← Beranda
4 Pelajaran Penting dari Peristiwa Isra Miraj, Salah Satunya Masih Umat Muslim Rasakan hingga Sekarang
Achmad AsroriSenin, 5 Februari 2024 | 20.13 WIB
Masjid Al-Aqsa Palestina, saksi sejarah Isra Miraj/MuslimSG

 

JawaPos.com - Isra Miraj merupakan dua bagian perjalanan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad dalam waktu satu malam.

Peristiwa Isra Miraj merupakan salah satu kejadian penting yang wajib diteladani bagi umat Islam.

Sebab, pada peristiwa inilah Nabi Muhammad SAW mendapat perintah untuk menunaikan salat lima waktu sehari semalam.

Seperti diketahui, Isra Miraj diperingati setiap tanggal 27 Rajab tahun Hijriah.

Isra adalah perjalanan malam dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjid Al-Aqsa di Yerusalem, sedangkan arti Miraj adalah perjalanan dari Masjid Al-Aqsa menuju surga.

Perjalanan penting ini berdampak langsung pada kehidupan kita sehari-hari sebagai umat Islam dimana Nabi Muhammad SAW, iperintahkan untuk menyampaikan kepada para pengikutnya untuk mendirikan shalat lima waktu, yang pada hakikatnya membentuk Rukun Islam.

Selain perintah mendirikan shalat, dilansir dari MuslimSG, ada beberapa hikmah lain yang dapat kita petik dari peristiwa penting dalam tradisi Islam ini:

1. Percaya akan kemungkinan ketidakmungkinan

Kisah Isra Miraj adalah tentang hal yang mustahil menjadi mungkin. Peristiwa itu sendiri secara fisik mustahil terjadi, di luar imajinasi orang-orang pada masa itu.

Bahkan saat ini, perjalanan dari Makkah ke Yerusalem memakan waktu lebih dari 2 jam dengan pesawat dan dibutuhkan lebih dari satu hari untuk melakukan perjalanan ke luar angkasa.

Kisah Isra Miraj mungkin terdengar fiktif. Namun, kita perlu meyakininya dengan hati bahwa hal itu mungkin terjadi karena Allah SWT, disebutkan dalam Al-Quran tentang peristiwa yang ditunjukkan sebagai bagian dari tanda-tanda-Nya:

 

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِ هِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَ اتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

 

Maha Suci dia (Allah) yang membawa hambanya pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjid Al-Aqsa, yang lingkungannya kami berkahi, untuk menunjukkan kepadanya tanda-tanda Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (Surat Al-Isra': 1)

Isra dan Miraj adalah sebuah perjalanan spiritualitas dimana kita harus beriman kepada Allah, janji Allah dan melihat sekilas apa yang dikendalikan Allah dan apa yang ada di luar tempat kita tinggal.

Hal ini juga mencerminkan indahnya memiliki niat yang murni dan berjuang keras.

Kita perlu memiliki niat murni dalam melakukan yang terbaik bagi umat manusia dan bukan hanya demi pemenuhan diri sendiri. Allah SWT, disebutkan dalam Al-Quran tentang berjuang keras dalam melakukan yang terbaik, dan juga memiliki niat murni untuk berjuang untuk yang terbaik:

 

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِ هِمْ ۗ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ ۚ وَمَا لَهُ مِّن دُونِهِ مِن وَالٍ

 

Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki suatu kaum sakit, maka tidak ada penolakan. Dan tidak ada pelindung bagi mereka selain dia (Allah) (Surat Ar-Rad:11).

2. Setiap kesulitan pasti ada kemudahan

Isra Miraj mengajarkan manfaatkan bahwa disetiap kesulitan pasti ada kemudahan.Perjalanan Isra’ dan Miraj terjadi setelah masa yang disebut dengan ‘Tahun Kesedihan’.

Tahun itu adalah tahun dimana paman Nabi Muhammad s.a.w, Abu Thalib dan istri tercintanya, Siti Khadijah r.a. Tahun ini juga merupakan tahun ketika Nabi Muhammad s.a.w. melakukan perjalanan ke Thaif dengan tujuan memenangkan hati masyarakat untuk menerima pesannya.

Namun, Nabi Muhammad s.a.w ditolak dan masyarakat Taif mengganggunya serta melemparkan batu ke arahnya sebagai tanda tidak menyambutnya.

Lelah, ditinggalkan dan terluka, keimanan Nabi Muhammad s.a.w kepada Allah tak pernah goyah, meski tantangan tak tertahankan. Alih-alih membalas dendam, ia berdoa bukan hanya untuk masyarakat Taif tapi juga untuk keturunan mereka.

Allah SWT, lalu menghadiahinya dengan perjalanan menakjubkan yang terangkum sempurna dalam Al-Qur'an:

“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”Surat al-Insyirah:5-6.

Allah SWT, mengambil Nabi Muhammad s.a.w. ke hadirat-nya untuk menguatkan dan mempersiapkannya menghadapi fase kenabian yang penuh tantangan.

Allah SWT menunjukkan kepada Nabi Muhammad s.a.w kekuasaan dan perintahnya, setelah itu Nabi Muhammad s.a.w. kembali ke bumi dengan lebih tenang dan lebih bersandar kepada Allah s.w.t.

3. Persahabatan sejati yang penuh kesulitan dan keyakinan yang tak tergoyahkan satu sama lain

Isra Miraj menunjukkan kepada kita persahabatan antara Nabi Muhammad dan Abu Bakar. Pada hari setelah Isra’ dan Miraj, Nabi Muhammad s.a.w. menceritakan kisah itu kepada sepupunya Ummu Hani.

