JawaPos.com - Drum dan perkusi berdentum cepat dalam tempo 138 beats per minute. Cabikan double bass. Brass section meledak dengan buas diikuti solo saxophone yang ganas.
"I think it's time we blow this scene.. Get everybody and their stuff together.. Okay, 3, 2, 1, let's jam!".
Kacau, brutal, ngasal, namun presisi.
Kehingar-bingaran tadi kemudian dinetralisir oleh sesuatu yang jauh lebih anteng namun bernyawa. Gitar elektrik menangis menjerit dalam not tinggi, drum menghentak pelan, bersahutan dengan string section dan vokal serak basah yang melantunkan lirik sendu penuh penderitaan.
"Sitting in the muddy water isn't such a bad life if it ends after the first time,".
Sederhana, rileks, namun memasygulkan hati.
Baca Juga: Mazmur Pembantaian dalam Liturgi Darah: 'Hellsing' dan Fetish Manusia dalam Menikmati Kekerasan
'Tank!' dan 'The Real Folk Blues' memang bukan tipikal lagu pembuka dan penutup anime pada umumnya. Alih-alih menghadirkan orkestra megah bernada mayor penuh optimisme layaknya anime shonen, Yoko Kanno dan The Seatbelts justru seolah mengajak penonton untuk masuk ke dalam sebuah bar temaram penuh kepulan asap yang dijejali manusia bernapas alkohol.
Dua elemen inilah yang jadi kekuatan terbesar Cowboy Bebop: energi jazz mentah dan erangan blues emosional.
Bukan sekadar estetika untuk tampil beda, tapi karena dua genre musik 'tua' ini merupakan bahasa emosional dari serial legendaris karya Shinichiro Watanabe tersebut.
Sekilas, Cowboy Bebop tampak seperti anime tentang bounty hunter luar angkasa yang edgy. Namun, semakin lama serial ini bergulir, semakin jelas pula bahwa Cowboy Bebop sebenarnya bukan cuma kisah tentang petualangan mengarungi galaksi, melainkan potret nyata tentang orang-orang dewasa yang mencoba tetap hidup dalam rasa sakit yang menghantui sembari menjalani hari-hari esok yang serba tidak pasti.
Ini yang membuat Cowboy Bebop sangat terasa jazzy dan bluesy pada saat yang bersamaan.
Ekspresi Jujur Kesedihan dan Spontanitas
Dalam sejarah musik kontemporer, blues muncul dari luka mendalam kaum Afro-Amerika. Musik ini lahir dari sejarah panjang penderitaan dan gejolak kehidupan yang serba tak sesuai harapan.
Di lain pihak, jazz tumbuh dari spontanitas dan improvisasi. Jika blues menggambarkan kesusahan dan kesengsaraan, maka jazz adalah pengejawantahan demokrasi nyata dalam bermusik di mana pemainnya diberi kebebasan memainkan nada apapun, layaknya bertahan hidup tengah dunia yang kacau.
Pianis jazz legendaris, Thelonious Monk pernah melontarkan sebuah quote pendek yang menyatakan bahwa, "Jazz adalah kebebasan". Terdengar mudah dan sederhana, tapi sebetulnya inilah hal paling kompleks dalam musik jazz.
Tidak ada kenyamanan utuh dalam improvisasi jazz. Dia sulit diprediksi dan penuh dengan nada-nada yang terdengar 'salah' dalam balutan progresi akord rumit nan cepat.
Kru kapal Bebop, nama pesawat induk dalam anime ini, betul-betul mewakili dinamika dalam musik jazz. Mereka adalah orang-orang yang hidup tanpa arah pasti, tapi tetap bergerak seirama untuk menyongsong hari esok.
Selain penuh improvisasi, para kru kapal Bebop juga bergulat dengan masa lalu yang terus menghantui.
Musikolog Ted Gioia pernah menulis, "Blues bukan tentang menghilangkan rasa sakit, tetapi memberi bentuk pada penderitaan agar manusia bisa terus hidup bersamanya,”.
