JawaPos.com - Gereja Katolik memiliki sejarah yang cukup panjang dan mengenang para tokoh besar dengan baik. Sebagian besar tokoh-tokoh itu kemudian diangkat menjadi orang suci dan mendapatkan sebutan "santa" untuk perempuan, atau "santo" untuk laki-laki.
Kebanyakan dari para tokoh yang berasal dari sejarah awal gereja merupakan para korban dari persekusi terhadap gereja. Mayoritas dari mereka meninggal akibat pembunuhan atau hukuman yang dijatuhkan kepada umat Kristen pada saat itu.
Salah satu tokoh besar dalam sejarah gereja adalah Santa Agatha dari Sisilia (231-251), seorang martir dan pelindung korban perkosa.
Kehidupan Awal
Dilansir dari Catholic, Agatha dipercaya lahir pada tahun 231 di Katania atau Palermo, Sisilia ke dalam keluarga kaya.
Masa mudanya diisi dengan dedikasi kepada Tuhan, bahkan bersumpah untuk menjaga keperawanannya. Walaupun begitu, karena kecantikannya, banyak laki-laki menginginkannya dan bernafsu.
Salah satu laki-laki itu adalah Quintianus, seorang laki-laki yang memiliki posisi diplomatis, berpikir ia dapat memaksa Agatha untuk melepaskan sumpahnya dan menikahinya.
Lamaran Quintianus berkali-kali ditolak oleh Agatha, lalu Quintianus mengancam akan menangkap Agatha karena ia adalah seorang Kristen.
Persekusi Decius
Dilansir dari Franciscan Media, Roma pada saat itu dikuasai oleh Kaisar Decius dan ia melakukan persekusi terhadap para umat Kristen pada saat itu. Persekusi ini disebut Persekusi Decius (250-253).
Quintianus tidak hanya memiliki posisi diplomat, tapi juga bekerja sebagai hakim pada saat itu. Mengetahui bahwa Agatha adalah seorang Kristen, ia mengancam akan menangkapnya apabila ia tidak menikahinya.
Karena Agatha terus menolak, Quintianus menangkap Agatha atas tuduhan beragama Kristen. Agatha kemudian disiksa dan dikirim ke rumah bordil.
Setelah menghabiskan waktu di rumah bordil, Quintianus mengira Agatha akan menyerah dan melepas kepercayaannya. Tapi yang terjadi malah kebalikannya, iman Agatha makin menguat.
Agatha dikirim kembali ke rumah bordil, dan setelah beberapa lama ia kembali diinterogasi dan dipaksa untuk melepaskan keyakinannya. Setelah gagal lagi, ia dikirim ke penjara untuk disiksa.
Penyiksaan
Dikisahkan Agatha mengalami penyiksaan yang sangat kejam dan tidak manusiawi. Tidak hanya dipecut dan dipukuli, Agatha disiksa dengan berbagai alat.
Kedua tangan dan kakinya diikat dan ditarik sekuat mungkin dengan kail besi. Lalu tubuhnya dibakar dengan api dan dipecuti.
Kemudian Agatha mengalami penyiksaan terkejam, kedua payudaranya dipotong. Setelah itu, ia ditahan di penjara tanpa diberi makan maupun pemeriksaan medis.
Namun, Agatha mengalami sebuah penglihatan. Ia melihat Rasul Petrus datang untuk menghiburnya dan mengobati luka-lukanya.
Empat hari kemudian, Quintianus, tanpa menyadari luka-luka yang sembuh di tubuh Agatha, memerintahkan agar Agatha ditelanjangi dan digulingkan di atas bara panas. Agatha masih selamat dari penyiksaan.
Agatha kembali ke selnya di penjara dan di sana ia menghembuskan napas terakhirnya. Agatha dipercaya meninggal pada tahun 251.
Hanya Legenda
Dilansir dari New Advent, walaupun kemartiran Santa Agatha telah dibuktikan kebenarannya, hingga saat ini kita tidak memiliki informasi jitu mengenai kematiannya.
Kemartiran Agatha dicatat dalam dua versi, Latin dan Yunani, dimana kedua catatan itu menyebutkan informasi yang berbeda, serta tidak memiliki bukti.
Walaupun ada unsur kebenaran atau fakta dalam kisah tersebut, ia tidak bisa dipisahkan dari berbagai tambahan yang muncul kemudian. Selain itu, naskah berbahasa Latin yang menceritakan kisah Agatha seperti yang kita ketahui sekarang diperkirakan berasal dari abad keenam.
Warisan
Sekarang Santa Agatha dikenang sebagai pelindung Sisilia, penderita kanker payudara, korban pemerkosaan, dan ibu susu.
Santa Agatha juga diyakini sebagai perantara doa yang ampuh saat orang-orang tertimpa musibah kebakaran.