Ada tim khusus yang turut membantu Bonek dalam berbagai aksi mendukung Persebaya. Yakni, Bonek Hoofdbureau. Anggotanya adalah sepuluh personel Satintelkam Polrestabes Surabaya. Mereka juga berkiprah pada aksi Gruduk Bandung pada 6–8 Januari.
FARID S. MAULANA
MATAHARI belum tampak saat Kompol Edy Kresno dibangunkan tiga anak buahnya. Mata Edy terasa masih lengket. Mengantuk. Tubuhnya pun pegal-pegal lantaran tidur beralas koran di teras Puskesmas Pagaden, Kabupaten Subang, 8 Januari dini hari itu. Juga, dia baru satu jam terlelap.
Perlahan Edy bangkit. Lalu, rasa lelahnya seketika menguap saat mendengar laporan bahwa ada lagi Bonek yang tewas gara-gara minum miras oplosan sehari sebelumnya. ”Sekarang siapkan pemulangan untuk semua jenazah. Secepatnya!” perintah Edy kala itu.
Setelah proses memulangkan jenazah selesai, Edy dan anak buahnya bersama beberapa perwakilan Bonek tak lantas pulang ke Surabaya. Mereka kembali ke Bandung untuk mengawal arek-arekyang menanti hasil kongres PSSI di Hotel Aryaduta, Bandung.
Karena itu, euforia kemenangan atas kembalinya Persebaya ke kompetisi tanah air juga turut mereka rasakan. Walau rasa lelah dalam raga tak bisa ditutup-tutupi. ”Rasanya memang plong. Semua berjalan aman seperti yang kami harapkan. Senang bisa melihat kawan-kawan kami akhirnya bisa melihat Persebaya lagi,” ujar Edy, mengenang momen euforia itu.
Ya, Edy dan sembilan personel dari Satintelkam Polrestabes Surabaya memang sudah menjadi bagian dari aksi-aksi Bonek. Terutama saat Green Force –julukan Persebaya– dibekukan oleh PSSI. Mereka diperintah secara khusus oleh kepolisian untuk menciptakan kondisi yang aman, tertib, dan kondusif di tiap aksi Bonek.
Edy adalah Wakasatintelkam Polrestabes Surabaya. Dialah yang mencetuskan ide untuk membentuk Bonek Hoofdbureau. ”Awalnya cuma Hoofdbureau saja, lama-lama tambah kata Bonek di depan. Keseringan ikut mengawal dan memantau pergerakan mereka jadi serasa Bonek sungguhan,” katanya, lantas tersenyum.
Pria berumur 35 tahun itu mengatakan, Bonek Hoofdbureau berdiri pada 2015. Bertepatan dengan dibangunnya Museum Hoofdbureau di Polrestabes Surabaya. Sejak saat itu sepuluh personel yang memakai nama ”satuan” tersebut.
Awal mula mengawal dan masuk ke komunitas suporter Persebaya memang tidak mudah. Mereka kerap dipandang sebagai musuh Bonek. Terlebih dalam beberapa kericuhan, suporter bentrok dengan aparat. Tapi, Edy dan timnya tak menyerah. Perlahan, mereka masuk ke gaya hidup Bonek. Tokoh-tokoh sentral didekati. Akhirnya, para dedengkotBonek itu mengerti maksud dan tujuan Bonek Hoofdbureau.
”Kami jelaskan semuanya. Bahwa kami di sini karena perintah dan tugas,” terang perwira dengan satu melati di pundak itu. Dia dan anak buahnya pun selalu hadir dalam tiap acara suporter dengan maskot suporter heroik berjuluk Wong Mangap itu. Tentu saja tetap senyap dan melebur dengan masyarakat lain sesuai dengan kerja pasukan intel.
Saking getolnyamengawal Bonek, Edy bahkan berinisiatif membuat kaus khusus Bonek Hoofdbureau. Kaus itu hijau, sesuai identitas Persebaya dan Bonek. Ada tulisan Hoofdbureau di bagian depan. ”Belakangnya tentu saja tulisan Bonek. Penegas bahwa kami ikut mendukung tiap aksi mereka,” lanjutnya.
Kaus itu diminati para Bonek. Tapi, Edy menegaskan bahwa dirinya sengaja membuat limited edition. Khusus untuk polisi di Bonek Hoofdbureau. Bonek pun sampai rela menukar jersey dan beberapa aksesori lain untuk bisa memiliki kaus bertulisan Hoofdbureau di bagian depan itu.
