JawaPos.com - Darah adalah tinta yang tertoreh dalam sejarah umat manusia. Dari beragam peristiwa historis, kita belajar bahwa peradaban sejatinya dibangun di atas tumpukan mayat yang terlalu banyak untuk dihitung.
Mulai dari penyaliban Yesus Kristus, perbudakan di Mesir kuno, invasi Alexander the Great, pembantaian suku Indian di Amerika, Holocaust jutaan orang Yahudi oleh Nazi pada Perang Dunia II, hingga tragedi Tiananmen Square di Tiongkok dan konflik Israel–Palestina hari ini, sivilisasi tampaknya selalu punya hubungan intim dengan kekerasan.
Kekerasan terus berubah bentuk mengikuti zaman. Dia tidak pernah hilang, hanya berganti wajah. Pedang jadi peluru. Medan perang jadi layar media sosial. Kekerasan fisik jadi pembunuhan karakter secara digital.
Yang paling mengerikan bukan bagaimana manusia menciptakan kekerasan, tapi bagaimana mereka terus menemukan cara untuk menikmati darah yang tertumpah.
Berkaca dari situ, rasanya sah saja untuk merenung dan bertanya pada diri sendiri: di balik semua narasi cinta damai yang sering diserukan, apakah manusia sejatinya adalah makhluk yang, diam-diam, menikmati kekerasan?
Pertanyaan yang sangat mengganggu ini diolah dan diramu dengan sangat graphic oleh mangaka Jepang, Kouta Hirano dalam bentuk komik satir tentang 'fetish' tak berkesudahan manusia terhadap kekerasan.
Nama karya yang juga diadaptasi ke dalam anime tersebut adalah Hellsing.
Di semesta Hellsing, perang dan pembantaian tidak ubahnya pesta pora yang memabukkan. Tubuh manusia terkoyak. Organ dalam berserakan. Darah muncrat layaknya air mancur dan mengaliri jalanan kota yang sudah berubah jadi lautan api.
Di tengah semua kengerian itu, karakter-karakternya tersenyum menyeringai. Mereka puas layaknya mencapai klimaks.
Lewat karya bertabur vampir, monster dan militer ini, Hellsing betul-betul memahami bahwa ada banyak manusia yang tidak menghindari kekerasan, tapi justru merasa hidup dan gagah karenanya.
Ini tergambar valid dan tak terbantahkan lewat beragam peristiwa di dunia nyata: perang, genosida, hukuman mati di hadapan publik, perbudakan, penjajahan, propaganda militer, bahkan sampai hal yang paling modern seperti perundungan digital yang bisa membuat mental seseorang hancur.
Benang merah paling menjijikkan dari semua itu adalah kebanyakan para pelakunya kerap kali berlagak suci dan paling benar. Hellsing sukses menelanjangi habis hipokrisi manusia sok bermoral ini lewat tema yang menyangkut organisasi Kristen Protestan, pasukan Katolik Vatikan, simbol salib dan retorika tentang Tuhan.
Kejujuran Iblis, Kemunafikan Manusia
Protagonis utama Hellsing adalah antihero berwujud vampir, Nosferatu Alucard. Sesuai anagram namanya yang diambil dari sosok Dracula, Alucard merupakan vampir pembunuh massal yang sadistik.
Bekerja untuk organisasi Kerajaan Inggris bernama Her Royal English Legions of Legitimate Supernatural and Immortal Night Guard, atau HELLSING, Alucard adalah kartu As dari agensi pimpinan Integra Hellsing tersebut.
Ia bertugas untuk membasmi kekuatan supranatural yang menebar teror di tanah Inggris, termasuk membunuh para vampir yang notabene merupakan rasnya sendiri.
Yang menarik, Alucard tidak pernah melabeli dirinya sebagai figur dengan integritas dan moralitas tinggi. Dia bukan tipikal jagoan dengan segudang kata mutiara yang pretentious.
Sebaliknya, Alucard sadar seutuhnya bahwa ia adalah monster. Dia tidak membunuh untuk perdamaian manusia, apalagi demi kemuliaan Tuhan.
Sosok Alucard menjadi sebuah sentilan tidak hanya untuk para manusia normal di dalam komik ini, tapi untuk orang-orang di dunia nyata.
Pada praktiknya, banyak manusia-manusia 'normal' kerap kali berlindung di balik agama, ideologi dan nilai-nilai primordial untuk membenarkan kekerasan dalam beragam bentuk. Mulai dari pembantaian sampai hal-hal lain yang sama buruknya seperti pemerkosaan dan eksploitasi anak di bawah umur.