Spike Spiegel, Faye Valentine, Jet Black dan Ed adalah orang-orang yang tidak pernah benar-benar sembuh dari 'blues' mereka masing-masing. Sementara Ein, si anjing corgi, menggambarkan sebuah satir yang mendalam terhadap kehidupan sosial.
Hidup Tanpa Arah, Emosi yang Mati
Spike Spiegel adalah protagonis utama sekaligus tokoh paling tragis dalam Cowboy Bebop. Walau digambarkan sebagai pria yang laid back, slengekan dan terkesan tak memusingkan hidup, Spike sesungguhnya adalah manusia dengan emosi yang mati.
Penyebabnya? Terjebak di masa lalu. Oleh Red Dragon Syndicate, Vicious dan cinta abadinya, Julia. Segala kepahitan itu terus digendong oleh Spike dari hari ke hari sembari terus mengejar bounty.
Dalam The Real Folk Blues, judul episode pamungkas serial Cowboy Bebop, Spike melontarkan sebuah kalimat singkat namun dalam sebelum ia pergi untuk melakoni pertempuran terakhirnya: “I’m not going there to die. I’m going to find out if I’m really alive,”.
"Aku tidak pergi ke sana untuk mati. Aku pergi untuk mencari tahu apakah aku benar-benar hidup,".
Kalimat yang sangat powerful. Sangat tragis. Sangat blues.
Jika musik blues sering berbicara tentang manusia yang terus menjalani hidup meski hatinya hancur berantakan, maka Spike adalah personifikasi sempurna dari falsafah itu.
Baca Juga: Memaknai Kehidupan Setelah Kematian Tuhan: 'NieR', Tragedi Nihilistik dan Tujuan Eksistensi Manusia
Waktu yang Tercabut, Memori yang Terhilang
Jika Spike kehilangan orang terkasihnya, maka Faye Valentine punya 'blues' masa lalu yang berbeda. Ia kehilangan dua hal krusial dalam hidup: waktu dan memori.
Mengalami kecelakaan hebat, Faye dikisahkan harus diobati dengan teknologi cryo-sleep, sebuah metode penyembuhan yang membuat pasiennya dibekukan dalam tidur. Sialnya, rentetan kejadian tidak terduga membuat proses cryo-sleep ini mengalami gangguan.
Hasilnya memilukan: Faye baru terbangun dari tidurnya 54 tahun kemudian. Tanpa keluarga, tanpa teman, dan yang paling pahit, tanpa memori siapa dirinya di masa lampau.
Faye akhirnya harus menjalani hidup sebagai perempuan tua dalam tubuh muda yang tercabut dari waktu dan ingatan.
Hal ini pun berdampak secara psikologis pada dirinya. Dari seorang gadis baik hati yang periang dan polos, Faye berubah menjadi sosok yang sinis, defensif dan manipulatif.
Dari kemunculan pertama di episode 3, Honky Tonk Woman, Faye selalu dikisahkan sebagai perempuan yang keras kepala dan egois. Namun, di balik sikapnya itu, ia sebenarnya hanya orang yang mencari tempat untuk pulang.
Puncak kesedihan dalam hidup Faye terjadi di episode 24, Hard Luck Woman, ketika ia akhirnya mendapatkan ingatannya kembali dan menemukan rumahnya yang sudah menjadi puing-puing.
Nasi sudah jadi bubur. Kehilangan momen-momen berharga selama 5 dekade lebih, Faye pun tak punya pilihan selain berdamai dengan keadaan dan tetap menjalani hidup. Sekuat mungkin, sehormat mungkin, meski rasa sakitnya terus ada.
Dan hidup berdampingan dengan rasa sakit, adalah bentuk blues yang paling murni.
Baca Juga: Kala Manusia Menolak Langit: Filosofi 'Membunuh Tuhan' dalam JRPG
Melankolia dalam Nostalgia
Dari semua karakter Cowboy Bebop, Jet Black mungkin adalah sosok yang paling mendekati kata 'manusiawi'. Tidak dramatis dan meledak-ledak seperti Spike atau Faye, Jet adalah orang dewasa yang menjalani hidup dengan melankolia dalam nostalgia.
