JawaPos.com - Ketegangan antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran kian memanas, usai pemerintah Iran tegas membantah klaim Presiden AS Donald Trump bahwa Teheran telah meminta gencatan senjata.
Alih-alih mereda, konflik justru memasuki babak baru yang dipenuhi perang narasi, ancaman militer, dan ketidakpastian diplomatik.
Iran: Klaim Trump 'Delusi dan Kebohongan'
Kementerian Luar Negeri Iran menyebut pernyataan Trump sebagai 'false and baseless' atau tidak benar dan tidak berdasar.
Juru bicara Kemenlu Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan bahwa tidak pernah ada permintaan resmi gencatan senjata dari Teheran.
Baca Juga: AS Rencanakan Invasi Darat, Iran Tegaskan Tak akan Ada Pasukan Musuh yang Selamat
Pernyataan ini muncul setelah Trump menulis di media sosial bahwa Presiden Iran telah meminta AS menghentikan perang.
Namun, pejabat Iran lainnya, Seyyed Mehdi Tabatabaei, justru menegaskan posisi negaranya tidak berubah.
“Tidak ada perhatian terhadap delusi dan kebohongan para kriminal. Bangsa Iran tetap teguh mempertahankan kedaulatan negaranya,” ujarnya.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, juga sebelumnya telah mengingatkan bahwa serangan terhadap infrastruktur vital Iran hanya akan memperluas konflik dan menciptakan dampak global yang lebih besar.
Fakta di Balik Klaim Negosiasi
Meski Trump berulang kali menyebut Iran tengah mencari jalan damai, Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, memberikan klarifikasi berbeda.
Baca Juga: Trump Sebut akan Serang Iran dengan Keras pada Pekan-Pekan Mendatang, Klaim Iran telah Hancur-lebur!
Ia mengakui memang ada pertukaran pesan melalui pihak ketiga dalam beberapa hari terakhir, namun ia menegaskan: “Tidak ada negosiasi yang sedang berlangsung.”
Pernyataan ini memperkuat posisi Iran bahwa mereka tidak berada dalam posisi meminta gencatan senjata, melainkan tetap bertahan dalam konflik yang mereka sebut sebagai 'perang yang dipaksakan'.
Latar Belakang Konflik: Serangan Awal hingga Balasan Iran
Sebagai pengingat, konflik besar ini pecah sejak serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari yang menargetkan Teheran dan sejumlah kota lain.
Serangan tersebut menewaskan pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei, bersama sejumlah komandan militer dan warga sipil.
Baca Juga: Serangan Iran ke Pusat Data Amazon Ungkap Taruhan Besar AS di Infrastruktur AI Kawasan Teluk Arab
Sebagai balasan, Iran meluncurkan gelombang serangan rudal dan drone ke target Israel serta aset militer AS di kawasan.
Tak hanya itu, Iran juga memperketat kontrol atas Selat Hormuz dengan membatasi akses kapal yang terafiliasi dengan AS dan Israel, langkah yang langsung mengguncang rantai pasok energi global.
Di tengah bantahan Iran, Trump justru kembali meningkatkan retorika militernya. Ia menegaskan bahwa serangan akan terus dilakukan hingga Selat Hormuz kembali dibuka.
“Kami akan mempertimbangkan gencatan senjata jika Selat Hormuz sudah terbuka. Sampai saat itu, kami akan menghancurkan Iran,” kata Trump.
Pernyataan ini sejalan dengan ancaman sebelumnya untuk menyerang infrastruktur energi Iran dan 'membawa mereka kembali ke zaman batu'.
Baca Juga: Trump Berubah Lagi! Sempat Bicara Damai, Kini Ancam Hancurkan Iran ke 'Zaman Batu' dalam 2 Minggu
Perang Narasi yang Memperkeruh Situasi
Perbedaan klaim antara Washington dan Teheran menunjukkan bahwa konflik ini tidak hanya berlangsung di medan perang, tetapi juga di ruang informasi.
Di satu sisi, Trump mencoba membangun narasi bahwa Iran berada di posisi lemah dan siap menyerah.
Di sisi lain, Iran menegaskan tidak ada tanda-tanda mundur dan tetap solid menghadapi tekanan militer.
Dengan tidak adanya kepastian diplomasi, serta meningkatnya ancaman serangan baru, konflik ini berpotensi semakin meluas, tidak hanya di Timur Tengah, tetapi juga berdampak pada stabilitas ekonomi dan energi global.