← Beranda
Pemuda Boleh Ambisius, tapi Jangan Salah Perhitungan
AdministratorSabtu, 28 Oktober 2017 | 18.35 WIB
Bagas Gumilang pemilik Barbershop Hunky Dory

JawaPos.com - Kisah inspiratif bagi anak muda bisa dengan meneladani kesuksesan Bagas Gumilang, pemilik usaha cukur rambut Barbershop Hunky Dory di Bogor, Jawa Barat. Usianya masih muda, kelahiran 31 Oktober 1994. Pemuda 23 tahun itu sudah memiliki 8 cabang di beberapa kota dari mulai Bogor, Bandung, Bekasi, dan Makassar.


Ketika Presiden Joko Widodo (Jokowi) memilih usaha cukurnya untuk potong rambut, nama Hunky Dory makin melejit. Alumnus SMAN 1 Bogor di angkatan tahun 2012 memang sudah suka berbisnis. Dimulai dari kesenangannya mengambil foto-foto hewan ternak di peternakan di Bogor untuk dijual kepada konsumen. Pada akhirnya dia jadi menyenangi usaha penjualan ternak hewan kurban setiap kali Idul Adha. Bagas juga sempat membuat usaha warung tenda.


Lantas saat di kuliah di Institut Pertanian Bogor (IPB), jurusan peternakan, pada 2014 Bagas melihat adanya peluang dan kebutuhan usaha cukur kelas premium dan kekinian di Bogor. Realitasnya, lokasi cukur skala premium belum ada di Bogor, sehingga peluang itu tak disia-siakannya.


“Saat itu saya bikin karena tak ada barbershop yang kekinian. Kalaupun ada masih jauh ke Jakarta atau ke Depok. Lalu akhirnya booming, sampai 2015 saya jadi juara 1 kompetisi barber tingkat nasional,” tutur pemuda yang hobi travelling ini.


Tahun 2016 dan 2017 merupakan masa-masa laris bagi Hunky Dory, sehhingga dia memperluas cabang ke sejumlah kota. Lalu nama Hunky Dory semakin cemerlang ketika Presiden Jokowi datang cukur rambut. Bahkan, orang nomor satu di negara ini membuat vlog dan menjadi viral.


“Hunky Dory di Jalan Salak adalah cabang pertama, lalu bikin cabang yang selanjutnya. Pada 2017, datang Pak Jokowi jadi booming lah,” ungkapnya tertawa.


Diakui Bagas, sebetulnya dia tak terlalu jago dalam mencukur. Namun, keberhasilan yang dimiliki karena memiliki jaringan cukup luas dengan menggandeng banyak teman. Upaya itu membuat bisnis Hunky Dory mencapai kesuksesannya hingga kini.


“Sampai sekarang cukur itu engga terlalu bisa. Tapi karena melihat market di Bogor namanya pengusaha lihat suatu permasalahan, lihat satu kebutuhan. Untuk bisa memenuhi kebutuhan konsumen. Awalnya saya punya 2 karyawan, sekarang punya 30 lebih di usia saya yang baru hampir 23 tahun,” ungkap anak kedua dari empat bersaudara ini.


Membangun usaha bukan sesuatu yang mudah. Terbukti Bagas pun pernah mengalami kegagalan. Bisnisnya naik turun di rentang 2015 menuju 2016. Dia membuat perhitungan yang salah dengan terlalu terburu-buru mengemban bisnis. Hal itu berdampak pada usahanya yang nyaris bangkrut. Bagas sempat rugi hingga ratusan juta.


“Saya berada di titik terendah, hampir bangkrut kolaps saat itu karena terlalu ambisius namanya juga anak muda. Saat itu lagi sepi, salah perhitungan, bangun project tapi gagal. Padahal saat itu sudah punya cabang ketiga,” tuturnya.


Namun Bagas tak mudah menyerah. Dia membangun dan bangkit lagi hingga kini semakin sukses. Bagi Bagas, cukur rambut sama dengan bisnis kopi atau pakaian yang sudah menjadi gaya hidup. Selain cukur, Hunky Dory juga memberikan jasa layanan pewarnaan, smoothing, tato rambut, dan cukur untuk anak atau kiddy cut.


“Kami yakin karena pria pasti idealnya tiap dua minggu sekali pasti cukur. Kami utamakan layanan yang terbaik,” ujarnya.


Keberuntungan semakin diraihnya saat Presiden Joko Widodo dan putra bungsunya Kaesang Pangarep singgah untuk cukur. Berawal dari kepopuleran Hunky Dory di media sosial, Kaesang mengajak ayahnya untuk cukur. Tak tanggung-tanggung, sejak didatangi Presiden Jokowi, pelanggan meningkat dua kali lipat.


“Sebelum didatangi Pak Jokowi memang Hunky Dory sudah jadi trendsetter di Bogor. Sejak Pak Jokowi datang, jadi dua kali lipat pengunjung meningkat. Tetapi tentu bukan hanya dari volume ya, tapi kami tingkatkan juga dari sisi branding bahwa sampai kepala Pak Presiden pun kami tangani. Dan Pak Jokowi pengiklan yang baik,” katanya bercanda.


Bagas bisa menjadi sosok pemuda sukses dalam momentum Sumpah Pemuda. Menurutnya, kebanyakan anak muda biasanya mengalami dua sindrom saat ingin memulai usaha, pertama adalah takut memulai dan kedua, takut gagal. Padahal dua hal itu adalah paling pantangan dalam bisnis.


“Ketika buka bisnis, saya harus siap ketika suatu saat gagal. Bisnis ibarat perang, bangun strategi, bangun pasukan,” jelasnya.


Bagas juga berharap anak muda bisa berbuat positif untuk bangsa, bukan larut dalam hal negatif. Persatuan bangsa, kata dia, bisa tercipta ketika pemudanya berkarya dan bersatu membangun bangsa.


“Ketika dulu pemuda masih berjuang gunakan bambu, air mata, dan darah, kita kaum milenial lebih mudah saat ini tapi lebih berat saingannya. Bung Karno pernah berpesan, kalian akan mengalami saat di mana melawan bangsa sendiri. Ketika pemuda tak bisa bersatu, tak saling menggandeng, kehancuran sudah di depan mata. Indonesia butuh sosok pemuda yang bukan mencaci-maki tetapi berkarya,” tegas Bagas.

EDITOR: Administrator