← Beranda
Manulife Proyeksikan Pasar Saham dan Obligasi Asia Masih Menarik pada Paruh Kedua 2026
Djati WaluyoRabu, 15 Juli 2026 | 00.40 WIB
Manulife Investment Management. (dok. MIMA)

 

JawaPos.com - Manulife Investment Management memproyeksikan pasar saham dan obligasi Asia masih menawarkan peluang investasi pada semester kedua 2026 meski dibayangi konflik geopolitik, tekanan inflasi, dan kebijakan bank sentral global yang semakin ketat.

Pandangan tersebut disampaikan dalam laporan prospek pasar Asia dan strategi investasi semester kedua 2026 yang dirilis Manulife Investment Management. Laporan itu menyoroti dampak konflik Timur Tengah, perubahan arah kebijakan moneter global, serta peluang struktural yang masih terbuka di pasar Asia.

Senior Global Macro Strategist Manulife Investment Management, Yuting Shao, mengatakan konflik berkepanjangan di Timur Tengah telah mengubah ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan bank sentral.

Dia mengatakan, ekspektasi bahwa pelonggaran moneter akan berlangsung secara luas dan searah kini mulai bergeser. Dimana, tekanan biaya energi yang masih tinggi memaksa bank sentral di sejumlah kawasan untuk mempertahankan sikap hawkish guna mengantisipasi dampak lanjutan terhadap inflasi.

“Pada saat yang sama, siklus ekonomi global masih bergerak tidak merata. Negara-negara dengan ketahanan energi domestik yang kuat, atau yang terdorong langsung oleh tren besar teknologi, terbukti jauh lebih resilien,” ujar Shao dalam keterangan yang diterima, Selasa (14/7).

Shao mengatakan, memasuki semester kedua 2026, perekonomian global masih dipengaruhi gangguan rantai pasok yang berkepanjangan serta tingginya harga komoditas. Di sisi lain, normalisasi sektor energi dan pengiriman barang dinilai masih menghadapi ketidakpastian.

Dia menjelaskan, di Tiongkok kombinasi diversifikasi impor energi, pengendalian harga domestik, dan cadangan yang memadai telah berhasil melindungi ekosistem pasar domestik dari dampak terburuk lonjakan harga minyak global.

“Dengan didukung pertumbuhan dasar yang solid, para pembuat kebijakan memiliki fleksibilitas untuk merespons secara dinamis apabila kondisi eksternal memburuk,” ujarnya.

Di pasar saham, Manulife mempertahankan pandangan positif terhadap Asia karena didukung prospek laba yang membaik, kondisi keuangan yang lebih longgar, dan pertumbuhan yang ditopang sektor teknologi.

Head of Asia Equities Manulife Investment Management, June Chua, mengatakan di Tiongkok Manulife melihat perbaikan prospek laba yang lebih berkelanjutan dalam 12 hingga 18 bulan ke depan, setelah periode pelemahan sebelumnya.

Ia menyebut, seiring pemulihan ekonomi yang semakin meluas dan stabilisasi siklus industri, kami tetap melihat peluang di berbagai area seperti AI, semikonduktor, manufaktur canggih, dan peralatan kelistrikan.

“Bersama dengan dukungan kebijakan dan valuasi yang masih menarik, hal ini menunjukkan latar belakang yang lebih konstruktif bagi saham Tiongkok dalam jangka menengah,” ujar Chua.

Pada saat yang sama, Taiwan dan Korea Selatan terus memperoleh manfaat dari momentum kuat dalam ekosistem AI. Rantai pasok yang mendalam dan resilien, ditambah dengan peningkatan teknologi yang terus berlangsung, telah mendorong pertumbuhan laba yang nyata di sektor semikonduktor dan industri terkait.

Chua menambahkan, di kawasan ASEAN, meskipun tantangan jangka pendek masih ada, kami melihat adanya upaya kebijakan yang terkoordinasi serta penguatan permintaan domestik yang dapat mendukung pemulihan yang lebih berkelanjutan.

“Dalam kondisi ini, saham Asia menawarkan sumber pertumbuhan dan diversifikasi yang berbeda. Namun, perbedaan kinerja antar pasar dan sektor masih tinggi, sehingga semakin menegaskan pentingnya pengelolaan investasi aktif serta pendekatan yang disiplin dan selektif dalam menangkap peluang di kawasan ini,” ungkapnya.

EDITOR: Estu Suryowati