← Beranda
Agus Irianto, Kabid di BPBD yang Kini Jabat Kabaghumas Pemkab Nganjuk
Suryo Eko PrasetyoKamis, 19 Januari 2017 | 15.32 WIB
TUGAS BARU: Kabaghumas Pemkab Nganjuk Agus Irianto di kantornya Rabu (18/1). Sejak Desember lalu, dia meninggalkan posisinya sebagai Kabid di BPBD.

Sebelum menjadi pejabat eselon III seperti sekarang, Kabaghumas Pemkab Nganjuk Agus Irianto harus berjuang keras. Hal itu dilakoninya untuk membantu ekonomi keluarga.



ANWAR BAHAR BASALAMAH, Nganjuk



RUANG Kabaghumas Pemkab Nganjuk Agus Irianto di kompleks pendapa kabupaten tidak pernah sepi dari awak media. Misalnya, kemarin siang wartawan datang silih berganti ke ruangannya. Sebagai Kabaghumas, Agus memang menjadi jujukan.


Terutama sejumlah wartawan yang memerlukan konfirmasi atas liputan mereka setiap hari. Setiap mendapat pertanyaan, Agus berusaha menjawabnya dengan lugas.


Dia juga tak segan mencarikan data apabila ada pertanyaan yang belum bisa terjawab. Ya, seperti itulah aktivitas pria yang sebelumnya menjabat Kabid Mitigasi Bencana dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Nganjuk tersebut.


’’Saya usahakan bisa menjawab pertanyaan teman-teman (wartawan, Red),’’ kata Agus ketika ditemui di ruang kerjanya kemarin.


Sebagai abdi negara, dia berprinsip selalu menjalankan tugas sebaik-baiknya. Apalagi, sebelum menjadi pegawai negeri sipil (PNS) di lingkungan pemkab, Agus harus banting tulang menjadi sopir angkutan kota (angkot) di Nganjuk untuk bisa mendapat penghasilan.


’’Sekitar tiga tahun saya jadi sopir angkot,’’ ungkap pria kelahiran 16 Agustus 1962 tersebut.


Dia menjadi sopir angkot mulai 1979 sampai 1981. Saat itu Agus masih mengenyam pendidikan di sekolah pendidikan guru (SPG) di Nganjuk. SPG berlokasi di JalanYos Sudarso yang kini menjadi SMPN 4 Nganjuk.


’’Saya masih kelas I SPG,’’ kenangnya.


Keputusan menjadi sopir angkot itu bukannya tanpa alasan. Agus ingin meringankan beban keluarga. Maklum, orang tua Agus kala itu harus menghidupi lima saudaranya yang semua masih bersekolah.


Padahal, Ahmad Soekodo, sang ayah, berprofesi guru dengan penghasilan kecil. Ibunya, Misnah, hanya ibu rumah tangga. Meski awalnya pekerjaan sampingan Agus itu sempat ditentang sang ibu, keluarga akhirnya memberikan restu setelah Agus berjanji pekerjaannya tersebut tidak mengganggu sekolah.


Agus juga tidak menjadi sopir angkot selama sehari penuh, namun hanya saat pagi sebelum berangkat ke sekolah. Kebetulan, sang ayah memiliki mobil angkot jenis Colt T.


’’Jadi, sebelum disopiri yang asli, saya pakai dulu cari penumpang,’’ ungkapnya.


Untuk mengejar waktu, Agus harus bangun lebih pagi sekitar pukul 04.00. Biasanya, dia mencari penumpang di sekitar Pasar Wage.


Ketika itu, Nganjuk belum memiliki terminal. Dengan trayek Nganjuk–Sawahan, dia mengantar para penumpang ke kecamatan di kaki Gunung Wilis itu.


’’Tujuan terakhir Pasar Sawahan,’’ terang bapak dua anak tersebut.


Karena harus bersekolah, Agus hanya menyopir sekali pulang-pergi (PP). Karena itu, setelah sampai di Sawahan, dia mengantar penumpang ke Nganjuk. Sekitar pukul 06.30, angkot diantar dulu ke rumahnya di Desa/Kecamatan Loceret.


’’Saya kasihkan ke Pak Nanang (sopir yang asli) karena saya harus sekolah. Tapi, kalau minggu, biasanya full sampai sore,’’ tuturnya.


Dari pekerjaan sampingan itu, Agus bisa mengantongi Rp 1.500 setiap hari. Di antara jumlah tersebut, Rp 400 diserahkan kepada ibunya untuk membeli kebutuhan. Setelah dikurangi uang bensin Rp 65, sisanya dikantongi sendiri dan ditabung.


Hasil jerih payah itu digunakan Agus sebagai uang saku sekolah. Selain itu, dia membayar sendiri SPP sekolahnya. Lebih dari dua tahun dia tidak pernah meminta uang SPP dari orang tuanya.


Selama menjadi sopir, banyak suka-duka yang dialami Agus. Misalnya, dia punya penghasilan sendiri. Namun, dia juga harus merasakan banyak duka. Salah satunya, mengganti rugi dagangan penumpang.


Tiga tahun menjadi sopir, Agus mulai mengurangi aktivitasnya saat duduk di kelas III. Sebab, kala itu kegiatan di sekolah lebih padat. Banyak praktik yang tidak bisa ditinggalkan. Selain itu, Agus menjabat ketua organisasi siswa intrasekolah (OSIS).


Apalagi, dia pernah terlambat ke sekolah karena harus menyelesaikan trayek angkotnya. ’’Pernah saya sampai sekolah sekitar pukul 07.30. Langsung dihukum guru,’’ ungkapnya.


Begitu lulus SPG, Agus menjadi guru SD. Namun, pekerjaan sopir belum dilepas sepenuhnya.


Dia kerap menjadi sopir freelance yang mengantarkan penumpang ke luar kota. Biasanya, dia disewa untuk acara keluarga atau kantor.


Baru pada 1987 Agus benar-benar meninggalkan pekerjaan sopir. Waktu itu, dia sudah ditempatkan di ranting dinas pendidikan dan kebudayaan (dikbud) di Kecamatan Loceret.



’’Saya fokus jadi PNS. Pendapatan keluarga juga mulai stabil,’’ ungkapnya. (*/ut/c5/diq/sep/JPG)

EDITOR: Suryo Eko Prasetyo