← Beranda
5 Cara Membuat Skema Cicilan Aman: Pahami Rasio Utang agar Tidak Terlilit
Raisal Fani IsmailKamis, 18 September 2025 | 23.37 WIB
Ilustrasi cara membuat skema cicilan aman (Frimufilms/Freepik)

JawaPos.com - Membeli barang atau meminjam uang dengan cara mencicil setiap bulan memang terasa ringan. Namun, bila cicilan tidak terkontrol dengan baik, maka jumlah utang bisa membesar yang ujung-ujungnya terlilit.

Salah satu cara membuat skema cicilan agar aman adalah dengan mengetahui rasio utang terhadap pendapatan atau Debt to Income (DTI). Rasio utang yaitu membandingkan pengeluaran cicilan utang bulanan dan pendapatan dalam bentuk persentase.

Manfaat rasio utang adalah untuk mengetahui gambaran kemampuan membayar cicilan utang saat ingin meminjam lagi. Untuk mengetahui seberapa besar cicilan yang bisa dibayar setiap bulannya, maka perlu memahami pendapatan, pengeluaran utang, menghitung rasio utang, dan anggaran. 

Berikut adalah 5 cara mengatur skema cicilan yang dilihat berdasarkan pendapatan, rasio utang, hingga anggaran yang dikutip Nerdwallet dan Investopedia.

1. Memahami Pendapatan

Sebelum mengambil pinjaman dan membayar cicilan tiap bulannya, ketahui terlebih dahulu jumlah pendapatan. Pendapatan bisa bersumber dari gaji pekerjaan penuh waktu, upah paruh waktu, wiraswasta dan pendapatan lepas.

Selain itu, bonus, tunjangan anak atau tunjangan yang diterima, manfaat jaminan sosial, serta pendapatan sewa properti masuk kategori pendapatan. Sedangkan pendapatan yang dihasilkan dari hadiah, warisan, hadiah, atau kejadian satu kali lainnya jangan dimasukan dalam pendapatan tetap.

2. Memahami Pengeluaran Utang

Untuk mendapatkan rasio utang yang akurat, yaitu dengan menyertakan pengeluaran untuk cicilan utang yang sudah dimiliki sebelumnya.

Kategori yang termasuk pengeluaran cicilan utang, yaitu kredit atau sewa perumahan, kredit kendaraan, pinjaman kartu kredit, dan pinjaman pribadi lainnya.

Tunjangan anak, tunjangan atau pembayaran lain yang diperintahkan pengadilan juga termasuk dari pengeluaran utang yang wajib dibayarkan.

Dalam menghitung rasio utang, ada biaya bulanan yang dikecualikan untuk mendapatkan persentase yang akurat. Jangan sertakan pengeluaran bulanan lainnya, seperti bahan makanan, gas, biaya utilitas, internet, asuransi, dan pengeluaran rekreasi.

3. Menghitung Rasio Utang terhadap Pendapatan

Pertama hitung secara keseluruhan cicilan utang yang dimiliki dan pendapatan bulanan yang dimiliki.

Lalu hitung dalam rumus berikut: (seluruh cicilan utang bulanan ÷ pendapatan bulanan) x 100

Contoh, pendapatan per bulan Rp 5 juta dengan cicilan utang Rp 5 ribu yang terbagi dari kredit rumah dan pinjaman lain. Lalu hitung dengan rasio utang:

Rumus rasio utang: (Rp 500.000 ÷ Rp 5.000.000) x 100 = 10 atau 10 persen.

4. Memahami Rasio Utang dengan Skema Cicilan

Dengan mengetahui rasio utang terhadap pendapatan terdapat gambaran besaran kemampuan membayar cicilan dan melunasi utang.

Seperti pada contoh, rasio utang 10 persen maka 10 persen pendapatan digunakan untuk membayar cicilan utang.

Gambaran itu bisa jadi acuan saat ada keinginan untuk berhutang, sesuai dengan anggaran ditetapkan.

5. Skema Cicilan yang Aman Sesuai Anggaran

Setelah mendapatkan rasio utang, maka skema cicilan yang aman yaitu sesuai dengan anggaran yang telah dibuat.

Seperti membuat anggaran menggunakan pola 50/30/20 yaitu 50 persen untuk kebutuhan, 30 persen keinginan, 20 persen tabungan atau utang.

Bila menggunakan pola 50/30/20, alokasi untuk membayar utang atau tabungan sebesar 20 persen.

Mengacu contoh rasio utang sebelumnya, utang masih bisa bertambah sebesar 10 persen dari pendapatan.

Tambahan utang baru dengan skema cicilan yang aman sesuai anggaran yaitu paling besar Rp 500 ribu perbulan 

Namun toleransi untuk menambah utang masih bisa dilakukan antara 20-50 persen dari pendapatan sesuai kemampuan dan keperluan.

Tapi menambah utang bisa mengorbankan alokasi anggaran lainya seperti biaya untuk keinginan (liburan, hiburan, layanan berlangganan dan lain-lain), tabungan, sampai investasi.

EDITOR: Candra Mega Sari