JawaPos.com - Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol, memperingatkan Rusia agar tidak memperdalam kerja sama militer dengan Korea Utara.
Yoon Suk Yeol menekankan, bahwa Rusia harus mengadopsi pendekatan yang 'masuk akal' dalam memilih di antara kedua Korea berdasarkan kepentingannya sendiri, demikian dikutip dari Reuters, pada hari Senin (8/7).
Dia juga menegaskan kembali sikapnya, bahwa keputusan Korea Selatan tentang apakah akan memberikan senjata kepada Ukraina, bergantung pada tindakan dan keputusan Rusia.
Pernyataan Yoon ini muncul menjelang rencana kunjungannya ke Washington, untuk menghadiri KTT Organisasi Perjanjian Atlantik Utara (NATO).
Dimana ia diperkirakan, akan berbicara tentang meningkatnya ancaman yang ditimbulkan oleh Rusia dan Korea Utara.
Ketegangan meningkat di Semenanjung Korea, setelah pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dan Presiden Rusia Vladimir Putin menandatangani perjanjian kemitraan strategis, yang komprehensif pada bulan Juni 2024.
Dimana kemitraan tersebut, melibatkan pemberian bantuan pertahanan timbal balik jika salah satu pihak menghadapi serangan bersenjata.
Korea Utara memperbarui dukungannya terhadap perang Rusia melawan Ukraina, dengan mengatakan, "Kami akan selalu berada di sisi tentara Rusia dalam perang keadilan."
"Korea Utara jelas merupakan ancaman bagi masyarakat internasional," kata Yoon dalam sebuah wawancara dengan Reuters.
"Saya berharap Rusia akan dengan bijaksana memutuskan pihak mana, (Korea Selatan atau Korea Utara) yang lebih penting dan diperlukan untuk kepentingannya sendiri."
"Masa depan hubungan ROK-Rusia sepenuhnya bergantung pada tindakan Rusia," lanjutnya, ROK adalah singkatan dari nama resmi Korea Selatan, Republic of Korea.
Sejak pertemuan Kim dan Putin sebelumnya pada bulan September tahun lalu, Korea Utara diduga telah memasok amunisi dan senjata kepada Rusia.
Pasokan ini konon digunakan dalam konflik Rusia melawan Ukraina, yang ditukar dengan bantuan teknologi untuk program luar angkasa Korea Utara. Kedua negara membantah terlibat dalam kesepakatan semacam itu.
Menanggapi peningkatan hubungan militer antara Rusia dan Korea Utara, Korea Selatan mengatakan bahwa pihaknya akan mempertimbangkan kembali sikap, sebelumnya untuk tidak memberikan senjata mematikan kepada Ukraina.
Yoon menegaskan kembali posisi ini, dengan mengatakan bahwa hal itu tergantung pada 'tingkat dan substansi kerja sama militer antara Rusia dan Korea Utara.'
Dia mengatakan bahwa kerjasama militer dapat mencakup bidang-bidang seperti transaksi senjata, transfer teknologi militer dan bantuan dengan bahan strategis.
Yoon juga menyatakan penyesalannya bahwa Rusia, yang dulunya merupakan pendukung sanksi PBB terhadap Korea Utara, sebagai anggota tetap Dewan Keamanan PBB, sekarang dianggap sebagai ancaman bagi keamanan di Semenanjung Korea dengan melanggar sanksi tersebut.
Dia memperingatkan bahwa akan ada dampak yang jelas negatif, pada hubungan Korea Selatan dengan Rusia jika pelanggaran ini terus berlanjut.
Pemimpin Korea Selatan akan mengunjungi Washington dari hari Rabu (10/7), hingga Kamis untuk mengambil bagian dalam KTT NATO.
Yoon Suk Yeol menjadi pemimpin Korea Selatan pertama, yang berpartisipasi dalam pertemuan tingkat tinggi selama tiga tahun berturut-turut.
Dikutip dari The Korea Post, kantor kepresidenan mengatakan bahwa Yoon, akan mengadakan pembicaraan bilateral dengan lebih dari lima negara anggota NATO.
Termasuk Republik Ceko, Swedia, Finlandia dan Norwegia, serta menghadiri jamuan makan malam yang diselenggarakan oleh Presiden Amerika Serikat Joe Biden pada hari Rabu.
Pada hari Kamis, Yoon akan bertemu dengan para pemimpin Jepang, Australia, dan Selandia Baru, negara-negara Mitra Indo-Pasifik 4 (IP4) lainnya yang terlibat dengan NATO.
Dia juga akan berpartisipasi dalam pertemuan puncak yang melibatkan anggota NATO, negara-negara IP4, dan menyampaikan pidato di Forum Publik NATO.
Dalam pertemuan tersebut, Yoon diperkirakan akan menekankan kepada anggota NATO dan IP4, bahwa hubungan Moskow dengan Pyongyang dapat memberikan lebih dari sekadar ancaman bagi Seoul.
"Kerja sama militer antara Rusia dan Korea Utara menimbulkan ancaman yang berbeda, serta tantangan besar bagi perdamaian dan keamanan di Semenanjung Korea dan di Eropa," kata Yoon kepada Reuters.
Yoon diperkirakan akan membahas cara-cara untuk meningkatkan hubungan keamanan dengan Amerika Serikat, Jepang, dan sekutu NATO lainnya dalam menanggapi peningkatan kerja sama militer antara Rusia dan Korea Utara.