← Beranda
Drayang Kijang Kencana Kembali Digelar di TIM, Jakarta, dengan Live Gamelan Orchestra
Abdul Rahman• Kamis, 3 September 2026 | 16.08 WIB
Drayang Kijang Kencana 2026 akan digelar di TIM, Jakarta, pada 13 September 2026. (istimewa)

 

JawaPos.com - Pertunjukan musikal wayang Drayang Kijang Kencana kembali menyapa penonton setelah sebelumnya sukses dipentaskan pada 2025. Kali ini, karya produksi Swargaloka tersebut akan hadir dengan penguatan konsep artistik, termasuk rencana menghadirkan Live Gamelan Orchestra, pada 13 September 2026 di Teater Besar Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta.

Mengangkat kisah klasik Ramayana dari sudut pandang yang berbeda, Drayang Kijang Kencana mencoba membawa cerita wayang lebih dekat dengan penonton masa kini, khususnya generasi muda. Perpaduan drama, tari, musik, koreografi, multimedia, hingga tata cahaya menjadi kekuatan utama pertunjukan yang dikemas dalam format musikal modern.

Pementasan tahun ini mengusung tajuk “Semakin Istimewa” dan akan dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama berlangsung pukul 15.00–17.00 WIB, sementara sesi kedua digelar pukul 20.00–22.00 WIB.

Produser Drayang Kijang Kencana, Bagaskoro Putro, mengatakan bahwa keputusan untuk kembali mementaskan karya tersebut didasari keinginan untuk menjangkau lebih banyak penonton yang belum sempat menyaksikan pertunjukan sebelumnya.

Baca Juga: Audi Marissa Ungkap Pesan Perpisahan usai Gugat Cerai Anthony Xie

“Drayang Kijang Kencana masih memiliki perjalanan yang panjang. Kami merasa masih banyak penonton yang belum sempat menyaksikan karya ini, sekaligus masih banyak generasi muda yang belum pernah menikmati kisah wayang dalam kemasan pertunjukan musikal,” ujar Bagaskoro.

Menurutnya, kehadiran kembali Kijang Kencana juga menjadi upaya menunjukkan bahwa cerita wayang tetap dapat memiliki tempat di tengah perkembangan industri hiburan modern.

Di tengah banyaknya pilihan pertunjukan kontemporer, wayang dinilai tetap mampu hadir dengan bahasa artistik yang segar, emosional, dan dekat dengan kehidupan penonton masa kini. Melalui pendekatan tersebut, Drayang berusaha menjembatani kekayaan tradisi dengan estetika panggung modern.

Pementasan Kedua Hadir dengan Penguatan Artistik

Creative Director Bathara Saverigadi Dewandoro mengungkapkan bahwa pementasan kedua Kijang Kencana tidak sekadar mengulang pertunjukan sebelumnya. Meski tetap mempertahankan ruh utama cerita, sejumlah elemen artistik akan diperkuat untuk menghadirkan pengalaman yang lebih imersif.

Salah satu pembaruan yang menjadi perhatian adalah kehadiran Live Gamelan Orchestra. Musik gamelan nantinya tidak hanya berfungsi sebagai pengiring adegan, tetapi menjadi bagian penting dalam membangun energi dan emosi sepanjang pertunjukan.

“Musik tidak lagi hanya menjadi pengiring, tetapi menjadi napas yang hidup bersama para penari dan pemain,” kata Bathara.

Selain musik, penguatan juga dilakukan pada koreografi, dinamika dramatik, visual panggung, serta detail penyajian. Penonton yang pernah menyaksikan pementasan pertama diharapkan dapat menemukan pengalaman berbeda melalui intensitas pertunjukan yang lebih matang.

Sementara bagi penonton yang baru pertama kali menyaksikan Kijang Kencana, pementasan September 2026 nanti menjadi kesempatan untuk mengenal kisah Ramayana melalui pendekatan yang berbeda dari pertunjukan wayang konvensional.

Kisah Kalamarica di Balik Kijang Kencana

Drayang Kijang Kencana mengambil salah satu bagian penting dalam kisah Ramayana, tetapi menempatkan tokoh Kalamarica atau Marica dalam sudut pandang yang lebih menonjol.

Kalamarica merupakan patih yang mendapat tugas dari Rahwana untuk menggoda Shinta. Ia kemudian mengubah dirinya menjadi seekor kijang emas yang penuh pesona.

Shinta yang tengah menjalani pengasingan bersama Ramawijaya di Hutan Dandaka terpikat pada keindahan kijang tersebut. Ia kemudian meminta Rama menangkapnya untuk dijadikan teman selama berada di pengasingan.

Namun, keinginan itu justru menjadi awal dari sebuah petaka. Ketika Rama meninggalkan Shinta untuk mengejar Kijang Kencana, situasi tersebut dimanfaatkan Rahwana untuk menculik Shinta dan membawanya ke Alengka.

