JawaPos.com - Hubungan kerja sama bidang pertahanan antara Indonesia dengan Korea Selatan (Korsel) terus berjalan ke arah yang lebih baik. Terlebih setelah pengembangan pesawat tempur KF-21 Boramae terus berlanjut. Proyek tersebut menegaskan kemitraan strategis di antara kedua negara.
Pakar pertahanan dan hubungan internasional dari Binus University Curie Maharani menyampaikan bahwa dalam sektor pertahanan, kolaborasi pengembangan pesawat tempur KF-21 Boramae adalah proyek strategis bagi kemandirian industri pertahanan Indonesia.
”Pengembangan KF-21 tetap strategis meski mungkin manfaat yang akan didapat tidak sama seperti yang diperhitungkan di awal. Harapannya, penambahan mitra baru dalam pengembangan versi lanjutan KF-21 akan mengurangi cost share dan risiko kegagalan yang ditanggung kedua negara,” kata dia dalam keterangan resmi pada Kamis (23/4).
Keterangan itu disampaikan oleh Curie dalam acara pembukaan Lomba Menulis yang diselenggarakan oleh Indonesia Strategic and Defence Studies (ISDS) bertajuk Kemitraan Strategis RI-Korsel 2026: Pertahanan, AI, dan Pengembangan SDM di Jakarta.
”Meski Indonesia dan Korsel sama-sama bukan negara inovator teknologi pertahanan, Korsel bernilai strategis bagi Indonesia sebagai penyuplai, pemadu utama, dan kolaborator norma,” terang dia.
Di luar pengembangan pesawat tempur generasi baru, Indonesia dan Korsel memiliki kerja sama strategis pada bidang kecerdasan buatan, keamanan siber, serta pengembangan sumber daya manusia (SDM). Semua itu punya penting bagi penguatan posisi nasional Indonesia di tengah dinamika keamanan Indo-Pasifik.
Menurut Curie, AI dan keamanan siber kini menjadi variabel utama dalam menentukan kekuatan nasional suatu negara. Teknologi tersebut tidak hanya memperkuat kemampuan militer, melainkan juga menjadi fondasi daya saing ekonomi.
Pengalaman konflik modern seperti perang yang sudah terjadi di Ukraina dan Gaza, lanjut Curie, menunjukkan bahwa AI dan sistem siber memberikan keunggulan dalam pengumpulan data, analisis cepat, serta perluasan cakupan target operasi militer.
”Ada banyak faktor yang memengaruhi sukses atau gagalnya. Bukan hanya meniscayakan keahlian dan pengetahuan SDM untuk menjembatani kolaborasi dan alih teknologi, tetapi juga rasa saling percaya dan memahami budaya kerja masing-masing bangsa. Inilah kenapa pertukaran budaya dan pengembangan SDM menjadi strategis,” jelasnya.
Dalam perspektif kepentingan nasional Indonesia, kerja sama strategis dengan Korsel membawa berbagai potensi. Salah satu diantaranya adalah menjadi sumber akses bagi Indonesia untuk mendapatkan teknologi berstandar barat dari tangan kedua.
Korsel sebagai raksasa baru industri pertahanan dunia dengan konsumen global juga membutuhkan rantai suplai berdaya saing yang memungkinkan diisi oleh Indonesia. Selain itu, kedua negara memiliki konvergensi nilai yang menjunjung penggunaan AI yang bertanggung jawab di sektor pertahanan.
‘”Indonesia perlu menyusun strategi yang tepat untuk memaksimalkan potensi kemitraan dengan Korsel tersebut,’’ papar Curie yang juga menjadi juri dalam lomba menulis ISDS tersebut.
Berdasar keterangan yang disampaikan oleh Co-Founder ISDS Dwi Sasongko lomba menulis ISDS sudah dimulai pada 17 April dan akan berlangsung sampai 7 Juni 2026 mendatang. Semua kalangan masyarakat yang usianya di atas 17 tahun bisa ikut serta dalam lomba tersebut.
”Kerja sama Indonesia–Korsel menjadi contoh konkret bagaimana kemitraan internasional dapat mendorong penguatan industri pertahanan, pengembangan AI, keamanan siber, hingga peningkatan kapasitas SDM. Melalui lomba menulis ini, kami ingin mendorong masyarakat memahami isu tersebut secara lebih kritis dan konstruktif,” ucap dia.
Selain Curie, juri lain lomba menulis ISDS adalah Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika (Aspasaf) Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Santo Darmosumarto. Lomba tersebut sengaja diselenggarakan untuk membangun literasi strategis nasional agar publik tidak hanya menjadi konsumen informasi.
”Tujuan akhirnya adalah membangun kesadaran bahwa kerja sama internasional bukan sekadar diplomasi antarnegara, tetapi investasi jangka panjang bagi kemajuan bangsa melalui pengetahuan, inovasi, dan kolaborasi manusia,” ujar Dwi.