← Beranda
Melihat Kiat Harpi Melati Sidoarjo Melestarikan Busana Adat Jenggolo
AdministratorRabu, 2 November 2016 | 23.49 WIB
INDAH DAN BERSEJARAH: Dari kiri, Nasucha, Sri Hastuti, dan Sudirman menunjukkan busana pakem pengantin khas Sidoarjo yang lama (kiri) dan yang terbaru berdasar hasil riset (kanan).

Mereka bukan ahli rias biasa. Sejatinya, mereka juga para ahli budaya dan sejarah. Dibutuhkan perjuangan keras untuk menemukan karakter baju adat Jenggolo asli Sidoarjo.



 



JOS RIZAL



 



SENIN malam (31/10) Sudirman sibuk sekali. Dia membantu Robi Julianto, siswa SMP PGRI I Buduran, memasang kain batik cokelat bermotif bebungaan di rumahnya di kawasan Magersari, RT 3, RW 1.



Dia melilitkan kain itu di pinggang remaja tersebut dengan telaten. Batik cokelat itu pun menyerupai sarung, menutup bagian bawah tubuh Robi hingga atas mata kaki.



’’Begini cara memasangnya, diingat ya,’’ ujarnya kepada Robi. Kepada Jawa Pos, Sudirman menuturkan bahwa Robi hendak menampilkan kesenian sendratari dan meminta bantuannya mengenai cara memakai baju adat.



Sudah puluhan tahun guru kesenian di SD Muhammadiyah 2 Sidoarjo itu menjadi jujukan orang-orang yang hendak tampil dengan menggunakan pakaian adat. Tepatnya sejak era 90-an.



Dia memang pencinta seni, budaya, dan sejarah. Bersama sang istri Sri Hastuti, dia juga membuka jasa rias pengantin di rumahnya. Keduanya kerap berkutat dengan seni berpakaian dan sejarahnya.



Sudirman maupun Sri Hastuti adalah petinggi Himpunan Ahli Rias Pengantin Indonesia (Harpi) Melati Sidoarjo. Sudirman menjabat ketua divisi penelitian dan pengembangan, sedangkan Sri Hastuti menjabat sekretaris.



Secara struktur, Harpi ada di tingkat kabupaten/kota hingga provinsi. ’’Selain menjaga kekompakan, fungsi Harpi adalah menjaga tradisi tata cara penggunaan busana dalam upacara pernikahan. Lengkap dengan rentetan upacaranya,’’ jelas Sudirman.



Dia lantas mengajak Jawa Pos untuk masuk ke ruang tamunya. Di ruang itu tergantung rupa-rupa baju adat yang acap digunakan ketika karnaval hingga pesta perkawinan. Ada yang tergantung, ada pula yang dilipat rapi.



Di salah satu sudut terpampang foto sepasang perempuan dan lelaki yang menggunakan baju adat. ’’Oh, itu foto baju adat pasangan Jenggolo,’’ kata Sri menimpali. Dia menuturkan, kini baju tersebut kurang diminati para kliennya.



Orang-orang lebih suka menggunakan pakaian modifikasi untuk pernikahan ketimbang baju adat Jenggolo. Padahal, baju adat tersebut sarat makna serta merupakan peninggalan kebudayaan masa Kerajaan Jenggolo.



Tidak lama kemudian, Ketua Harpi Sidoarjo Nasucha datang. Dia ikut berbagi cerita. ’’Baju adat adalah peninggalan leluhur,’’ ujarnya membuka pembicaran.



Nasucha kemudian membeberkan cerita di balik baju adat itu. ’’Sebagai profesi, kami penata rias mulanya hanya merias,’’ jelasnya. Nasucha menjadi penata rias pengantin sejak 1975.



Dia banyak bergelut dengan kostum dan model riasan. Hingga suatu hari, sekitar 1985, tergelitik rasa ingin tahu asal busana-busana yang digunakan masyarakat saat mengadakan upacara pernikahan.



Seorang rekannya kemudian mengajaknya untuk mempelajari dan mencari tahu asal usul busana pernikahan warga. Dari sana dia terdorong untuk mendirikan Harpi Sidoarjo.



Organisasi itu lantas resmi berdiri pada 20 Oktober 1997 atas dukungan kerabatnya. ’’Sejak saat itu kami menelusuri asal pakaian adat yang beredar di tengah masyarakat Sidoarjo,’’ paparnya.



Awalnya, Harpi menghadapi kesulitan. Sebab, mereka menemui banyak kesamaan karekter busana antara satu kota dan kota lain.



