← Beranda
khutbah Idul Fitri Tentang “Menjaga Fitrah Diri Setelah Ramadhan Berlalu" 
Abdul RahmanRabu, 18 Maret 2026 | 21.18 WIB
Ilustrasi Khutbah Lebaran.

 

JawaPos.com - Hari Raya Idul Fitri merupakan hari yang sangat membahagiakan bagi umat Islam di seluruh dunia. 

Bukan karena mengenakan pakaian bagus dan indah serta aneka makanan yang memanjakan lidah, tapi karena berhasil mengendalikan hawa nafsu selama satu bulan penuh dan melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan.

Lebaran Idul Fitri bagi umat Islam memiliki makna penting sebaga simbol kemenangan dalam melawan hawa nafsu.

Oleh karena itu, mengisi hari kemenangan harus dilakukan terus menerus dengan menebar kebaikan setelah Ramadhan.

Baca Juga: 8 Ide Hampers Lebaran Murah Tapi Terlihat Mahal, Cocok untuk Teman dan Keluarga

Berikut khutbah Idul Fitri mengusung tema “Menjaga Fitrah Diri Setelah Ramadhan Berlalu", karya ustadz Abdul Karim Malik, Alumni Al-Falah, Ploso Kediri sekaligus Pengurus LBM PCNU Kabupaten Bekasi, dilansir dari NU Online.

Khutbah I 

اَللَّهُ أَكْبَرُ ٣×. اَللَّهُ أَكْبَرُ ٣×. اللهُ أَكْبَرُ٣×. اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا.  لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ. اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ. الحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ حَرَّمَ الصِّياَمَ أَيّاَمَ الأَعْياَدِ ضِيَافَةً لِعِباَدِهِ الصَّالِحِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلٰهَ إِلاَّاللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ الَّذِيْ جَعَلَ الجَّنَّةَ لِلْمُتَّقِيْنَ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ االدَّاعِيْ إِلىَ الصِّرَاطِ المُسْتَقِيْمِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَباَرِكْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّـدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحاَبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَآ أَيُّهَا المُؤْمِنُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ. وَاتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقاَتِهِ وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.  قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى:  بِسْمِ اللّٰهِ الرّٰحْمَنِ الرّٰحِيْمِ، وَالْعَصْرِ إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِیْنَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ 

Hadirin jamaah Idul Fitri rahimakumullah.

Alhamdulillah, tak terasa bulan Ramadhan telah berlalu begitu cepat meninggalkan kita. Rasanya baru kemarin kita menyambutnya dengan penuh suka cita, dan hari ini kita telah berada di bulan Syawal. 

Semoga seluruh amal ibadah yang kita lakukan selama Ramadhan diterima oleh Allah SWT, dan semoga segala dosa kita diampuni oleh-Nya.

Dalam suasana kemenangan yang penuh berkah ini, khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan kepada seluruh jamaah sekalian: marilah kita senantiasa istiqamah dalam ketakwaan kepada Allah Ta’ala. 

Yaitu dengan terus menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Sebab ketakwaan itulah sebaik-baik bekal yang akan kita bawa untuk menghadap Allah Ta’ala kelak di hari kiamat. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: 

وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوْنِ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ

Artinya: “Berbekallah, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat.” (QS. Al-Baqarah: 197).

Hadirin jamaah Idul Fitri rahimakumullah.

Idul Fitri bukan sekadar seremonial belaka dan bukan pula hanya momen berkumpul dengan berbagai rangkaian acara. Lebih dari itu, Idul Fitri adalah simbol penyucian jiwa. Sebuah keadaan di mana hati kembali bersih, perasaan menjadi tenang, dan kita meraih kemenangan setelah melalui perjuangan yang nyata dan berat, yaitu perjuangan melawan hawa nafsu. 

Karena itu, sudah sepatutnya kita sebagai umat Islam menyadari makna kemenangan sejati di hari raya ini. Kemenangan tersebut bukan hanya tampak secara lahiriah, tapi juga kemenangan atas hawa nafsu, kemenangan karena dosa-dosa diampuni, serta kemenangan dalam mengendalikan emosi dan sifat-sifat negatif dalam diri kita. 

