JawaPos.com - Krisis energi global makin parah seiring naiknya konflik di Timur Tengah. Konflik antara Iran dengan Israel-AS langsung memengaruhi stabilitas pasokan dan harga energi dunia.
Beberapa negara berkembang mengaalami tekanan serius, terutama yang bergantung impor energi dari kawasan tersebut. Dampak merembet ke ekonomi dan layanan publik.
Kuba, Sri Lanka, Nepal, Pakistan, dan Mesir menghadapi krisis energi dengan tingkat berbeda. Mulai dari pemadaman listrik, antrean gas untuk memasak, hingga tekanan pada neraca pembayaran dan cadangan devisa.
Kondisi ini menunjukkan rapuhnya ketahanan energi di saat harga minyak dunia melonjak dan terjadinya gangguan distribusi. Negara maju berupaya mengamankan pasokan domestik, tapi beban justru bergeser ke negara berkapasitas fiskal terbatas.
Baca Juga: Perang AS-Israel vs Iran Picu Krisis, Korea Selatan Mulai Hemat Energi
Lonjakan biaya impor energi dan risiko gangguan jalur distribusi seperti Selat Hormuz memperparah situasi. Beberapa negara terancam gagal bayar dan ruang gerak pemerintah makin sempit dalam jaga stabilitas ekonomi dan kesejahteraan.
Berikut ini negara yang alami krisis energi di tengah memanasnya konflik Timur Tengah!
1. Kuba
Kuba tengah dilanda pemadaman listrik total akibat embargo minyak dari Amerika Serikat. Embargo ini perburuk krisis energi dan ekonomi negara pulau tersebut.
Pada akhir Januari, Trump ancam akan beri tarif pada negara yang suplai minyak ke Kuba. Langkah ini guna dorong perubahan model politik di pulau itu dan memperdalam blokade ekonomi.
Situasi ini pengaruhi sektor energi, pariwisata, maskapai penerbangan, dan layanan sipil dasar seperti sanitasi. PBB laporkan kekurangan listrik dan bahan bakar membuat ribuan operasi dibatalkan, serta warga membakar kayu untuk memasak.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengusulkan rencana aksi untuk Kuba yang dilanda krisis energi. Rencana itu termasuk pelacakan penggunaan bahan bakar minyak dan pembicaraan dengan AS untuk izinkan sumber daya energi bagi bantuan kemanusiaan.
Baca Juga: Gubernur Pramono Anung Siap Terapkan WFH ASN Jakarta, Imbas Krisis Energi Global?
Nilai rencana ini USD 94,1 juta guna jaga layanan penting bagi warga rentan. Francisco Pichon, koordinator PBB di Kuba, yang ungkapkan hal ini.
2. Sri Lanka
The Economist laporkan sejumlah perusahaan di Sri Lanka hentikan operasional. Sekolah dan universitas geser kegiatan belajar ke sistem daring karena krisis energi ini.
Negara maju yang sebut "benua biru" berupaya jaga energi warganya. Tekanan justru bergeser ke negara pengimpor dengan cadangan devisa terbatas dan ruang fiskal sempit.
Sri Lanka alami kemerosotan ekonomi tajam sampai menguras cadangan devisa dan gagal bayar utang. Krisis ini membuat pemerintah sulit stabilkan ekonomi dan energi.
3. Nepal
Krisis energi di Nepal tampak dari antrean panjang masyarakat yang ingin gas memasak. Ini tanda pasokan energi domestik sangat terbatas dan memperparah kebutuhan dasar.
Baca Juga: Krisis Timur Tengah Memanas, Malaysia Dorong Gencatan Senjata Lewat Diplomasi Iran
4. Pakistan
Pakistan alami situasi serupa dengan negara lain. Beban berat krisis makin terasa karena kapasitas fiskal terbatas dan tekanan pada neraca pembayaran yang parah.
Negara ini minta bantuan Dana Moneter Internasional dan potong impor untuk atasi defisit. Risiko gangguan distribusi dan potensi tutup Selat Hormuz tambah berat masalah energi Pakistan.
Pabrik dan layanan penting di Pakistan terancam terganggu dengan kondisi ini. Ketergantungan besar negara ini pada energi dari Timur Tengah membuat situasi makin rentan.
Lonjakan harga energi dan risiko turun remitansi lebar defisit transaksi berjalan. Mata uang Pakistan jatuh, dan cadangan devisa di bawah batas minimum IMF.
5. Mesir
Mesir termasuk negara yang rentan terhadap tekanan kenaikan harga energi dan risiko penurunan remitansi. Ketergantungan impor energi dan aliran dana luar negeri buat tekanan ganda.
Mesir juga dibebani utang luar negeri sekitar USD 29 miliar tahun ini. Beban itu persempit ruang fiskal di tengah krisis energi global yang melanda banyak negara.