← Beranda
Jejak Islam di Tanah Sunda: Menyusuri Sejarah Masjid Agung Karawang yang Berdiri Sejak 1418
Rian AlfiantoRabu, 11 Maret 2026 | 22.24 WIB
Masjid Agung Karawang, Jawa Barat. Foto: YouTube/JourneytoMasjid

 

JawaPos.com - Bulan Ramadhan sering menjadi momentum bagi banyak orang untuk melakukan jelajah masjid bersejarah. Selain menjadi tempat beribadah, masjid-masjid tua di Indonesia juga menyimpan kisah panjang tentang penyebaran Islam dan peradaban masa lampau.

Di Jawa Barat, salah satu masjid yang tidak disangka bisa masuk dalam daftar tujuan wisata religi adalah Masjid Agung Karawang, yang juga dikenal sebagai Masjid Agung Syekh Quro.

Masjid ini diyakini sebagai masjid tertua di Jawa Barat, berdiri sejak tahun 1418 Masehi atau 838 Hijriah. Hingga kini, bangunan tersebut masih aktif digunakan sebagai pusat kegiatan keagamaan sekaligus saksi perjalanan sejarah Islam di tanah Sunda.

Awal Penyebaran Islam di Karawang

Merangkum berbagai sumber, sejarah Masjid Agung Karawang tak lepas dari peran seorang ulama dari negeri Champa bernama Syekh Hasanuddin bin Yusuf Sidik. Ia datang ke wilayah Karawang bersama para ulama lain seperti Syekh Abdurrahman dan Syekh Maulana Idhofi.

Misi mereka adalah menyebarkan ajaran Islam di wilayah Kerajaan Sunda Pajajaran yang saat itu masih didominasi oleh kepercayaan lokal dan Hindu-Buddha.

Pada masa itu, wilayah Karawang berada dekat dengan jalur perdagangan penting, terutama Pelabuhan Sundapura Pajajaran. Lokasi ini menjadikan kawasan tersebut sebagai tempat strategis untuk penyebaran agama dan budaya baru.

Masjid yang didirikan Syekh Quro awalnya tidak sebesar sekarang. Bangunannya sederhana, terbuat dari kayu dengan pondasi batu. Fungsi utamanya bukan hanya sebagai tempat shalat, tetapi juga sebagai pesantren awal untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada masyarakat sekitar.

Seiring waktu, tempat ini berkembang menjadi pusat pendidikan Islam dan tempat masyarakat setempat mempelajari agama.

Kisah Pernikahan Legendaris

Dalam tradisi lisan masyarakat setempat, Masjid Agung Karawang juga dikaitkan dengan kisah sejarah penting kerajaan Sunda.

Konon, tempat ini pernah menjadi lokasi pertemuan antara Raja Pajajaran, Prabu Siliwangi, dengan seorang perempuan muslim bernama Nyai Mas Subanglarang.

Nyai Mas Subanglarang dikenal sebagai salah satu perempuan bangsawan Sunda yang memeluk Islam. Kisah mereka menjadi salah satu legenda yang menandai awal perjumpaan antara kerajaan Sunda dengan ajaran Islam.

Meski kisah tersebut masih menjadi perdebatan di kalangan sejarawan, cerita ini tetap hidup dalam tradisi masyarakat Karawang hingga kini.

Berkali-kali Dipugar Sepanjang Sejarah

Masjid Agung Karawang telah mengalami beberapa kali renovasi besar sejak pertama kali berdiri.

Perluasan pertama terjadi pada tahun 1635 oleh Bupati Karawang pertama, Adipati Singaperbangsa. Pada masa itu, jumlah jamaah semakin meningkat sehingga masjid perlu diperbesar.

Renovasi berikutnya dilakukan pada tahun 1747 oleh Bupati keempat Karawang, Raden Mochamad Sholeh. Perbaikan kembali dilakukan pada tahun 1957 oleh Raden Tohir Mangku Dijoyo.

Memasuki era modern, renovasi dilakukan pada tahun 1994 oleh Bupati Karawang ke-20, Kolonel Czi. Sumarmo Suradi.

Perubahan terbesar terjadi pada 2017 ketika masjid direvitalisasi secara besar-besaran pada masa Bupati Cellica Nurrachadiana. Renovasi ini membuat wajah masjid tampak lebih megah tanpa menghilangkan nilai sejarahnya.

Pusat Peradaban Islam di Karawang

Meski telah berkali-kali diperbarui, sejumlah elemen bersejarah tetap dipertahankan. Salah satunya adalah kayu asli dari bangunan pertama tahun 1418, yang menjadi bukti fisik keberadaan masjid sejak abad ke-15.

Di area kompleks masjid juga terdapat makam tokoh penting penyebar Islam di Karawang, yaitu Syekh Abdurrahman.

Selain itu, terdapat pula tugu replika kemudi kapal Laksamana Cheng Ho, yang menjadi simbol hubungan jalur perdagangan maritim dengan penyebaran Islam di Nusantara.

Baca Juga: Tradisi Ramadhan di Masjid Sunan Ampel Surabaya, Dari Ziarah hingga Kuliner Timur Tengah

Kini, Masjid Agung Karawang bukan hanya tempat ibadah bagi warga setempat. Masjid ini juga menjadi destinasi wisata religi, terutama saat bulan Ramadhan ketika banyak jamaah datang untuk shalat berjamaah, mengikuti kajian, hingga sekadar menikmati suasana spiritual di masjid bersejarah.

Keberadaannya menjadi pengingat bahwa penyebaran Islam di tanah Sunda berlangsung melalui jalur dakwah, pendidikan, dan interaksi budaya yang damai.

EDITOR: Kuswandi