Dengan demikian, kemenangan sejati pada hari Idul Fitri bukan sekadar perayaan, melainkan perubahan diri seorang muslim menjadi pribadi yang lebih baik, lebih bersih hatinya, dan lebih dekat kepada Allah Ta’ala. 

Sebagaimana disampaikan oleh Syekh Abdul Hamid bin Muhammad bin ‘Aly bin Abdil Qadir al-Qudsi al-Makki asy-Syafi’i dalam kitab Kanzun Najah was Surur halaman 263 cetakan Darus Sanabil Damaskus: ‎

لَيْسَ الْعِيْدُ لِمَنْ لَبِسَ الْجَدِيْدَ، إِنَّمَا الْعِيْدُ لِمَنْ طَاعَاتُهُ تَزِيْدُ، وَكُلُّ يَوْمٍ لاَ يُعْصَى فِيْهِ فَهُوَ عِيْدٌ

Artinya: “Bukanlah disebut id (hari raya) bagi orang yang mengenakan (pakaian) baru, sesungguhnya id itu bagi orang yang ketaatannya bertambah, dan setiap hari yang tiada maksiat di dalamnya itulah id.”

Hadirin jamaah Idul Fitri rahimakumullah.

Hari raya memang patut kita rayakan. Namun, jangan sampai perayaan ini membuat kita terlena, hingga lalai dari kewajiban utama kita, yaitu tetap istiqamah dalam ketakwaan kepada Allah Ta’ala. 

Mari kita jaga konsistensi ketakwaan di hari kemenangan ini. Ketakwaan yang telah kita bangun selama bulan Ramadhan harus terus kita pelihara. Amal saleh yang telah kita lakukan hendaknya kita lanjutkan, dan hati yang telah dibersihkan perlu kita jaga sebaik-baiknya. 

Inilah momentum bagi kita untuk semakin menguatkan hubungan kita dengan Allah Ta’ala, sekaligus mempererat hubungan dengan sesama manusia. Jangan sampai kita justru terjerumus dalam kehinaan dengan memulai hari kemenangan ini dengan maksiat kepada Allah Ta’ala. 

Jangan sampai kita menyakiti sesama, apalagi menjadikan hari raya yang seharusnya penuh dengan suasana kekeluargaan, berubah menjadi ajang saling mencibir, bahkan memutus tali silaturahim. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: 

ضُرِبَتْ عَلَيْهِمْ الذِّلَّةُ أَيْنَمَا ثُقِفُوا إِلَّا بِحَبْلٍ مِنَ اللهِ وَحَبْلٍ مِنْ النَّاسِ

Artinya: “Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali hubungan kepada Allah dan tali hubungan dengan manusia.” (QS. Ali Imran: 112). 

Hadirin jamaah Idul Fitri rahimakumullah.

Oleh karena itu, hari ini seharusnya menjadi momentum bagi kita untuk menjaga komitmen sebagai hamba yang saleh, hamba yang tidak berubah hanya karena pergantian waktu dan suasana. Ketakwaan kita tidak berhenti di bulan Ramadhan, tapi terus berlanjut dalam setiap langkah kehidupan kita. 

Mari kita isi hari kemenangan ini dengan menebar kebaikan dan kasih sayang. Kita saling memaafkan, saling berkunjung untuk menjaga silaturahim, serta saling berbagi kebahagiaan dengan saudara, tetangga, dan sesama. 

Mari kita tebarkan kebaikan, meskipun tampak sederhana dan sepele. Dalam pandangan Allah, kebaikan sekecil apa pun memiliki nilai yang besar. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu sebagai berikut:   

عَنْ أَبِيْ ذَرٍّ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: "لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوْفِ شَيْئاً، وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ." أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ

Artinya: "Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh janganlah kamu memandang rendah suatu kebaikan pun, meski kamu sekadar bertemu saudaramu dengan wajah yang berseri-seri.” (HR. Muslim).   