Kalamarica memang berhasil menjalankan tugasnya, tetapi perjalanan tokoh tersebut berakhir dengan kematian. 

Melalui Drayang Kijang Kencana, kisah yang selama ini dikenal sebagai bagian dari perjalanan Rama dan Shinta ditampilkan dengan perspektif yang lebih mendalam terhadap peran sang Kijang Kencana.

Bathara berharap pendekatan tersebut dapat membuka cara baru bagi masyarakat dalam menikmati cerita klasik Nusantara.

“Selama ini kita mengenal kisah Ramayana melalui potongan-potongan adegan yang singkat. Dalam karya ini, tokoh Kijang Kencana justru menjadi pusat perjalanan cerita, sehingga penonton diajak memahami perannya secara lebih utuh dan mendalam,” ujarnya.

Ia menilai tradisi tidak pernah kehilangan relevansinya. Yang terus berkembang adalah cara masyarakat menghidupkan, merasakan, dan menceritakan kembali warisan budaya kepada generasi berikutnya.

Bathara Saverigadi Dewandoro Pimpin Konsep Kreatif

Konsep kreatif Drayang Kijang Kencana 2026 dipimpin oleh Bathara Saverigadi Dewandoro sebagai Creative Director. Ia dikenal sebagai koreografer, sutradara artistik, dan kreator seni pertunjukan yang aktif memadukan tradisi Indonesia dengan pendekatan kontemporer.

Dalam beberapa tahun terakhir, Bathara mengembangkan berbagai karya berbasis budaya dengan menekankan kekuatan narasi, eksplorasi gerak, musik, serta visual panggung.

Baginya, tradisi bukan sekadar warisan yang harus dipertahankan dalam bentuk yang sama, melainkan sumber inspirasi yang dapat terus berkembang tanpa kehilangan akar budayanya.

Melalui Kijang Kencana 2026, Bathara menghadirkan pendekatan dramatik yang lebih sinematik. Penataan adegan, koreografi, ritme pertunjukan, tata cahaya, hingga penggunaan multimedia dirancang untuk memperkuat pengalaman emosional penonton.

“Wayang adalah identitas budaya yang memiliki ruang sangat luas untuk terus berkembang. Tantangannya bukan mengubah tradisinya, tetapi menemukan cara agar generasi hari ini dapat merasakan kedekatan emosional dengan cerita-cerita klasik yang kita miliki,” ujar Bathara.

Upaya Pelestarian Budaya Lewat Inovasi

Swargaloka menempatkan Drayang sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem seni pertunjukan Indonesia yang berkelanjutan.

Tak hanya menghasilkan karya panggung, proses produksi juga menjadi ruang kolaborasi antara seniman muda dan praktisi berpengalaman dari berbagai disiplin seni.

Melalui pendekatan tersebut, seni pertunjukan berbasis budaya diharapkan tidak hanya menjadi ruang apresiasi bagi kalangan tertentu, tetapi mampu menjangkau publik yang lebih luas.

Inovasi dalam penyajian juga menjadi salah satu cara untuk memperkuat posisi seni tradisi di tengah perubahan pola konsumsi hiburan masyarakat.

Dengan kemasan musikal modern, Kijang Kencana mencoba memperlihatkan bahwa cerita yang telah hidup selama ratusan tahun tetap dapat menemukan penontonnya di era sekarang.

Jadwal dan Harga Tiket Drayang Kijang Kencana 2026

Pementasan Drayang Kijang Kencana akan berlangsung pada:

Hari/Tanggal: 13 September 2026
Lokasi: Teater Besar Taman Ismail Marzuki, Jakarta

Sesi 1: 15.00–17.00 WIB
Sesi 2: 20.00–22.00 WIB

Tiket tersedia dalam beberapa kategori dengan harga sebagai berikut:

WIP: Rp 750.000

VIP: Rp 450.000

Kategori 1: Rp 275.000

Kategori 2: Rp 175.000

Kategori 3: Rp 75.000

Penjualan tiket telah dibuka melalui platform Loket dan TipTip. Penonton juga dapat memantau informasi promo serta perkembangan terbaru pementasan melalui kanal media sosial Swargaloka.

Baca Juga: Foto Terakhir Kebersamaan Anthony Xie dengan Audi Marissa Usai Digugat Cerai

Kembalinya Drayang Kijang Kencana ke panggung menjadi kesempatan bagi penonton untuk menyaksikan bagaimana kisah klasik Ramayana diterjemahkan melalui bahasa musikal yang lebih dekat dengan generasi sekarang.

Dengan penguatan artistik, rencana kehadiran Live Gamelan Orchestra, serta pendekatan panggung yang lebih imersif, pementasan ini menjadi salah satu agenda seni pertunjukan yang patut diperhatikan di Jakarta pada September 2026.

EDITOR: Abdul Rahman