Setelah bertarung melawan penyakit hingga menjalani transplantasi hati di Singapura, kondisi Prof Joniarto Parung semakin baik. Dukungan pun terus mengalir.
PUJI TYASARI
PROFESOR Joniarto Parung harus berjuang melawan kanker liver di tubuhnya. Operasi dilakukan di National University Hospital, Singapura.
Tentu, saat kabar tentang kanker itu datang, Joni sangat khawatir. Namun, Joni berusaha tenang di hadapan keluarga dan rekan-rekannya. Beruntung, keluarga dan orang-orang dekat mendukung dengan porsi yang tepat. Tidak sedih sekali, tidak takut sekali, dan tidak menakut-nakuti atau mengabaikan. Joni pun menjadi lebih tenang.
Keputusan operasi transplantasi liver memang dipilih sebagai jalan satu-satunya. Istri dan anak-anak mendukung operasi. Bahkan, Ketua Yayasan Universitas Surabaya Anton Prijatno juga memberikan dukungan penuh.
Bahkan, kata Anton, jika boleh memilih penyakit, lebih baik transplan liver daripada transplan sumsum tulang. Sebab, tingkat keberhasilan dan teknologi sudah sangat maju untuk melakukan transplantasi liver.
Joni memang pernah merasa takut kalau operasi gagal. Namun, doa rutin dan dukungan keluarga, teman sekolah, teman kantor, pendeta, serta jemaat di gereja membuat Joni tenang. Dia tetap melakukan aktivitas seperti biasa. Demikian juga istri dan anak-anaknya. ”Perhatian atau perlakuan keluarga tidak berlebihan. Wajar saja. Jadi, saya tidak merasa sebagai orang sakit yang akan menjalani operasi besar,” katanya melalui surat elektronik kepada Jawa Pos.
Setiap saat dia tetap berdoa bersama keluarga, seperti yang rutin dilakukannya. Selain mengucapkan doa rutin, Joni memberikan tambahan pada doanya. Dia memohon penyertaan Tuhan selama masa sakit. Joni memohon agar dikuatkan dan dimampukan untuk menunjukkan kemuliaan Tuhan melalui penyakit yang dialaminya. Dia juga memohon kesembuhan.
Malam menjelang operasi, Joni galau. Apalagi setelah pembicaraan dengan putri pertamanya yang akan menjadi donor. Dia khawatir terjadi sesuatu pada putrinya itu. Namun, Joni langsung menepis pikiran tersebut dan berusaha berpikir positif serta berdoa.
Meski galau selama masa sakit dan menjelang operasi, ternyata Joni tetap memperhatikan penampilan. Dia menyemir rambutnya. Itu dilakukan karena dia menyadari akan tinggal di rumah sakit cukup lama. Prediksinya, dia tinggal selama 7–12 hari. Nyatanya, dia sudah tinggal selama 17 hari. Apalagi, ditambah beberapa bulan untuk proses pemulihan agar steril dari kemungkinan tertular virus atau bakteri. ”Saya ingin terlihat tetap segar dengan rambut hitam, hahaha...” kelakar Joni.
Saat kereta didorong menuju ruang operasi, Joni kembali berdoa. Dia memohon agar pada saat maupun setelah operasi, putrinya tidak mengalami hal-hal yang membahayakan nyawanya. Atau, membuatnya sakit dan menderita di kemudian hari. Joni malah lupa berdoa untuk dirinya sendiri.
Suami Agung Setijari tersebut memasuki ruang operasi. Ruangan itu penuh dengan peralatan kedokteran. Hening dan dingin. Beberapa kali dokter dan perawat mengajak Joni mengobrol. Mereka terlihat santai dan tenang. Itu membuat Joni menjadi biasa juga. ”Karena dingin, saya minta diberi tambahan selimut saat menunggu dibius dan operasi,” katanya.
Saat operasi, Joni tidak merasakan apa pun lantaran dibius. Namun, informasi dari tim dokter, proses operasi ditangani dua tim yang berbeda. Yakni, tim untuk mengoperasi donor dan tim untuk mengoperasi penerima donor. Keduanya ditempatkan di ruangan yang berbeda. Di tengah dua ruangan itu, ada tim yang mengatur kebutuhan, penyiapan, dan pemindahan organ.
Pengaturan waktu dan kecepatan pemotongan liver dari donor serta pemantauan kesiapan pasien untuk menerima liver dipantau dan dikomunikasikan oleh tim antara yang ada di tengah dua tim tersebut. Dokter yang menangani Joni mengatakan, proses melepaskan livernya membutuhkan waktu lama. Sebab, liver Joni agak lengket.
Pada Kamis, 15 Desember 2016, operasi dilakukan mulai pukul 07.00. Prediksinya, operasi berlangsung selama 8–10 jam. Ternyata menjadi lebih dari 13 jam.
