Letkol Inf Fadli Mulyono baru pekan lalu dilantik sebagai komandan Kodim (Dandim) 0816/Sidoarjo. Pengganti Letkol Inf Andre Julian itu punya kebiasaan yang sulit ditinggalkan dalam keadaan apa pun, kapan pun, dan di mana pun. Yakni, berlari.
JOS RIZAL
MESKI baru beberapa hari menjabat Dandim di Kota Delta, jadwal Fadli terbilang langsung padat. Mendatangi satu tempat ke tempat yang lain. Mulai bersilaturahmi ke tokoh masyarakat hingga pejabat pemerintahan. Dalam dua pekan terakhir, dia pun telah menyusuri wilayah Sidoarjo. Dari ujung ke ujung. Fadli yang sebelumnya berdinas di Kostrad itu ingin mengenal medan.
”Suka olahraga nggak? Lari suka?” tanyanya kepada Jawa Pos sambil menjabat tangan saat ditemui di Makodim 0816/Sidoarjo pada Jumat pagi (3/2).
Genggaman tangannya kuat. Otot-otot di sekujur tubuhnya tampak padat. Dengan senyum ramah, anggota TNI-AD kelahiran 1978 itu kemudian mengajak joging bersama. Jawa Pos pun diajak berkeliling di kompleks makodim. Sembari terus berlari, dia menjelaskan bahwa dunia joging atau lari dilakoni sejak SD. Aktivitas itu dilakukan rutin. Setelah bangun tidur, salat Subuh, langsung lari. Selain itu, diteruskan menjelang senja.
Dia memupuk kegiatan itu hingga memasuki SMA Taruna Nusantara, Magelang. Di sekolah tersebut, hobi larinya kian ”menggila”. Teknik berlari yang baik dan membugarkan tubuh dengan waktu yang efisien pun dipelajari. Berbagai event juga diikuti. Di antaranya, Borobudur 10K, Magelang 10K, dan beberapa agenda kegiatan PASI (Persatuan Atletik Seluruh Indonesia) Jateng lainnya. ”Saya bukan atlet atau pelari lho ya, cuma hobi lari,” ujarnya berkelakar.
Sesekali Fadli menengok arloji digital Tissot yang dibelitkan di tangan kanannya. Tak terasa, sudah lebih dari tujuh putaran Jawa Pos dan Fadli mengitari makodim. Di balik celana olahraga pendeknya, dia merogoh kantong saku dan menjulurkan handphone. Lalu, menunjukkan aplikasi Nike Run Club atau Nike Plus. Belakangan, dia memanfaatkan aplikasi itu untuk mengetahui total larinya dalam beberapa bulan terakhir.
Di aplikasi tersebut, tercatat angka dan hari selama berlari. Ternyata sudah sekitar 800 kilometer yang sudah ditempuh. ”Biasanya saya juga pakai ini pas joging,” jelasnya sembari terus berlari.
Meski sudah beberapa kali mengitari kompleks makodim, napas perwira TNI-AD berkulit sawo matang itu begitu teratur. Tak tersengal-sengal. Kaki yang beralas Nike biru itu juga melangkah dengan mantap. Sebaliknya, Jawa Pos sudah ngos-ngosan.
Pria asal Plaju, Sumatera Selatan, itu menjelaskan, lari merupakan dasar dari banyak cabang olahraga. Lari menjadi olah tubuh paling dasar. Dalam militer juga berlaku hal yang sama. Lari merupakan salah satu kegiatan jasmani dasar. ”Kalau saya pribadi, saya lari untuk sehat,” lanjutnya sambil beberapa kali Fadli juga menyambut hormat kepada jajarannya di pagi yang cerah itu.
Selain induk dari banyak olahraga, sambung Fadli, lari merupakan olahraga murah dan sesuatu yang alami. Ada banyak manfaat yang didapatkan ketika seseorang rutin joging. Tak perlu jauh dan lama, dengan teknik yang tepat, seseorang dapat memperoleh kebugaran maksimal.
Dia pun membagi tipnya. Joging bisa dilakukan dalam tiga hari sekali. Atau satu minggu tiga kali. Kebiasaan itu harus terus-menerus dilakukan. Bila ingin membentuk tubuh proporsional, seorang atlet harus melakukannya rutin.
Waktunya juga demikian. Boleh kapan pun. Bila mengacu pada waktu, seseorang dapat joging minimal satu jam untuk mendapat badan proporsional. Waktu sejam itu termasuk pemanasan dan pendinginan. Bila mengacu pada jarak, seseorang dapat joging sekitar 3–5 kilometer.
