← Beranda
Kreativitas Anak Muda Menjadi Caregiver Para Lansia di RPTRA Nirmala Sunter
Muhammad RidwanSabtu, 22 November 2025 | 17.15 WIB
Sejumlah lansia saaat mengikuti pelatihan menjahit . Pelatihan ini salah satu bagian program

 

JawaPos.com - Suasana hangat terasa di Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Nirmala, Sunter, Jakarta Utara, pada Jumat (21/11) siang. Sejumlah anak muda tampak semangat menemani hingga mengajari para lansia memperoleh pengetahuan, kesehatan, hingga kemandirian dalam menjalani kehidupan.

Adalah Mohamad Irwanto, 30, salah satu caregiver yang kerap memberdayakan para lansia di RPTRA Nirmala, melalui program Sekolah Lansia.

Mohamad Irwanto menjelaskan, program Sekolah Lansia yang diampunya bersama sejumlah koleganya berjalan konsisten sejak 2021. Program ini secara khusus diperuntukkan bagi lansia dan menjadi ruang aman bagi mereka untuk belajar dan bertemu teman sebaya.

"Kegiatan kita itu di setiap Jumat pagi, ada kegiatan pembinaan lansia,” kata pria yang karib disapa Irwan kepada JawaPos.com.

Menurut Irwan, program tersebut awalnya diinisiasi oleh pemerintah yang fokus pada kesejahteraan perempuan dan anak. Ia merasa senang, aktivitas itu telah meluas menjadi wadah inspiratif bagi para peserta, agar tetap aktif dan sehat secara mental maupun fisik.

“Peserta diperuntukan lansia, dan itu awal mula dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak, BKKBN, kegiatan ini sudah berjalan sejak 2021,” jelasnya.

Irwan menjelaskan, Sekolah Lansia di RPTRA Nirmala kini sudah berlalu lima angkatan, sehingga banyak diminati oleh para usia lanjut. Menurutnya, para lansia diberi pelatihan selama satu semester atau enam bulan, yang diujungnya akan ada seremonial wisuda.

“Jadi sekarang itu sudah ada sampai lima angkatan, ya untuk saat ini. Jadi kegiatan ini kan durasinya itu per semester itu enam bulan, di enam bulan itu puncaknya itu kita ada kenangan berupa wisuda,” ucapnya.

Menariknya, sekolah ini memiliki struktur organisasi layaknya lembaga pendidikan sungguhan. Ada pembina, kepala sekolah, hingga bagian fasilitator yang bertugas mendampingi seluruh aktivitas pembelajaran. 

“Bagi saya ini, bertugas sebagai fasilitator di kegiatan itu berjalan memfasilitasi, kita juga termasuk dalam struktur organisasinya di Sekolah Lansia,” tuturnya.

Perannya bukan hanya teknis, tetapi juga membangun kedekatan emosional dengan para lansia. Jumlah peserta pun terus bertambah seiring waktu. Saat ini, Sekolah Lansia telah menampung ratusan lansia yang aktif mengikuti kegiatan.

“Saat ini sampai di lima angkatan, ini kurang lebih ada 150-an yang aktif. Di berbagai wilayah administrasi Jakarta itu ada, di Jakarta Utara ini salah satunya yang pertama di RPTRA Nirmala ini di Sunter,” ungkapnya.

Meski begitu, Irwan tidak menampik adanya tantangan dalam menjalankan program ini. Ia menceritakan bahwa kondisi kesehatan dan kemampuan para lansia dalam menerima informasi menjadi perhatian khusus para pendamping.

“Kendala mungkin, dari beberapa lansia keterbatasan untuk menerima informasi agak lama menangkap pelajaran gitu, selebihnya aman,” ucapnya.

Di balik semua tantangan itu, Irwan menilai para lansia justru dapat menjadi individu yang mandiri dan inspiratif bagi sesama. Mereka belajar kesehatan, kemandirian, hingga kemampuan memimpin kelompok kecil dalam kegiatan.

“Banyak aktivitasnya, dia juga diperuntukan bisa memfasilitasi kegiatan juga bagi yang sudah lama kan, bisa mengarahkan kepada yang baru,” ujarnya.

Lebih lanjut, dukungan pemerintah sangat penting untuk keberlanjutan program. Bahkan, setiap kegiatan para peserta yang umumnya lansia mendapatkan makanan ringan selama kegiatan berlangsung.

“Pemda DKI sangat mendukung, setiap kegiatan ada support seperti snack untuk para lansia,” urainya.

Sejumlah lansia saat mengikuti program
Sejumlah lansia saat mengikuti program

Konsep Caregiver Kerap Disalahpahami

Pegiat kelanjutusiaan Adhi Santika, menilai bahwa peran caregiver penting bagi sistem layanan sosial dan kesehatan. Penguatan caregiver dinilai penting karena peran caregiver semakin krusial dalam mendampingi lansia, penyandang disabilitas, serta pasien yang membutuhkan dukungan perawatan sehari-hari.

Menurutnya, konsep caregiver masih kerap disalahpahami masyarakat, termasuk oleh instansi pemerintah. Banyak pihak menganggap caregiver hanya berkaitan dengan pekerjaan medis, padahal cakupannya lebih luas dan membutuhkan keahlian khusus. 

“Caregiver itu bukan perpanjangan tenaga kesehatan. Ini profesi dengan kualifikasi dan kompetensi kelas nurse plus. Caregiver itu bagian integral dari sistem pelayanan, bukan sekadar bantuan domestik,” ucap Adhi.

Ia menegaskan, layanan perawatan melibatkan empat subsistem utama, yaitu penerima layanan, pemberi layanan, materi layanan, dan standar kompetensi. Kesalahan dalam memaknai keempat subsistem tersebut membuat negara kerap menyamaratakan kebutuhan penerima layanan.

“Ada empat kuadran penerima kaya-sehat, kaya-sakit, miskin-sehat, dan miskin-tidak sehat. Semua butuh caregiver, tetapi dengan pendekatan berbeda,” tuturnya.

Andhi juga menyoroti belum kuatnya pelatihan serta standar kompetensi caregiver yang berlaku saat ini. Ia pun mengkritik Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) yang disusun Kementerian Ketenagakerjaan karena dinilai tidak sesuai dengan kebutuhan riil di lapangan.

“Pelatihan caregiver kita sering hanya kejar sertifikat. Padahal ada 13 kompetensi inti yang wajib dilindungi undang-undang. SKKNI perlu direvisi, tetapi sudah dua tahun tidak diperbaiki,” pungkasnya. 

EDITOR: Kuswandi