JawaPos.com - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan telah menyita perhatian Indonesia. Sebagai salah satu mitra di berbagai bidang, pemerintah Jepang mengirimkan bantuan untuk memadamkan karhutla di salah satu pulau terbesar di dunia itu.
Pemerintah Jepang pun mengerahkan tiga unit helikopter CH-47 Chinook dan 180 personel untuk membantu Pemerintah Indonesia memadamkan karhutla di Kalimantan. Bantuan diangkut menggunakan kapal JS Kunisaki dan dijadwalkan tiba di Terminal Pelabuhan Kijing, Kalimantan Barat, pada Rabu (9/9).
Sekretaris Jenderal Kemenhan Letjen TNI Tri Budi Utomo menjelaskan, helikopter tersebut diangkut menggunakan kapal JS Kunisaki yang membawa sekitar 150 awak kapal.
"Setelah kedatangan tentunya tidak serta-merta langsung digunakan dalam operasi, tetapi akan dilakukan tahapan penyiapan sistem dan flight test untuk memastikan seluruh aspek kesiapan dan keselamatan penerbangan terpenuhi," ujar Tri di kantor BNPB Selasa (8/9).
Jika seluruh tahapan uji coba berjalan sesuai rencana, ketiga helikopter pemadam tersebut dijadwalkan beroperasi pada 12-19 September mendatang dengan penyesuaian kondisi di lapangan.
Implementasi Kerja Sama Diplomasi Pertahanan
Tri menegaskan kehadiran bantuan dari Jepang ini merupakan wujud nyata penerapan Defense Cooperation Arrangement (DCA) yang ditandatangani kedua negara pada 4 Mei lalu. Salah satu poin krusial dalam kesepakatan tersebut adalah kerja sama pengelolaan bencana atau Humanitarian Assistance and Disaster Relief (HADR).
Langkah ini juga menjadi bagian dari kemitraan strategis komprehensif antara Indonesia dan Jepang dalam kerangka diplomasi pertahanan serta kemanusiaan. Tri menegaskan bahwa masuknya peralatan dari luar negeri ini bertujuan memperkuat kapasitas penanganan di lapangan, bukan menggantikan peran utama pemerintah dalam memadamkan api.
"Kami ingin menegaskan bahwa dukungan Jepang berfungsi memperkuat, bukan menggantikan kemampuan nasional Indonesia. Seluruh kemampuan nasional tetap dikerahkan," tegasnya.
Kendali Operasional Tetap di Tangan Indonesia
Dalam struktur pelaksanaannya, Kemenhan menyerahkan pengawasan operasional armada helikopter kepada TNI. TNI bertugas menangani aspek keamanan, flight clearance, menempatkan safety officer di setiap helikopter, serta mengordinasikan misi penerbangan bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Sementara itu, Kemenhan menanggung dukungan logistik operasional.
Pemerintah menegaskan bahwa kendali penuh atas seluruh rangkaian operasi pemadaman karhutla tetap berada di tangan kendali nasional.
"Indonesia tetap memegang kendali dalam penanganan karhutla. Kehadiran aset dan personel Jepang untuk mengoperasionalkan serta mendukung kemampuan yang mereka berikan, sedangkan pelaksanaan misinya terintegrasi dengan mekanisme operasi Pemerintah Indonesia," kata Tri Budi.
Jangkau Titik Api Sulit via Udara
Penambahan tiga unit helikopter CH-47 Chinook dinilai sangat krusial mengingat kondisi geografis medan karhutla di Kalimantan yang kerap sulit ditembus lewat darat. Tim pendahulu dari Jepang juga telah meninjau lapangan untuk memastikan kesiapan fasilitas penunjang.
Meski begitu, pemadaman lewat udara ini tetap menjadi satu bagian dari strategi menyeluruh yang terus berjalan di area terdampak."Penanganan tetap dilakukan melalui kombinasi operasi darat, operasi udara, pemantauan, water bombing, serta operasi modifikasi cuaca," pungkasnya.