Hadits tersebut menekankan agar seluruh umat muslim tidak meremehkan kebaikan walaupun terlihat sepele. Sebaliknya kita juga tidak boleh meremehkan kemaksiatan walaupun terlihat sepele. Sebagaimana sabda baginda Nabi Muhammad SAW: 

يَا ابْنَ آدَمَ لَا تَنْظُرْ إِلَى صِغَرِ الْمَعْصِيَةِ وَلَكِنْ انْظُرْ مَنْ عَصَيْتَ

Artinya: "Wahai anak Adam, janganlah kamu melihat kecilnya dosa, tetapi lihatlah siapa yang kamu langgar perintahnya (yaitu Allah)." (HR. Imam Malik). 

Bahkan amal yang terlihat kecil atau bahkan sepele bisa menjadi amal yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala. Rasulullah SAW bersabda:  

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

Artinya: “Amal (kebaikan) yang paling dicintai Allah adalah yang kontinu meski sedikit.” (HR. Muslim) 

Hadirin jamaah Idul Fitri rahimakumullah.

Marilah kita hiasi suasana hari raya Idul Fitri ini dengan menebar kebaikan kepada sesama. Jangan sampai hari kemenangan yang suci ini justru kita nodai dengan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat, apalagi perbuatan tercela yang merugikan diri sendiri maupun orang lain. 

Jangan pula suasana sakral penuh kekeluargaan di hari yang fitrah ini berubah menjadi ajang yang menimbulkan kesenjangan sosial, seperti gaya hidup berlebihan, pamer kemewahan, sikap saling menjatuhkan, atau keinginan berlebihan untuk mendapatkan pengakuan dari manusia. 

Mari kita jadikan hari ini sebagai kemenangan yang sejati: kemenangan dalam mengendalikan hawa nafsu, dengan terus menebar kebaikan dan menahan segala emosi negatif dalam diri kita. 

Demikian khutbah Idul Fitri pada hari ini. Semoga apa yang disampaikan membawa manfaat dan keberkahan bagi kita semua, serta menjadi sebab diterimanya seluruh amal ibadah kita selama bulan Ramadhan. Aamiin ya Rabbal ‘alamin. 

جَعَلَنَا اللهُ وَاِيَّاكُمْ مِنَ الْعَائِدِيْنَ وَالْفَائِزِيْنَ وَالْمَقْبُوْلِيْنَ كُلَّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ 

Khutbah II 

أَللهُ أَكْبَرُ (3x)، أَللهُ أَكْبَرُ (3x)، أَللهُ أَكْبَرُ  وَلِلهِ الْحَمْدُ. أَللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا، لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ. لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ الْحَمْدُ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ عَلىَ نِعَمِهِ الَّتِى لاَتُحْصَى وَلاَ تُحْصَرُ، وَنَشْكُرُهُ عَلىَ فَضْلِهِ وَإِحْسَانِهِ وَحَقٌّ لَهُ أَنْ يُشْكَرَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ الْبَرُّ الرَّحِيمُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الْمَنْعُوتُ بِالْخُلُقِ الْعَظِيمِ. صَلَّى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ أَفْضَلَ الصَّلَاةِ وَالتَّسْلِيمِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ، اتَّقُوْا اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالىَ، وَعَظِّمُوْا أَمْرَهُ وَاجْتَنِبُوْا نَهْيَهُ، ثُمَّ اعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِى، يَآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلٰيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلْاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ  اَللّهُمَّ أَعِزَّ الْاِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْن وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ. وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاَعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ اَللّهُمَّ أَصْلِحْ لَنا دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِيْ كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ. اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُلُوبِنَا وَأَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ. اَللّهُمَّ حَبِّبْ إلَيْنَا الْإيمَانَ وَزَيِّنْهُ فِي قُلُوْبِنَا وَكَرِّهْ إِلَيْنَا الْكُفْرَ وَالْفُسُوْقَ وَالْعِصْيَانَ. وَاجْعَلْنَا مِنَ الرَّاشِدِيْنَ. رَبَّنا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ 

 

EDITOR: Abdul Rahman