Bila itu dilakukan rutin, banyak otot yang dapat tersusun padat. Mulai dada hingga otot kaki. Bagian dalam tubuh juga demikian. Paru-paru dan jantung misalnya. Kadar oksigen di dua organ vital orang yang gemar berolahraga makin baik. Semakin tinggi kadar oksigen dalam paru-paru dan jantung seseorang, semakin baik keadaan fisik dan staminanya.
”Kalau saya pribadi, lari lima kali dalam seminggu. Lihat ini otot betis saya. Mana punya kamu?” ujarnya menebar canda. Dia lantas tertawa.
Sejauh ini olahraga lari juga menjadi penilaian berkala dalam dunia kemiliteran. Dalam satu tahun ada sekitar dua kali pemeriksaan jasmani. Badan yang sehat merupakan bekal utama kinerja yang baik.
Dalam kepemimpinannya, Fadli mengusung visi modern dan profesional dalam segala hal. Termasuk berolahraga. Salah satu contohnya profesional dalam berolahraga. Dia hendak menerapkan kepada jajarannya tentang cara berolahraga yang baik. Tujuannya, kebugaran terus terpelihara.
Ketika berolahraga atau berlari, seseorang yang memiliki kecakapan mumpuni akan menghindari berlari dengan menggunakan jaket. Sebab, sirkulasi keringat dan fungsi kulit dapat terganggu. Itu memengaruhi kesehatan dan kebugaran. Akan jauh lebih baik apabila lari dengan memakai kaus yang dapat menyerap keringat. ”Itu salah satu contoh kecil saja,” jelas bapak dua anak itu.
Selama bertugas di luar negeri, Fadli juga gemar berlari. Dia pun membagi kisahnya saat ditugasi sebagai komandan satgas Military Community Outreach Unit (MCOU)-XXX-E. Yakni, salah satu pasukan perdamaian yang dikirim ke Lebanon pada 2015. Di bawah amanat tugas yang diemban, dia mengaku selalu menyempatkan diri untuk terus berlari. ”Terutama menjelang weekend,” katanya.
Salah satu kenangannya adalah saat bertugas di salah satu pusat kota di Naqoura, Lebanon. ”Ada beberapa event lari di sana. Kadang saya ngikutin. Ngikut lari aja. Soalnya, saya bukan maniak event, tapi maniak lari,” jelasnya. Selama setahun penuh dia bertugas sebagai anggota pasukan perdamaian PBB. Selama itu pula dia rutin joging.
Hal serupa dilakukan ketika mengunjungi beberapa pusat militer negara tetangga. Misalnya, ketika berkunjung ke pusat militer Singapura dan Australia. Mantan Danyonif 323 Raider/Buaya Putih itu pun selalu meluangkan paginya untuk joging.
Yang paling berkesan, bagi dia, adalah joging di Sydney pada 2014. Di sana olahraga joging begitu merakyat. Kegiatan itu sering ditemui di banyak sudut kota. Di sepanjang teluk dan pelabuhan, orang-orang berseliweran. Mereka lari ke sana ke mari. Suasana itu menjadi penambah semangat tersendiri bagi dia. Dia memiliki teman berlari meski tak saling kenal. Sejumlah kawasan menyuguhkan panorama apik. Fasilitas trotoar untuk joging juga sangat mendukung. ”Joging di sana paling nyaman,” tuturnya.
Bukan hanya ketika berada dalam medan perang di Lebanon. Joging dalam keadaan genting di dalam negeri juga pernah dirasakan. Dia ingat kala mendapat penugasan di Aceh pada 2001. Keadaan genting antara TNI dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) membuatnya tidak memiliki banyak waktu. Termasuk untuk joging. Namun, lantaran suasana tidak mendukung, dia pun berlari mengitari pos penjagaan dengan membopong senjata. ”Ndilalah terjadi tsunami Aceh, keadaan TNI dan GAM pun mencair,” terangnya.
Dia menjadi salah seorang saksi amukan gelombang air laut itu. Kedua bola matanya sedikit tertegun dengan pandangan mendalam ketika membahas bencana dahsyat tersebut. Namun, dia enggan bercerita lebih dalam. ”Eh, bahasan kita tentang lari dan visi-misi saya sudah sampai mana, ya?” ujarnya mengalihkan. Dia lantas berlari sambil membicarakan banyak hal lain. Termasuk sedikit kisah mengenai pernikahannya dengan Eny Purwaningsih pada 2003. (*/c10/hud/sep/JPG)