“Irak menolak logika perang secara umum, dan secara khusus menolak penggunaan wilayahnya sebagai landasan untuk menargetkan negara-negara tetangga,” kata Bahr Al-Uloom dalam pernyataan yang dikutip dari keterangan Kementerian Luar Negeri Irak, dilansir dari Antara, Selasa (10/3).
Ia menegaskan bahwa pemerintah Irak mengambil semua langkah yang diperlukan “untuk mengejar para pelaku dari setiap tindakan yang merugikan kepentingan Irak dan hubungannya dengan negara-negara tetangga.”
Sementara itu, Mohammad Hassan Al-Zaman menyampaikan kekhawatiran negaranya terkait serangan Iran terhadap negara Teluk tersebut.
Menurut pernyataan itu, duta besar Kuwait memberikan informasi mengenai serangan yang berasal dari wilayah Irak dan meminta Baghdad untuk turun tangan menghentikan serangan tersebut “demi menjaga hubungan persaudaraan antara dua negara bersaudara dan bertetangga.”
Pernyataan itu juga menyebutkan kedua pihak sepakat bahwa Irak dan Kuwait secara langsung terdampak oleh ketegangan yang sedang berlangsung di kawasan, serta menekankan perlunya upaya bersama menjaga keamanan regional dan mengelola krisis yang terjadi saat ini.
Baca Juga: Pasokan Terganggu Imbas Konflik AS-Israel dan Iran, Minyak Mentah Dunia Tembus USD 100 per Barel
Ketegangan di kawasan Timur Tengah meningkat sejak Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan bersama terhadap Iran pada 28 Februari.
Agresi militer AS dan rezim Zionis terhadap Teheran itu telah menewaskan lebih dari 1.200 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Teheran kemudian melakukan serangan balasan menggunakan drone dan rudal yang menargetkan Israel, Yordania, Irak, serta negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer AS, sebagai bentuk pertahanan diri.