← Beranda
Mengenal Santo Maximilian Kolbe (1894-1941): Melarikan Diri dari Kekaisaran Rusia, Tertangkap oleh Nazi dan Mengorbankan Diri di Auschwitz
Alberta Dionny NatanuelRabu, 15 April 2026 | 22.32 WIB
Potret foto (kiri) dan lukisan (kanan) Santo Maximilian Kolbe (stmaximiliankolbechurch.com)

JawaPos.com - Perang menyebabkan kematian bagi banyak sekali orang, entah mereka bersalah atau tidak. Senjata tidak dapat melihat kepada siapa mereka digunakan, dan tidak dapat menghentikan siapa pelakunya. 

Yang bisa dilakukan oleh para korban adalah lari untuk melindungi diri mereka atau secara sukarela menjadi perisai untuk melindungi korban lainnya. 

Perang Dunia II menjadi pengingat sebuah aksi genosida oleh sebuah grup politik terhadap grup etnis Yahudi di Eropa. Tidak terhitung seberapa banyak korbannya dan beberapa nama juga terlupakan.

Tapi Gereja Katolik mengingat Santo Maximilian Maria Kolbe, seorang martir yang terbunuh di balik dinding Auschwitz pada usia sangat muda, dan menjadikannya pelindung para tahanan.

Baca Juga: Mengenal Santo Thomas Aquino (1224-1274): Hanya Ingin Hidup Mengabdi kepada Dunia Pendidikan Katolik

Kehidupan Awal

Dilansir dari Gereja Santo Maximilian Kolbe, beliau terlahir dengan nama Raymund Kolbe pada tanggal 8 Januari 1894, di Zdunska Wola, Polandia. Pada saat itu Polandia masih berada di bawah kekuasaan Kaisar Russia. 

Ia berasal dari keluarga miskin. Ayahnya orang Jerman dan ibunya orang Polandia. Pada tahun 1914 ayahnya ditangkap dan digantung atas tuduhan pemberontakan untuk kemerdekaan Polandia. 

Dilansir dari Kolbe Shrine, ketika ia berusia 10 tahun Raymund mendapatkan sebuah penglihatan. Ia melihat Sang Perawan Maria menampakkan diri kepadanya dan menawarkan dua mahkota simbolis: mahkota putih kesucian dan mahkota merah kemartiran. Raymund memilih keduanya. 

Raymund bergabung dengan Ordo Fransiskan pada usia 16 tahun bersama saudaranya, Francis. Untuk memasuki biara, mereka harus menyelundupkan diri ke dalam kereta gerobak jerami ke perbatasan Austria dan Polandia. 

Ada pula sumber lain yang mengatakan bahwa ia bergabung ke Seminari Fransiskan di Lwow pada usia 13 tahun. 

Pada tahun 1910, ia mendapatkan nama Maximillian dan diterima sebagai calon biarawan. Ia mengucapkan kaul terakhirnya sebagai biarawan pada tahun 1914. 

Setelah tinggal sebentar di Krakow, Polandia, ia pergi belajar di Roma, Italia. Di sana ia mendapatkan gelar doktor filsafat di Universitas Kepausan Gregorian pada tahun 1915. Lalu tahun 1919, ia mendapatkan gelar doktor teologi di Universitas Santo Bonaventura. 

Maximilian ditahbiskan sebagai imam setelah menyelesaikan studinya dan kembali ke Polandia yang baru merdeka pada tahun 1919. Ia menetapkan di Biara Niepokalanow, dekat Warsawa. 

Tentara Maria

Selama menjadi imam, Maximilian sering bergerak demi pertobatan orang berdosa dan musuh Gereja Katolik. 

Selama tinggal di Roma, ia sering menyaksikan protes dan demonstrasi dari kaum Freemason terhadap Vatikan. Ia berdevosi kepada Perawan Maria dan menjadi peserta aktif Militia Immaculata, Tentara Maria. 

Maximilian sering membantu para biarawan Immaculata menerbitkan pamflet-pamflet bermutu, buku-buku dan surat kabar harian - Malu Dziennik. 

Majalah bulanan tersebut berkembang hingga memiliki sirkulasi lebih dari satu juta eksemplar dan disegani oleh kalangan umat Katolik di Polandia. 

Maximilian memperoleh lisensi radio dan menyiarkan pandangannya tentang agama secara publik. Ia menjadi salah satu yang berhasil menggunakan teknologi terkini untuk menyebarkan pesannya. Ia juga menggunakan korban dan majalah untuk menyebarkan esai dan Doa Perawan Maria. 

Di Jepang

Pada tahun 1930, Maximilian sempat mengunjungi Jepang sebagai misionaris. Ia mendirikan sebuah biara di pinggiran Nagasaki. 

Lokasi tempat biara ini berdiri dikelilingi gunung tinggi. Walaupun tempat biara ini berdiri cukup aneh, ia selamat dari serangan bom atom berkat gunung tersebut. 

Maximilian juga sempat berdialog dengan para pendeta Buddhis lokal, bahkan membangun pertemanan bersama mereka. Ia kembali ke Polandia pada tahun 1938 karena terkena tuberkulosis.

Perang Dunia II

Dilansir dari Franciscan Media, pada tahun 1939, tentara Nazi menjajah Polandia dengan kurun waktu sangat cepat. Niepokalanów hancur akibat bom, dan Maximilian bersama biarawan lainnya ditahan selama tiga bulan. 

Pada tahun 1941, Maximilian ditahan lagi oleh Nazi. Mereka hendak melikuidasi orang-orang terpilih, yaitu para pemimpin. Ia ditahan di Auschwitz dengan kode nomor 16670 hingga akhir hayatnya, mengalami penyiksaan dan cemooh. 

Suatu hari tiga tahanan lepas, lalu komandan pemimpin mengumumkan bahwa sepuluh orang harus mati. Komandan memilih secara asal. 

Ketika sepuluh orang itu digiring ke bunker hukuman mati kelaparan, Maximilian maju untuk menyerahkan dirinya demi orang lain yang memiliki keluarga. 

Maximilian ditanyai siapa dia, dan ia menjawab bahwa ia seorang imam katolik. Komandan keheranan namun dengan senang hati menariknya menggantikan satu orang tersebut. Ia adalah Sersan Francis Gajowniczek. 

Di bungker, bersama sepuluh orang ia ditelanjangi dan dibiarkan mati kelaparan di kegelapan. Maximilian dikabarkan selamat bersama tiga orang lainnya. Ia ditemukan berdoa dipojokan. 

Tentara Nazi memberikan racun asam karbolat. Mereka kemudian membakar tubuhnya bersama jasad-jasad lainnya. 

Ada dokumentasi lain yang mengatakan bahwa Maximilian kemungkinan meninggal akibat dehidrasi dan kelaparan. 

Menjadi Santo

Maximilian dibeatifikasikan sebagai Pengaku Iman pada tahun 1971. Lalu dikanonisasikan sebagai martir oleh Paus Yohanes Paulus II pada tahun 1981. 

Sersan Francis Gajowniczek selamat dari penderitaannya di Auschwitz dan menghadiri kanonisasi Maximilian pula. 

Santo Maximilian Maria Kolbe sekarang dikenang sebagai pelindung pecandu obat, tahanan, narapidana, keluarga, jurnalis, operator radio dan orang-orang dengan gangguan makan. 

Baca Juga: Mengenal Santo Honoratus (500-600): Dari Anak Bangsawan hingga Menjadi Pelindung Para Tukang Roti

EDITOR: Candra Mega Sari