Kejujuran Alucard sebagai vampir seolah ingin mengolok-olok kemunafikan manusia yang menganggap tindakan salah mereka bisa dibenarkan demi embel-embel kebaikan umat tertentu.
Filsuf Friedrich Nietzsche pernah menulis bahwa, “Orang yang bertarung dengan monster harus menjaga dirinya sendiri agar tidak ikut berubah jadi monster,”.
Quote ini tidak cuma mewakili apa yang terjadi di Hellsing, tapi juga dunia nyata di mana sejarah sudah berkali-kali membuktikan ada banyak manusia yang berlaku jahat dan buas layaknya monster demi ego pribadi yang dipoles misi suci.
Thanatos
Psikoanalis Sigmund Freud menyebut bahwa manusia memiliki dorongan destruktif bawaan dalam diri mereka. Dorongan ini disebut Freud dengan istilah Thanatos.
Secara sederhana, Thanatos adalah insting manusia dalam menciptakan agresi, kehancuran, dan kematian. Di Hellsing, tidak ada karakter yang merepresentasikan gagasan tersebut dari The Major, antagonis utama manga ini.
Berbeda dari villain di komik atau film pada umumnya, The Major tidak mengejar uang, kuasa, atau penaklukkan dunia.
The Major hanya terobsesi pada satu hal: perang.
Bagi The Major, yang dikisahkan merupakan pimpinan kelompok Nazi bernama Millenium, perang adalah sebuah gairah, layaknya gairah seseorang pada cinta sejatinya yang menggebu-gebu.
The Major adalah sosok yang tidak cuma menyeramkan di komik, tapi juga di realitas asli. Alasannya? Karena kecintaannya pada perang adalah hal yang sangat manusiawi.
Dalam sejarah peradaban, sudah tidak terhitung berapa kali perang ditunjukkan bukan sekadar untuk kebutuhan politik. Di beberapa kasus, perang adalah simbol kejayaan dan hiburan massal. Di kasus lain, perang adalah alat identitas yang jadi sumber kebanggaan kolektif.
Mulai dari arena gladiator Romawi di mana manusia diadu dengan binatang buas; hingga parade militer modern yang melambangkan instrumen kekuatan geopolitik, manusia selalu punya ketertarikan terhadap kekerasan yang terstruktur.
Dalam konteks ini, The Major jelas bukan cuma monster fiksi. Dia perwujudan autentik dari sisi gelap manusia yang senang melihat dunia hancur.
Alat Pembenaran Pembantaian
Hellsing sangat penuh dengan simbol agama, khususnya, hal-hal yang bernuansa Kristiani.
Dalam manga ini, selain berkonflik dengan The Major dan Millenium-nya, Hellsing juga mengisahkan perseteruan dua organisasi besar yang berbasiskan agama Kristen Protestan dan Katolik, yakni HELLSING dan Iscariot, sebuah organisasi rahasia yang bermarkas di Vatikan.
Secara tujuan, Iscariot sebetulnya punya misi yang sama dengan HELLSING, yakni mengenyahkan segala bentuk gangguan supranatural. Namun, perbedaan dogma mendasar tentang ajaran mana yang paling benar membuat kedua organisasi ini tidak bisa sejalan.
Keberadaan Alucard di HELLSING pun membuat Iscariot merasa semakin punya alasan untuk menghancurkan mereka. Bagi Iscariot, monster adalah hal najis yang mestinya dimusnahkan, bukannya dijadikan aset kekuatan.
Ketika dua organisasi ini bertarung, mereka sama sadisnya dan sama brutalnya. Esensi keagamaan dan ketuhanan yang jadi label pun lenyap begitu saja.
Dari sini, Hellsing kembali mempertontonkan sesuatu yang sangat dekat dengan sejarah manusia bahwa agama sering digunakan bukan untuk menghentikan kekerasan, tetapi justru untuk membenarkannya.
Perang Salib, inkuisisi, konflik antar suku, dan segala bentuk kericuhan lainnya yang mengatasnamakan identitas, adalah contoh di mana manusia merasa bahwa menyakiti orang lain adalah sebuah hal yang diyakini benar asal dilakukan demi sesuatu yang sakral.
Menurut psikoanalis Carl Jung, manusia cenderung memproyeksikan sisi gelap diri mereka kepada sesuatu yang mereka anggap musuh. Dalam penjabaran sederhana, manusia akan lebih mudah melepaskan sisi gelap mereka jika ada pihak lain yang mereka anggap jahat dan mengancam moral.
