JawaPos.com - Presiden Donald Trump kembali melontarkan pernyataan keras terkait konflik antara AS-Israel dengan Iran.
Ia menegaskan bahwa Amerika Serikat bahkan belum mulai menghancurkan apa yang tersisa di Iran, sekaligus mengisyaratkan eskalasi serangan terhadap infrastruktur penting negara tersebut.
Di tengah meningkatnya ketegangan, puluhan negara kini berupaya mencari solusi agar distribusi energi global tetap berjalan, khususnya melalui Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan minyak dunia.
Seperti dilansir dari Reuters, hampir lima minggu sejak operasi militer gabungan AS dan Israel dimulai, konflik ini terus meluas dan mengguncang kawasan.
Baca Juga: IRGC Klaim Iran Kirim Rudal Jelajah Serang Kapal Induk AS USS Abraham Lincoln di Samudra Hindia
Dampaknya terasa hingga pasar keuangan global, sekaligus meningkatkan tekanan politik terhadap Trump untuk segera menemukan jalan keluar.
Retorika Trump pun semakin tajam dalam beberapa hari terakhir, beriringan dengan upaya negosiasi tidak langsung dengan kepemimpinan baru Iran yang dinilai belum menunjukkan hasil signifikan. Pesimisme di dalam negeri AS juga mulai meningkat.
Dalam unggahan media sosialnya, Trump menulis, “Militer AS bahkan belum mulai menghancurkan apa yang tersisa di Iran. Jembatan selanjutnya, lalu Pembangkit Listrik,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa pemimpin Iran tahu apa yang harus dilakukan, dan harus dilakukan dengan cepat.
Sebelumnya, Trump juga membagikan video serangan udara terhadap sebuah jembatan baru yang menghubungkan Teheran dan Karaj.
Baca Juga: Dampak Konflik Iran vs Israel–AS, Bangladesh Terapkan Kebijakan Hemat Energi Ketat
Infrastruktur bernama B1 itu rencananya akan dibuka tahun ini. Media pemerintah Iran melaporkan delapan orang tewas dan 95 lainnya terluka akibat serangan tersebut.
Menanggapi hal itu, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, mengecam keras aksi tersebut.
“Menyerang bangunan sipil, termasuk jembatan yang belum selesai, tidak akan memaksa warga Iran untuk menyerah,” ungkapnya.
Situasi di lapangan juga terus memanas. Laporan media Iran menyebutkan adanya serangan drone terhadap gudang bantuan Bulan Sabit Merah di wilayah Choghadak, provinsi Bushehr.
Dua kontainer dilaporkan hancur. Bushehr sendiri merupakan kawasan strategis karena menjadi lokasi fasilitas nuklir pertama Iran.
Baca Juga: Emmanuel Macron Sentil Donald Trump soal Serangan ke Iran: Perang Bukan Reality Show
Citra satelit juga menunjukkan kepulan asap di pelabuhan Qeshm, pulau penting yang terletak di sekitar Selat Hormuz.
Di sisi lain, Iran dan sekutunya tetap melancarkan serangan balasan di kawasan Teluk.
Kuwait Petroleum Corporation melaporkan bahwa kilang Mina al-Ahmadi mereka terkena serangan drone yang memicu kebakaran, meski tidak menimbulkan korban jiwa.
Sementara itu, juru bicara markas pusat Iran, Khatam al-Anbiya, mengklaim bahwa satu lagi jet tempur F-35 milik AS berhasil ditembak jatuh di wilayah Iran tengah, dengan kemungkinan kecil pilot selamat. Hingga kini, belum ada konfirmasi resmi dari pihak AS terkait klaim tersebut.
Sebelumnya, militer AS memang sempat melaporkan insiden pendaratan darurat pesawat F-35 setelah menjalankan misi tempur di atas Iran, dengan kondisi pilot dinyatakan stabil.
Baca Juga: Iran Bantah Keras Klaim Trump soal Permintaan Gencatan Senjata: Hoaks dan Tak Berdasar!
Konflik ini terus berkembang tanpa tanda-tanda mereda, sementara dunia menanti langkah diplomatik yang mampu menghentikan eskalasi dan memulihkan stabilitas kawasan.