← Beranda
Emmanuel Macron Sentil Donald Trump soal Serangan ke Iran: Perang Bukan Reality Show
Rian AlfiantoJumat, 3 April 2026 | 06.17 WIB
Emmanuel Macron. (Instagram @emmanuelmacron)

JawaPos.com - Presiden Perancis Emmanuel Macron melontarkan kritik tajam terhadap gaya kepemimpinan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, dalam menangani konflik Iran yang kian memanas.

Macron menilai pendekatan Trump tidak konsisten dan justru memperkeruh situasi perang di Timur Tengah.

Pernyataan itu disampaikan Macron saat kunjungan kenegaraan ke Korea Selatan, di tengah konflik AS-Israel melawan Iran yang kini telah memasuki bulan kedua.

Macron secara tegas menyindir perubahan sikap Trump yang kerap bertolak belakang dari hari ke hari. Mulai dari klaim kemenangan, peluang damai, hingga kembalinya ancaman serangan besar.

Baca Juga: Iran Bantah Keras Klaim Trump soal Permintaan Gencatan Senjata: Hoaks dan Tak Berdasar!

“Ini bukan pertunjukan. Kita berbicara tentang perang, tentang nyawa manusia,” kata Macron kepada wartawan di Korea Selatan.

“Jika ingin serius, Anda tidak mengatakan hal yang berbeda setiap hari," lanjut Macron.

Ia bahkan menyarankan agar retorika publik dikurangi demi meredakan ketegangan. “Mungkin tidak perlu berbicara setiap hari. Biarkan situasi menjadi lebih tenang,” tambahnya.

Kritik atas Inkonsistensi Strategi AS

Sejak konflik dimulai, pemerintahan Trump memang mengirimkan sinyal yang beragam soal Iran.

Dari menyebut perang hampir selesai, mengklaim Iran ingin gencatan senjata, hingga kembali mengancam akan menghancurkan infrastruktur vital Iran.

Baca Juga: AS Rencanakan Invasi Darat, Iran Tegaskan Tak akan Ada Pasukan Musuh yang Selamat

Klaim tersebut bahkan telah dibantah langsung oleh pemerintah Iran. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menegaskan tidak ada permintaan gencatan senjata, sementara jalur diplomasi disebut belum memasuki tahap negosiasi resmi.

Bagi Macron, inkonsistensi ini berbahaya karena melemahkan kredibilitas internasional dan memperumit upaya penyelesaian konflik.

NATO dan Kepercayaan Sekutu Dipertanyakan

Macron juga menyoroti pernyataan Trump yang mempertimbangkan kembali keanggotaan AS di NATO.

Menurutnya, aliansi internasional dibangun atas dasar kepercayaan, bukan retorika yang berubah-ubah.

“Aliansi seperti NATO bernilai karena kepercayaan yang tidak selalu diucapkan,” ujarnya. “Jika komitmen terus dipertanyakan, maka substansinya akan hilang,” lanjut Macron.

Baca Juga: Trump Sebut akan Serang Iran dengan Keras pada Pekan-Pekan Mendatang, Klaim Iran telah Hancur-lebur!

Macron turut mengkritik efektivitas serangan militer AS terhadap program nuklir Iran. Ia mengingatkan bahwa klaim penghancuran fasilitas nuklir sebelumnya tidak sepenuhnya terbukti.

“Enam bulan lalu kita diberitahu semuanya sudah dihancurkan. Tapi sekarang ancaman itu kembali,” kata Macron.

Ia menekankan bahwa solusi jangka panjang harus melibatkan pengawasan internasional, bukan hanya operasi militer jangka pendek.

Sementara itu, Iran masih menutup Selat Hormuz sebagai respons atas serangan militer AS dan Israel. Jalur ini merupakan salah satu arteri utama perdagangan energi dunia.

Trump sebelumnya meminta negara-negara terdampak untuk 'menyelesaikan sendiri' masalah tersebut. Namun Macron menilai opsi intervensi militer untuk membuka selat itu sangat berisiko.

Baca Juga: Serangan Iran ke Pusat Data Amazon Ungkap Taruhan Besar AS di Infrastruktur AI Kawasan Teluk Arab

“Itu tidak realistis. Terlalu berbahaya dan memakan waktu lama,” ujarnya, merujuk pada ancaman dari Garda Revolusi Iran dan sistem misil yang dimiliki Teheran.

Di luar isu geopolitik, ketegangan juga merambah ke ranah personal. Trump dilaporkan mengejek Macron dalam sebuah pertemuan tertutup, termasuk menyinggung istrinya, Brigitte Macron.

Macron menanggapi santai namun tegas: “Komentar itu tidak elegan dan tidak layak. Tidak pantas ditanggapi.”

Pernyataan Trump tersebut justru menuai kecaman luas di Perancis, termasuk dari lawan politik Macron sendiri.

Meski beberapa negara Eropa mendukung operasi tertentu, Macron menegaskan bahwa konflik ini bukan operasi Prancis.

Baca Juga: Trump Berubah Lagi! Sempat Bicara Damai, Kini Ancam Hancurkan Iran ke 'Zaman Batu' dalam 2 Minggu

“Mereka memutuskan sendiri, lalu mengeluh sendirian. Ini bukan operasi kami,” katanya.

Dengan perbedaan pendekatan antara AS dan sekutunya di Eropa, serta sikap Trump yang dinilai berubah-ubah, arah konflik kini semakin sulit diprediksi.

Di tengah ancaman serangan baru, bantahan Iran, dan kritik dari sekutu sendiri, perang ini tidak hanya menjadi konflik militer, tetapi juga krisis kepercayaan global.

 

EDITOR: Bayu Putra