Hellsing mengolah mekanisme filosofis ini dengan sangat baik. Semua pihak di Hellsing merasa bahwa mereka adalah yang paling benar, tanpa menyadari bahwa mereka sebetulnya sama-sama monster haus darah.
Konsumsi Visual Massal
Hellsing menjadi sebuah karya yang kian menyeramkan karena ia terasa begitu dekat dengan sejarah nyata, khususnya abad ke-20 di mana dunia dipenuhi perang besar. Kehancuran massif di momen-momen era itu sudah menunjukkan bagaimana manusia mampu menikmati kekerasan dalam skala massal.
Di Perang Dunia II, Adolf Hitler dan Nazi-nya melakukan propaganda untuk mengubah pembantaian menjadi ideologi yang terasa heroik dan mulia bagi para pengikut dan simpatisannya.
Sementara di Perang Vietnam, media massa memperlihatkan bagaimana perang juga bisa menjadi tontonan publik.
Dua contoh ini adalah hal yang masih terus terjadi sampai sekarang. Perang dan berbagai macam bentuk doktrinnya yang disalurkan melalui media massa sudah berhasil membuat manusia terbiasa dengan kekejaman. Mulai dari membaca surat kabar, mendengarkan radio, menonton televisi, hingga scrolling di media sosial.
Konflik-konflik modern seperti perang sipil yang terjadi di beberapa daerah hingga video drone strike adalah contoh kekerasan masa kini yang bisa disaksikan, didiskusikan, bahkan dinikmati secara real time melalui internet.
Ada yang mengutuk, ada yang menyayangkan, tapi tidak sedikit juga yang menikmati.
Filsuf media Guy Debord menyebut kondisi ini sebagai Society of the Spectacle. Yakni, sebuah keadaan di mana masyarakat yang mengubah tragedi dan penderitaan menjadi konsumsi visual massal.
Media sosial, yang sudah jadi bagian hidup manusia modern, sering menjadikan perang sebagai konten, statistik, propaganda digital, bahkan meme.
Artinya, kekerasan bukan cuma dipraktikkan, tapi dipertontonkan. Sebuah hal yang sangat lumrah di semesta Hellsing. Manga ini tidak hanya terasa relevan dengan perang, tapi juga cermin budaya internet saat ini.
Banality of Evil
Sekarang, kekerasan tidak melulu dalam bentuk peluru yang berdesing atau tebasan pedang yang beradu dengan daging mentah. Hari ini, kekerasan bisa hadir dalam bentuk cyberbullying, cancel culture, doxxing dan hal-hal lain yang berujung penghancuran reputasi secara daring.
Sama seperti perang, segala tindakan itu melibatkan orang banyak, emosi kolektif yang diagitasi dan kepuasan melihat orang lain hancur secara fisik dan mental di hadapan publik.
Kritikus politik Hannah Arendt pernah menulis konsep bernama Banality of Evil. Dalam konsep itu, Arendt menegaskan bahwa suatu kekejaman besar tidak selalu dilakukan monster. Justru, kekejaman sering dilakukan manusia biasa yang terbiasa dengan kekerasan.
Internet memperlihatkan hal itu dengan jelas. Orang-orang kelihatannya normal dalam kehidupan sehari-hari dapat berubah buas dan liar ketika berada di tengah kerumunan digital.
Dan, layaknya manusia-manusia di Hellsing, mereka merasa tindakan tersebut benar.
Baca Juga: Kala Manusia Menolak Langit: Filosofi 'Membunuh Tuhan' dalam JRPG
Darah Adalah Candu
Hellsing bukan cuma sebuah karya gore tentang vampir, monster, militer dan perang suci. Semua tokoh yang ada di dalamnya adalah sebuah refleksi tentang rahasia gelap manusia.
Manga ini adalah cerminan tentang bagaimana kekerasan bisa terasa begitu mengasyikkan, kebencian bisa jadi hal yang menyenangkan dan kehancuran bisa dibenarkan untuk mengukuhkan status atau identitas kelompok.
Sekilas, Hellsing mungkin cuma bercerita tentang seorang vampir yang bekerja untuk manusia dalam berperang demi agama. Namun, bukan di situ poin utamanya.
Hellsing diam-diam memperlihatkan sesuatu yang lebih meresahkan namun nyata, bahwa monster paling berbahaya dalam kehidupan sebetulnya bukan vampir penghisap darah, melainkan manusia biasa yang terlalu candu terhadap darah.