar-besaran di tubuh militer Amerika Serikat kian menguat setelah lebih dari selusin perwira tinggi kehilangan jabatan sejak 2025, dengan gelombang terbaru terjadi di tengah eskalasi perang melawan Iran yang belum menunjukkan arah penyelesaian yang jelas.
Langkah paling mencolok adalah pencopotan Jenderal Randy George dari posisinya sebagai Kepala Staf Angkatan Darat AS. Ia disebut dipaksa mundur oleh Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan langsung digantikan sementara oleh Jenderal Christopher LaNeve.
Dilansir dari The Guardian, Sabtu (4/4/2026), Pentagon menegaskan keputusan itu berlaku seketika. Juru bicara Pentagon, Sean Parnell, menyatakan, "Jenderal Randy A. George akan pensiun dari jabatannya sebagai Kepala Staf Angkatan Darat ke-41, efektif segera. Departemen berterima kasih atas puluhan tahun pengabdiannya kepada negara."
Baca Juga: Mencekam! Serangan Parang di TK di Uganda Tewaskan 4 Anak, Motif Pelaku Masih Misterius
Namun demikian, laporan lain menunjukkan bahwa langkah ini bukan sekadar rotasi biasa. Mengacu pada National Today, Sabtu (4/4), pencopotan George terjadi bersamaan dengan dua jenderal lain, yakni Jenderal David Hodne dan Mayor Jenderal William Green Jr, tanpa penjelasan resmi dari Pentagon.
Situasi ini berlangsung hampir lima minggu sejak konflik AS-Israel dengan Iran meningkat, di tengah belum adanya kepastian strategi maupun tenggat waktu penyelesaian dari Presiden Donald Trump.
Jenderal Randy George Dicopot dari Puncak Angkatan Darat
George sebelumnya menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat ke-41 dan seharusnya bertahan hingga 2027 setelah dikonfirmasi Senat pada 2023. Namun, masa jabatannya berakhir lebih awal di tengah tekanan dari pimpinan sipil Pentagon.
Secara resmi, pengunduran dirinya disebut sebagai "pensiun." Namun dalam konteks yang lebih luas, langkah itu mencerminkan adanya intervensi langsung dari Hegseth, yang memperkuat indikasi bahwa keputusan tersebut bersifat strategis dan politis.
Jenderal David Hodne Dicopot dari Komando Transformasi dan Pelatihan
Jenderal David Hodne, yang memimpin Komando Transformasi dan Pelatihan Angkatan Darat, juga termasuk dalam gelombang pencopotan terbaru. Posisi ini sebelumnya memainkan peran penting dalam membentuk arah modernisasi dan kesiapan tempur militer AS.
Pencopotannya menandakan bahwa agenda reformasi internal militer kini berada di bawah kendali penuh kepemimpinan baru Pentagon, yang tengah melakukan restrukturisasi menyeluruh di berbagai lini.
Mayor Jenderal William Green Jr Dicopot dari Korps Chaplain
Mayor Jenderal William Green Jr., yang menjabat sebagai Kepala Korps Chaplain Angkatan Darat, turut diberhentikan dalam gelombang yang sama. Peran ini selama ini berfokus pada pembinaan moral dan spiritual prajurit di lingkungan militer.
Langkah tersebut memperlihatkan bahwa perombakan tidak hanya menyasar sektor operasional, tetapi juga menjangkau struktur internal yang sebelumnya relatif stabil.
Lebih dari Selusin Jenderal Dicopot, Stabilitas Militer AS Dipertanyakan
Secara keseluruhan, Hegseth telah mencopot lebih dari selusin pejabat militer senior sejak menjabat pada 2025. Pola ini memicu kekhawatiran luas terkait stabilitas kepemimpinan militer serta potensi meningkatnya politisasi dalam institusi pertahanan AS.
Sejumlah laporan dari Reuters dan Bloomberg menilai langkah ini sebagai bagian dari konsolidasi kekuasaan, terutama di tengah konflik berkepanjangan dengan Iran yang belum memiliki arah strategi yang jelas.
Di tengah gelombang pencopotan jenderal dan eskalasi konflik yang belum menunjukkan arah penyelesaian, Presiden Donald Trump mengeluarkan pernyataan agresif terkait Iran. Ia menegaskan, "Kami akan menghantam mereka dengan sangat keras dalam dua hingga tiga minggu ke depan. Kami akan membawa mereka kembali ke Zaman Batu."
Pernyataan itu kemudian diperkuat oleh Menteri Pertahanan Pete Hegseth yang mengatakan singkat, "Kembali ke Zaman Batu," mempertegas pendekatan militer yang kian konfrontatif di tengah restrukturisasi kepemimpinan militer.
Namun, misi Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa merespons keras dengan menyatakan bahwa komentar tersebut "mencerminkan ketidaktahuan, bukan kekuatan," sembari menegaskan bahwa peradaban Iran telah berlangsung lebih dari 7.000 tahun.
Konsolidasi Kekuasaan dan Ketidakpastian Arah Perang
Dalam konteks tersebut, penunjukan Jenderal Christopher LaNeve sebagai pelaksana tugas Kepala Staf Angkatan Darat dinilai sebagai bagian dari langkah konsolidasi kekuasaan di internal Pentagon, khususnya oleh Menteri Pertahanan Pete Hegseth untuk menempatkan figur yang sejalan dengan arah kebijakannya.
Di sisi lain, belum adanya kejelasan strategi akhir dalam konflik Iran memperbesar tekanan terhadap struktur kepemimpinan militer AS. Pergantian cepat di level tertinggi, di tengah perang yang terus berlangsung, menimbulkan pertanyaan serius mengenai stabilitas komando dan efektivitas pengambilan keputusan strategis.
Pada akhirnya, gelombang pencopotan jenderal ini tidak hanya mencerminkan dinamika internal Pentagon, tetapi juga menjadi indikator meningkatnya ketegangan antara kepemimpinan sipil dan militer dalam menghadapi konflik global yang semakin kompleks.
Baca Juga: Iran Tolak Gencatan Senjata 48 Jam dari AS, Pilih Balas Lewat Serangan di Medan Tempur