Edy menjelaskan, sakingseringnya mengawal aksi para Bonek, tim khusus binaannya punya ikatan emosional dengan suporter. Tiap pawai atau aksi Persebaya ke luar kota, mereka tak segan satu kendaraan dengan Bonek. Termasuk saat ke Bandung.
Tanpa canggung, Edy dan tiga personel yang dibawanya saat itu ikut naik kereta api bersama ratusan Bonek. Selama 15 jam perjalanan berdampingan dengan Bonek. Sharing,bercanda, dan kadang curhat-curhatan terjadi selama perjalanan. ”Kami semua hafal lagu-lagu Persebaya. Saking seringe ngrungokna,” celetuk pria asal Solo itu, lantas tertawa.
Rekan polisi lainnya justru heran dengan Bonek Hoofdbureau. Bisa naik alat transportasi yang lebih cepat, Edy dan tim malah memilih bareng Bonek. ”Kalau tidak membaur, mana bisa mengawal dan memantau. Jika mau menertibkan dan mengamankan aksi mereka, yakudumau membaur, harus mau hidup seperti mereka,” tegasnya.
Tak jarang pula Bonek Hoofdbureau merogoh kantong pribadi untuk membantu kawan-kawan barunya itu. Misalnya saja saat pemulangan lima jenazah awal Bonek korban miras oplosan. Mereka ikut urunan untuk tiga ambulans yang memulangkan para jenazah ke rumah duka. ”Ya, sudah seperti keluarga. Hubungan emosional di luar tugas yang membuat kami ikhlas membantu. Itu saja,” tuturnya.
Hingga saat ini, sekitar tiga kali Bonek Hoofdbureau ikut Bonek ke luar kota untuk aksi membela Persebaya. Dua kali di Jakarta dan sekali di Bandung. Bahkan, saat berada di ibu kota, awak media justru tidak menyangka bahwa Bonek Hoofdbureau adalah sekumpulan polisi dari Satintelkam Polrestabes Surabaya. ”Mereka kaget saat kami beri air mineral. Lihat wajah kami, sangar-sangar, beda sama Bonek yang ada di sana,” papar Edy.
Edy mengungkapkan, Bonek Hoofdbureau bisa berubah sewaktu-waktu. Bisa tambah personel ataupun ada pergantian. ”Untuk sementara memang dari satintelkam. Tapi, tidak tertutup kemungkinan dari satuan lain jika memang dibutuhkan,” pungkasnya.
Di Bonek Hoofdbureau juga tidak ada jabatan struktural seperti ketua atau wakil. Semua sama tinggi dan sama rata di komunitas itu. ”Tapi, kembali lagi, jabatan siapa yang paling tinggi. Kan saya Wakasatintel-nya,” celetuk Edy, lalu disambut tawa personel Bonek Hoofdbureau lainnya saat ditemui Jawa Pos Sabtu (14/1).
Pria yang mengaku sudah punya banyak atribut Persebaya dan Bonek itu mengungkapkan kegembiraan dan kebanggaannya. Semangat memperjuangkan klub sepak bola yang dicintai menginspirasi. Bahkan, Edy tak ragu menyebut Bonek sebagai contoh suporter pejuang terbaik di Indonesia.
”Bayangkan, beberapa tahun tanpa klub sepak bola sebenarnya mustahil sebuah suporter masih ada. Bahkan makin besar sekarang. Mereka terus berjuang agar klubnya bisa tanding lagi. Terus membela apa yang diyakininya benar,” puji Edy.
Kebanggaan lain adalah kemauan untuk berubah menjadi lebih baik. Menurut dia, Bonek saat ini sudah lebih dewasa. Jarang bikinonar dan kerusuhan. ”Yang masih ndablek itu yang kecil-kecil gak sandalan itu. Yang dewasa dan tua-tua sudah jadi baik,” terangnya.
Edy malah diminta untuk menindak dan menangkap Bonek yang ketahuan berbuat onar. Hukuman tilang diterapkan bagi Bonek yang tak pakai helm saat berkendara roda dua. ”Mereka kalau mau minum alkohol izin kami sekarang. Jadi sopan sekali,” ujar Edy.
Dia berharap Bonek konsisten dan tidak terpecah belah lagi. Bonek bisa jadi ikon Surabaya yang membanggakan. Tentu saja Bonek bisa jadi sahabat polisi. ”Damai, nonton bola tenang kan lebih baik,” harapnya. (*/c11/dos/sep/JPG)