Lewat karakter Jet, Cowboy Bebop menunjukkan bahwa ada kalanya orang dewasa harus menerima bahwa hidup tidak mesti berjalan mulus sesuai rencana dan mimpi. Cinta bisa kandas, idealisme bisa dikhianati.
Namun, alih-alih terus berusaha mencari tahu jawaban di masa lalu, Jet memilih untuk terus melangkah maju. Pelan, namun tanpa keraguan.
Sambil mengarungi ruang angkasa bersama rekan-rekannya, Jet menyibukkan diri dengan menanam bonsai, memasak dan merawat kapal Bebop layaknya orang yang ingin mempertahankan keteraturan hidup di tengah kekacauan lingkungan.
Jika Spike dan Faye adalah improvisasi solo terompet jazz yang liar dan tragis, maka Jet adalah dentingan piano blues dalam nada rendah. Tenang, namun menggambarkan kelelahan batin.
Jenius Eksentrik yang Kesepian
Jka harus menunjuk sosok yang paling jazzy dalam Cowboy Bebop, Edward Wong Hau Pepelu Tivruski IV, alias Ed, adalah orangnya. Tak hanya namanya yang panjang dan njelimet, segalanya tentang Ed adalah hal yang sangat absurd.
Seorang remaja jenius komputer yang bertugas sebagai hacker di kru Bebop, Ed digambarkan sebagai sosok yang hidup dalam dunianya sendiri. Cara jalannya aneh. Ia tidak pernah mengenakan alas kaki. Rambutnya acak-acakan. Ketika bicara, ia sering menggunakan kata ganti orang ketiga setiap bercerita sesuatu tentang dirinya.
Walau namanya Edward, ia adalah seorang perempuan. Hal ini yang membuat Ed semakin identik dengan improvisasi bebas dalam musik jazz. Aneh, spontan, eksentrik, tapi juga jujur, intelek dan brilian di saat yang sama.
Meski demikian, sama seperti para lakon Cowboy Bebop lainnya, Ed juga punya 'blues'-nya sendiri. Ia menyimpan masa lalu yang tidak menyenangkan: ditelantarkan oleh ayahnya, seorang kartografer atau pembuat peta bernama Appledelhi Siniz Etoile, di sebuah panti asuhan.
Sang ayah begitu terobsesi menggambar peta dunia, sampai lupa di mana panti asuhan tempat ia meninggalkan Ed. Ketika akhirnya bertemu dengan Ed tanpa sengaja pun, ia tidak menyadari bahwa yang ada di hadapannya adalah putrinya sendiri.
Hal inilah yang kemudian membuat Ed tumbuh sebagai anak yang kesepian dan tidak stabil karena kehilangan figur keluarga. Namun, alih-alih bersedih dan berlaku minder, Ed memilih untuk melihat sisi menyenangkan dari ketidaknyamanan ini. Ia tidak memusingkan kepergian ayahnya dan terus mencari petualangan baru dengan menganggap bahwa dunia adalah sebuah taman bermain raksasa yang tidak akan membuatnya bosan.
Otak Tersembunyi yang Disepelekan
Ke-jazzy-an Ed dalam Cowboy Bebop semakin lengkap lantaran kedekatannya dengan Ein, seekor anjing Pembroke Welsh Corgi hasil rekayasa genetika yang pintar.
Sebagai anjing mutasi, Ein dikisahkan mampu berinteraksi dengan komputer, mengolah data, bahkan pernah membantu Ed dalam proses peretasan.
Sayangnya, karena Ein seekor anjing, ia kerap kali disepelekan oleh para kru Bebop, terutama Spike, Jet dan Faye yang menganggapnya tak lebih dari peliharaan yang merepotkan.
Ditarik ke arah yang lebih filosofis, perlakuan yang diterima oleh Ein sebetulnya adalah sebuah kritik terhadap antroposentrisme, pandangan yang mengatakan bahwa manusia adalah pusat alam semesta.
Seringkali, manusia kerap merasa bahwa mereka adalah makhluk paling pintar. Hal ini membuat manusia gagal mengidentifikasi bentuk kecerdasan lain, bahkan ke sesama manusia, semata-mata karena terbutakan bentuk fisik.
