← Beranda
Ramadhan Penuh Makna : 5 Cara Menumbuhkan Empati Anak Lewat Puasa
Risma Aris MayaRabu, 4 Maret 2026 | 12.59 WIB
Mengajak anak diskusi adalah salah satu cara menumbuhkan empati saat puasa Ramadhan (freepik)

JawaPos.com – Bulan suci Ramadhan adalah momen istimewa untuk menanamkan nilai kebaikan pada anak. Selain melatih menahan lapar dan haus, puasa Ramadhan juga menjadi sarana efektif membangun empati.

Empati adalah kemampuan memahami dan merasakan perasaan orang lain. Dalam pendidikan karakter anak, empati berperan penting membentuk pribadi yang peduli dan penuh kasih.

Menurut APA, empati membantu anak membangun hubungan sosial yang sehat dan mengurangi perilaku agresif. Nilai sangat relevan dengan semangat Ramadhan.

Selain itu, Greater Good Science Center menjelaskan bahwa empati dapat dilatih sejak usia dini melalui pengalaman dan pembiasaan. Ramadhan menjadi waktu yang tepat untuk proses tersebut.

Baca Juga: Tetap Tenang & Produktif : 6 Cara Mengelola Stres Kerja Saat Puasa Ramadhan

Berikut 5 cara mengajarkan empati ke anak lewat puasa Ramadhan secara sederhana dan bermakna sebagaimana dilansir dari laman UNICEF, Harvard University dan Healthy Children, Rabu (4/3) :

1.     Mengajak anak memahami makna lapar dan haus

Puasa membantu anak merasakan sedikit pengalaman menahan lapar dan haus. Dari sini orang tua bisa menjelaskan bahwa di luar sana ada orang yang merasakan hal serupa setiap hari.

Menurut UNICEF, membantu anak memahami kondisi orang lain dapat meningkatkan kepedulian sosial. Diskusi ringan setelah sahur atau berbuka bisa menjadi momen refleksi dengan anak.

Anda juga bisa menanyakan kepada anak bagaimana rasanya menahan lapar. Lalu arahkan pembicaraan tersebut pada pentingnya berbagi dengan yang membutuhkan.

Dengan pendekatan lembut, anak belajar bahwa puasa bukan sekadar kewajiban. Puasa adalah latihan merasakan dan peduli.

2.     Melibatkan anak dalam kegiatan berbagi

Berbagi takjil atau makanan sahur kepada tetangga bisa menjadi pengalaman berharga. Anak yang terlibat langsung akan lebih memahami makna sedekah.

Harvard University dalam riset perkembangan anak menekankan bahwa keterlibatan langsung meningkatkan pembelajaran sosial dan emosional. Intinya pengalaman nyata lebih efektif daripada sekadar nasihat.

Anda mulai bisa melibatkan anak saat menyiapkan kolak, kurma atau nasi kotak sederhana dan biarkan mereka ikut membagikan dengan senyum. Kegiatan ini pasalnya bisa menumbuhkan rasa bahagia karena memberi.

Jadi anak bisa belajar bahwa berbagi adalah bagian dari kebahagiaan Ramadhan.

3.     Membiasakan ucapan dan sikap sabar

Puasa melatih kesabaran dalam menghadapi rasa lelah dan emosi. Orang tua dapat mencontohkan cara merespons situasi dengan tenang. Menurut American Academy of Pediatrics, anak belajar empati dan pengendalian diri melalui teladan orang tua.

Saat anak mulai rewel karena lapar maka ajak dia untuk berbicara dengan lembut. Anda juga bisa menjelaskan bahwa setiap orang juga sedang berusaha menahan diri.

Dengan pembiasaan ini, anak memahami bahwa emosi perlu dikendalikan. Ramadhan menjadi sekolah kesabaran yang nyata untuk anak-anak.

4.     Mengajak anak berdiskusi tentang perasaan orang lain

Diskusi sederhana tentang perasaan dapat melatih kepekaan anak. Misalnya saat melihat berita tentang orang kurang mampu, ajak anak berdialog.

National Association for the Education of Young Children menyarankan orang tua membantu anak mengenali dan menamai emosi sebagai bagian dari perkembangan empati. Proses ini membangun kecerdasan emosional kepada anak.

Anda bisa bertanya kepada anak : “menurut kamu, bagaimana perasaan mereka?”.Pertanyaan seperti ini melatih anak berpikir dari sudut pandang orang lain.

5.     Menjadikan ibadah sebagai momen refleksi bersama

Ibadah seperti tarawih atau membaca Al-Qur'an bisa diakhiri dengan refleksi singkat bersama keluarga. Orang tua dapat menjelaskan nilai kasih sayang dan kepedulian dalam ajaran Islam.

Menurut Yaqeen Institute for Islamic Research, Ramadhan adalah momen membangun karakter melalui spiritualitas dan refleksi. Nilai ini memperkuat empati dalam diri anak.

Anda bisa meluangkan waktu beberapa menit sebelum tidur untuk berdiskusi dengan anak. Anda bisa menanyakan apa kebaikan yang sudah dilakukan di hari itu. Intinya kebiasaan refleksi membentuk kesadaran moral anak. ***

EDITOR: Setyo Adi Nugroho