Ummu Hani terkejut dan menceritakan kepada Nabi Muhammad s.a.w. untuk tidak memberi tahu orang lain karena mereka tidak akan percaya padanya.

Nabi Muhammad s.a.w. meninggalkan rumah dan menemui Abu Jahal untuk menceritakan kisah perjalanannya. Abu Jahal mengajak masyarakat Makkah untuk mendengarkan kisah Nabi Muhammad s.a.w. masyarakat terkejut dan tidak percaya dengan ceritanya.

Sebagian dari mereka pergi ke Abu Bakar r.a. dan memberitahunya bahwa Nabi Muhammad s.a.w. mengaku bahwa dia pergi ke Masjid Al-Aqsa dan menunaikan shalat di sana, dan kembali ke Makkah dalam satu malam.

Masyarakat beranggapan bahwa Abu Bakar r.a. akan memberikan reaksi yang sama dan meninggalkan Nabi s.a.w.

Namun, setelah mendengar hal itu, Abu Bakar r.a. langsung berkata ‘saya percaya’. Dia tidak mempertanyakan Nabi Muhammad s.a.w. atau ragu apakah dia mengatakan yang sebenarnya.

Abu Bakar r.a. mengetahui watak dan akhlak Nabi s.a.w yang sebenarnya sebagai Al-Amin, Yang dapat dipercaya. Ciri-ciri Nabi Muhammad s.a.w terangkum secara apik dalam Al-Quran:

 

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَ رْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

 

“Sesungguhnya pada diri Rasulullah telah ada teladan yang baik bagimu bagi siapa saja yang berharap kepada Allah dan hari akhir serta sering-sering mengingat Allah.”(Surat Ahzab:21).

Betapa indahnya persahabatan mereka, Abu Bakar menunjukkan kepada kita apa artinya menjadi sahabat sejati dan bagaimana memiliki Iman (kepercayaan) kepada Allah dan Nabi-Nya, bahkan dengan kata-kata tanpa melihatnya dengan mata.

4. Keringanan yang diberikan Allah SWT

Isra Miraj menunjukkan pentingnya perintah shalat. Sholat lima waktu merupakan salah satu anugerah Allah SWT kepada kita.

Umumnya, perintah kepada umat Islam disampaikan kepada Nabi Muhammad s.a.w. melalui Jibril. Namun, Isra Miraj menunjukkan begitu pentingnya shalat sehari-hari sehingga Nabi Muhammad s.a.w. diangkat ke surga untuk berbicara langsung kepada Allah.

Saat Rasulullah pertama kali bertemu Allah SWT Allah memerintahkan agar umat Islam shalat lima puluh kali sehari. Namun Nabi Musa a.s. menasehatinya untuk bernegosiasi untuk mengurangi jumlah shalat sehari.

Nabi Muhammad s.a.w. kembali kepada Allah s.w.t untuk berunding beberapa kali sebelum jumlah shalat dikurangi menjadi lima waktu dalam sehari namun dengan pahala shalat 50 kali sehari. Proses perundingan mencerminkan rahmat Allah dan kecintaan Nabi Muhammad s.a.w kepada kita yang juga tercermin dalam hadits ini:

“Ketika aku (Muhammad s.a.w.) kembali kepada Musa a.s, dia berkata, ‘Apa yang diperintahkan kepadamu?’ Aku menjawab, ‘Aku diperintahkan untuk melaksanakan shalat lima waktu.’ Dia berkata, ‘Pengikutmu tidak dapat melaksanakan shalat lima waktu, dan Sesungguhnya aku telah mempunyai pengalaman dari orang-orang sebelum kamu, dan aku telah berusaha semaksimal mungkin bersama Bani Israel, maka kembalilah kepada Allah dan mintalah pengurangan untuk meringankan beban pengikutmu.' Aku berkata, 'Aku sudah memintanya. banyak kepada Allah yang membuatku malu, namun sekarang aku merasa puas dan pasrah pada Perintah Allah.’ Ketika aku pergi, aku mendengar suara yang mengatakan, ‘Aku telah menjalankan Perintah-Ku dan telah meringankan beban para Penyembah-Ku.” (Shahih Al-Bukhari)

Perjalanan mukjizat Isra’ Mi'raj sungguh mempunyai hikmah penting yang relevan dan tepat waktu untuk kita internalisasikan dan amalkan. Hikmahnya juga menunjukkan kemurahan hati dan rahmat Allah yang tiada batasnya kepada seluruh ciptaannya.

Allah menghendaki kemudahan bagi kita, bukan kesulitan. Allah tidak berusaha membebani hamba-hamba-Nya. Shalat atau ibadah harian kita dimaksudkan untuk memberi manfaat bagi kita dan bukan untuk Allah, itu adalah kontak dan komunikasi langsung kita dengannya.

Dari 24 jam sehari, kita hanya diminta meluangkan beberapa menit sepanjang hari untuk fokus hanya kepada Allah. Bayangkan jika kita tetap harus berdoa 50 kali sehari, bisakah kita melakukannya?

Semoga Allah memperkenankan kita beristiqamah dan menuntun kita dari dosa menuju ampunan, dari kegelapan menuju cahaya, dari ketakutan menuju kepercayaan, dan dari kebencian menuju cinta.

 
***
EDITOR: Novia Tri Astuti