Meski terkesan tak lebih dari karakter pemanis, banyak penggemar Cowboy Bebop memandang Ein sebagai simbol kecil tentang sesuatu yang hilang dari manusia:
kemampuan hidup dengan nyaman di masa kini tanpa menoleh ke masa lalu.
Berbeda dengan Spike, Jet dan Faye yang terus berkutat dengan kenangan masing-masing, Ein sepenuhnya hidup untuk hari ini.
Ein juga tidak punya ambisi di luar nalar meski otaknya disebut setara, atau bahkan melebihi manusia normal. Hari-harinya sudah tercukupi dengan dog food dan tempat tidur yang empuk. Disadari atau tidak, kehadiran Ein mengajarkan bahwa kesederhanaan dan penerimaan diri utuh bisa membuat manusia tetap menjalani hidup.
Satu faktor penting lain yang bisa dipetik dari Ein adalah soal loyalitas tanpa syarat di tengah dunia yang carut marut. Jika semua kru Bebop bersatu karena uang, Ein tidak peduli dengan itu. Ein adalah sebuah anomali bahwa di tengah kesengsaraan dan ketidakpastian hidup yang serba menuntut, kasih tanpa pamrih masih tetap ada.
"You’re Gonna Carry That Weight"
Pengamat budaya pop Susan Napier pernah menulis bahwa banyak anime Jepang modern berbicara tentang alienasi, pencarian identitas dan kesulitan manusia menemukan tempat di mana mereka bisa diterima. Cowboy Bebop adalah salah satu anime yang bisa menyajikan tema tersebut dengan begitu syahdu.
Meski disajikan dalam setting masa depan futuristik, Cowboy Bebop sangat lekat dengan realita masa kini di mana banyak manusia hidup dengan pekerjaan yang tidak menentu, hubungan toxic, masa depan yang kabur dan merasa sendirian di tengah keramaian.
Kru Bebop pun demikian. Mereka bekerja bersama, makan bersama, bercanda bersama, bertengkar bersama, tapi kelimanya hidup dalam pergulatan emosional masing-masing. Mereka tetap kumpulan insan dengan jiwa yang kesepian.
Blues paling menohok dalam Cowboy Bebop mencapai titik kulminasi ketika para kru kapal Bebop berpisah untuk menentukan nasib mereka masing-masing. Spike tewas setelah memutuskan mengonfrontasi masa lalunya; Faye hancur secara mental setelah mendapatkan kembali ingatannya; Ed bertualang ke dunia baru sembari mencari ayahnya bersama Ein; sementara Jet menetap di Bebop dan dengan lapang dada melepas kepergian para rekan yang sudah seperti keluarga kecilnya.
Di akhir cerita, ketika layar berubah hitam pekat, Cowboy Bebop memberikan cherry on top untuk menutup serial ini dengan bittersweet lewat sebuah kalimat menusuk:
“You’re gonna carry that weight,”.
Lebih dari sebuah penutup puitis, kalimat ini bisa dibilang merupakan sebuah pengakuan getir tentang hidup. Luka batin yang tidak hilang, masalah yang tidak selesai, dan masa lalu yang tidak bisa diperbaiki, adalah beban berat yang harus kita pikul sebagai manusia yang hidup dengan problematika masing-masing.
Seburuk-buruknya masa lalu dan sesuram-suramnya masa depan, manusia tetap harus menjalani masa kini dengan tegar. Itulah mengapa falsafah musik jazz dan blues menjadi fondasi emosional yang begitu kental dalam Cowboy Bebop.
Cowboy Bebop bukan anime utopis yang menyuguhkan perbaikan karakter dari para lakonnya yang rusak di dunia ultramodern bertabur pesawat luar angkasa.
Cowboy Bebop hanya ingin menyampaikan sebuah pesan sederhana: masa lalu tidak selalu pergi, masa depan tidak pernah pasti, tapi manusia harus tetap hidup dan memainkan musiknya, hari demi hari.
SEE YOU SPACE COWBOY...