Putrinya yang akan menjadi donor berada di ruang operasi sejak pukul 06.00. Proses operasinya relatif singkat, yakni tujuh jam.
Pascaoperasi, Joni belum melihat kondisi livernya yang rusak. Sebab, dia baru sadar keesokan harinya sekitar pukul 09.00. Liver itu sudah dibawa ke laboratorium untuk diteliti. Sebelum operasi, dia menandatangani pernyataan bahwa livernya diserahkan untuk digunakan dalam penelitian oleh tim peneliti kanker di NUH, Singapura. ”Saya dapat info, sel kanker di liver berkembang dengan sangat cepat,” ungkapnya.
Joni bersyukur, dukungan untuk kesembuhan dan keselamatannya terus mengalir. Keluarga tidak panik. Meski kaget, semuanya tetap tenang dan percaya pada pertolongan Tuhan. Percaya bahwa Tuhan akan membukakan jalan. Rekan-rekan Joni pun mendoakan. Rekan di jemaat gereja, teman saat SMA, masyarakat Toraja di Malang, kolega di kantor, hingga seluruh stakeholder di kampus sangat mendukung.
Mereka yakin bahwa tim dokter dan peralatan yang sudah maju bisa membuat operasi berjalan lancar. ”Banyak sekali yang mendoakan, di rumah saya, teman-teman lintas agama datang untuk memberikan dukungan dan mendoakan,” katanya.
Tidak sedikit SMS yang masuk ke ponsel Joni. Sebelum jadwal operasi ditetapkan, terang Joni, dia mendapat SMS dari Anton Prijatno, ketua Yayasan Universitas Surabaya. Saat itu Anton sedang melakukan ziarah rohani ke Eropa. Dia mengirim SMS kepada Joni. Bunyinya, Dalam perziarahan saya di semua situs, selalu ada misa tiap hari dan selalu saya doakan Pak Joni agar tangan Tuhan bekerja melalui dokter Singapore.
Joni tersentuh dengan SMS itu. Sebab, perjalanan ziarah sebenarnya lebih banyak untuk penguatan iman internal seseorang. Yakni, melalui napak tilas situs-situs. Apalagi, tempatnya jauh dari Indonesia. Perjalanan ziarah tersebut tentu sangat melelahkan. Namun, Joni terharu dirinya didoakan khusus pada setiap situs. ”Itu perhatian yang tidak dapat diukur dengan apa pun,” ungkapnya.
Setelah operasi, Joni juga mendapat pesan dari Dahlan Iskan melalui WhatsApp (WA). Isinya sangat memotivasi Joni. Mengingatkan sekaligus menguatkan.
WA itu berbunyi: ”99 persen transplan sukses, yang membuat gagal adalah kesembronoan. Kegagalan ada setelah transplan. Sebagai laki-laki perasaan ingin segera menunjukkan bahwa, nih saya sehat, sudah sembuh, jangan dikira saya ini invalid sangat sering timbul. Suasana kejiwaan itu menggoda untuk segera minta pulang, lalu terjadilah infeksi oleh berbagai sebab, lalu bermasalah, lalu gagallah semua pengorbanan keluarga, khususnya sang putri. Pak Joni harus sabar. Ini urusan maraton bukan sprinter. Kita berbicara pemulihan jangka jauh, bukan seperti pemulihan sakit karena luka bacok, hahaha. Disiplin adalah kunci saya bisa bertahan, sekarang sudah hampir 10 tahun. Terutama disiplin minum obat, sudah hampir 10 tahun belum pernah lupa. Saya taruh obat di rumah, di kantor, di mobil, di sekretaris, di Jakarta karena sering ke Jakarta, di Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, di kantong sopir, dll.”
Mendapat pesan dari Dahlan yang berpengalaman dalam transplan liver sungguh sangat luar biasa. Apalagi dengan mengingat pengalaman yang dihadapi Dahlan dalam menghadapi berbagai tantangan dan kesibukan yang luar biasa. Aktivitas Dahlan juga tidak berkurang. Bahkan, sudah 10 tahun bisa survive. Penguatan batin dari Dahlan Iskan itu sangat menggugah Joni. ”Muncul optimisime bahwa saya pun bisa survive dengan disiplin dan tentu dengan perkenan Tuhan,” tuturnya.
Saat dirawat sebelum operasi, e-mail dan WA di ponsel Joni masih aktif sampai malam. Dia pun masih berkoordinasi terkait beberapa surat tugas dan penanganan hal urgen di kampus dan belum sempat disampaikan ke pelaksana tugas (Plt) rektor.