Hingga kini, baju adat Kesultanan Solo dan Mataraman, Jogja, banyak memengaruhi busana pernikahan suku Jawa. Atasan hitam dan bawahan kain batik dibalut banyak bunga melati.



Lengkap dengan pernik-pernik seperti kalung dan gelang. ’’Meski begitu, ternyata ada perbedaan mencolok antara satu daerah dan daerah lain. Sehingga terus kami telusuri,’’ lanjutnya.



Bersama dengan dewan kesenian, Pemkab Sidoarjo, dan pakar sejarah, Harpi terus melakukan riset lapangan. Salah satunya mempelajari seluk-beluk dan cerita di balik pembuatan candi.



Berbagai literasi pun dibuka. Puluhan diskusi dilakukan. Mereka juga memotret bagian-bagian mencolok dari situs-situs purbakala itu. Nasucha dan Sudirman lantas menyodorkan kumpulan foto ketika melakukan riset.



’’Lihat ini. Foto ini diambil di Candi Dermo. Putri Jenggolo dulu menggunakan kalung dengan model seperti ini,’’ jelas Sudirman.



Foto yang diperlihatkan Sudirman merupakan perwujudan seorang perempuan yang terukir di permukaan batu. Perempuan tersebut mengenakan kalung hiasan segi tiga yang terbalik memanjang.



Itu merupakan kalung Suryo Gumiring. Kalung yang kerap digunakan putri Kerajaan Jenggolo 10 abad lalu. Satu perbedaan telah ditemukan. Perbedaan kedua yang ditemukan dalam arca-arca yang telah ditelusuri adalah cincin Lintang Gumirang.



Cincin tersebut berbeda dengan cincin pada umumnya. Permatanya sebesar kelereng dengan ujung lancip. Cincin permata itu kerap digunakan untuk menstempel surat sebagai tanda tangan.



Selain kalung dan cincin tersebut, ada pelbagai hal unik lain yang ditemukan. Pada pasangan lelaki, mahkota yang digunakan berupa odheng terbuka dengan dua buah untai.



Pertanda sejarah Kerajaan Airlangga yang terbelah menjadi Kerajaan Kediri dan Jenggolo. Sementara itu, pasangan perempuan menggunakan mahkota Cunduk Menthul Sekar Barongan.



Mahkota tersebut berhias tujuh emas bermotif melati, pertanda 7 bidadari yang konon pernah turun ke Kerajaan Jenggolo.



Di bagian baju, motif untaian bunga melati dan cempaka mendominasi kain hitam yang melambangkan keabadian. Sebelumnya, pakaian yang dikenakan menggunakan corak Solo yang didomiasi rupa-rupa bunga cendrawasih.



Di bagian bawah, batik yang digunakan pakaian adat Jenggolo adalah batik Barongan. Yakni, batik berwarna merah dan bermotif rawa-rawa. Pertanda daerah geografis Sidoarjo.



Upaya mendalami busana tersebut berbuah manis. Pada 2006 Kemendikbud meresmikan budaya khas Jenggolo. Tentu ada banyak pembeda antara busana Jenggolo dan busana di daerah Jawa lainnya.



’’Sayangnya, meski penelusuran sedemikian rupa telah dilakukan, masyarakat masih enggan menggunakan pakaian adat Jenggolo,’’ jelas Nasucha.



Menurut Nasucha, demi menarik simpati masyarakat agar mau menggunakan pakaian adat Jenggolo dalam pesta pernikahan, dirinya pernah menggratiskan biaya sewa. ’’Tapi tetap saja sepi peminat,’’ ungkapnya.



Masyarakat ternyata lebih suka mengenakan pakaian adat modifikasi ketika menghelat upacara pernikahan. Kebanyakan memilih menggunakan kain batik dan modifikasi kain lainnya sebagai upaya mempercantik pasangan pengantin.



’’Kata mereka, baju Jenggolo kuno,’’ paparnya, lantas tersenyum kecut. Meski begitu, mereka tidak putus asa. Organisasi nirlaba itu kini membuat kebijakan.



Yakni, setiap anggota keluarga Harpi Sidoarjo yang hendak mengadakan upacara pernikahan wajib menggunakan busana adat asli Jenggolo.



Mereka bukan ahli rias biasa. Sejatinya, mereka juga para ahli budaya dan sejarah. Dibutuhkan perjuangan keras untuk menemukan karakter baju adat Jenggolo asli Sidoarjo. (*/c15/pri/sep/JPG)

EDITOR: Administrator