Setelah sadar dari operasi, dia bertanya kepada dokter yang membangunkannya. ”Apakah operasi sudah selesai?” tanya Joni. Dokter itu sempat tertawa sambil bergurau. ”Tidurmu nyenyak sih. Operasi selesai sejak kemarin,” ujarnya. Joni pun langsung memberondong dokter untuk menanyakan keadaan putrinya. Dia bersyukur putrinya baik-baik saja. Barangkali karena masih ada pengaruh painkiller (obat penghilang rasa sakit) sehingga Joni tidak merasakan sakit sama sekali. Dia bergembira, penuh semangat, dan antusias ingin ngobrol.
Joni lalu diajari cara meregangkan otot punggung, kaki, dan teknik untuk batuk atau berdahak agar tidak sakit. Dia juga diajari cara menggeser atau mengubah posisi badan jika sudah jenuh di satu posisi.
Joni mengatakan sempat bosan di rumah sakit. Badannya juga kaku. Dia tidak nyaman dan sedikit frustrasi pada hari ke-6 di ICU. Saat itu ada puluhan kabel atau slang terhubung ke badan Joni melalui urat nadi di pergelangan tangan kiri, tangan kanan, dan leher. Ada juga kabel monitor pada tujuh titik di badan, ditambah kondisi tubuh yang belum stabil.
Pada hari ke-6 itu, Joni sempat berbincang dengan istrinya. Joni bilang bahwa dirinya merasa seolah tidak kuat lagi. Sepertinya, dia ingin menyerah saja. Istri Joni menangis. Lalu berkata, ”Kalau begitu sia-sia pengorbanan anak kita, sia-sia doa dan puasa keluarga, teman, dan jemaat yang tiada hentinya.”
Joni terpukul melihat istrinya menangis untuk kali pertama sejak dirinya didiagnosis. Selama ini sang istri sangat tegar, kuat, dan selalu ceria. Dia seperti punya semangat ekstra dan tidak ada rasa capek. Sang istri berlalu-lalang menguatkan dan bergurau dengan putri-putrinya. Dia juga berkomunikasi dengan pendeta, keluarga yang tidak hadir di Singapura, dan banyak rekan lainnya.
Joni terhenyak, terpukul, dan sadar. Dia sudah mengatakan sesuatu yang salah. Dia segera meminta maaf. Dia berdoa dan tiba-tiba saja Joni teringat film The Passion of the Christ. Film itu mengisahkan Yesus yang menderita dan harus mati di kayu salib untuk menebus dosa umat manusia. Joni malu. Ketidaknyamanan yang dialaminya mestinya masih ringan. Semua proses yang dialami selama ini berjalan mulus. Tidak ada alasan untuk menyerah.
Dia kembali berdoa. Mohon ampun atas perkataan yang sudah diucapkan. Setelah itu, Joni tenang. Kebosanan, kejenuhan, dan putus asa hilang. Cukup mengherankan ketika sorenya, semua organ tubuh yang diperiksa mulai normal dan berlanjut hingga esok hari. Pada hari ke-7, dia bisa keluar dari ICU menuju ruang pemulihan. Sebagian slang dan alat bantu pernapasan bisa dilepas. Joni juga sudah lebih leluasa bergerak, belajar duduk, dan mulai makan bubur.
Kini kondisinya sudah membaik. Tampaknya liver yang dicangkokkan sudah mulai menyatu dengan organ lain. Itu terlihat dari hasil pemeriksaan. Semua indikator fungsi liver, ginjal, jantung, paru-paru, rejeksi, dan sebagainya, sebagian besar normal. Dan, setiap pekan semakin baik. Liver yang dicangkokkan juga sudah berkembang.
Rasa syukur semakin ditambah dengan berbagai cara. Mulai berdoa hingga mengikuti semua petunjuk yang disampaikan dokter. Juga, disiplin makanan dan minum obat. Dia juga teringat WA Dahlan Iskan. Yakni, 99 persen transplantasi liver berhasil baik. Kegagalan terjadi karena kesembronoan, terutama karena tidak disiplin.
Saat ini Joni masih menjalani rawat jalan di Singapura. Namun, pemeriksaan dan konsultasi tetap dilakukan tiga kali seminggu. Dia berharap bisa segera kembali ke Indonesia. ”Setelah itu, kontrol setiap tiga bulan,” terangnya.
Setelah kembali ke Indonesia nanti, serangkaian rencana sudah muncul di benak Joni. Tentu, dia akan kembali bertugas dengan komitmen penuh sesuai fungsi dan tanggung jawabnya. Baik sebagai kepala keluarga, dosen, pimpinan, maupun pelayan di gereja dan kegiatan sosial lainnya.
Dia juga ingin membagi pengalaman kesehatannya. Itu dilakukan sebagai upaya untuk ikut menyadarkan masyarakat. Terutama terkait kesadaran diri agar hidup sehat, hidup bersama komunitas, saling berbagi, dan hidup harmonis dalam keluarga. (*/c7/dos/sep/JPG)