← Beranda
Christopher Lehmpfuhl Mengungkapkan Kesamaan Seniman dari Indonesia dan Jerman 
Abdul RahmanJumat, 21 Agustus 2026 | 01.59 WIB
Artist Talk dengan tema "Plein Air Painting as a Medium for Cross-Cultural and Cross-National Artistic Collaboration" di TIM, Cikini, Jakarta. (Abdul Rahman/JawaPos.com)

 

JawaPos.com - Seniman asal Berlin, Jerman, Christopher Lehmpfuhl, memiliki cara unik dalam menghasilkan karya lukis. Alih-alih mengandalkan kuas, dia selalu menggunakan jari secara langsung untuk mengolah cat dan membentuk objek yang diinginkan. 

Bagi Christopher, teknik tersebut membuat dirinya merasa lebih dekat dan lebih menyatu dengan karya yang sedang dibuatnya.

"Saya langsung pakai jari. Saya merasa bisa lebih menyatu dengan apa yang saya lukis ketika menggunakan jari," kata Christopher di acara Artist Talk di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Rabu (19/8).

Teknik melukis langsung tersebut menjadi salah satu bagian dari pendekatan Christopher terhadap seni plein air. Yaitu praktik melukis secara langsung di ruang terbuka dengan menjadikan lingkungan sekitar sebagai sumber inspirasi. 

Baca Juga: Ardhito Pramono Gugat Sony Music, Tuntut Ganti Rugi Rp 5,7 Miliar Terkait Royalti Lagu

Baginya, proses berkarya bukan hanya tentang menghasilkan gambar, tetapi juga pengalaman berinteraksi dengan tempat dan suasana yang ditemuinya.

Dalam kegiatan bertajuk "Plein Air Painting as a Medium for Cross-Cultural and Cross-National Artistic Collaboration", Christopher melihat adanya kesamaan antara komunitas pelukis plein air di Jerman dengan para seniman lukis yang ditemuinya di Indonesia. Kesamaan itu dinilai dapat menjadi jembatan untuk mempererat hubungan seniman dari kedua negara.

"Saya kalau bepergian ke negara lain dan menemukan orang-orang yang melakukan hal yang sama, akan membuat saya merasa sangat akrab," ujarnya.

Christopher mengatakan, para pelukis plein air di Jerman memiliki kebiasaan melakukan perjalanan ke berbagai tempat untuk melukis secara langsung di lokasi. Setelah menyelesaikan karyanya, mereka kemudian membawanya ke ruang pameran untuk diperlihatkan ke publik.

Ia mencontohkan komunitas Norddeutsche Realisten atau Realis Jerman Utara yang diikutinya. Komunitas tersebut secara rutin bepergian ke sejumlah lokasi dan mengabadikan pemandangan maupun lingkungan sekitar melalui lukisan yang dibuat langsung di tempat.

Menurut Christopher, pengalaman bertemu dan bekerja bersama sejumlah seniman Indonesia menunjukkan bahwa seni dapat menjadi bahasa bersama yang melampaui perbedaan yang ada. 

Kesamaan metode berkarya membuat proses pertukaran budaya terasa lebih dekat, meski masing-masing seniman tetap memiliki latar belakang dan sudut pandang yang berbeda.

Menariknya, perbedaan perspektif justru menjadi bagian penting dalam kolaborasi tersebut. Ketika seniman Indonesia dan Jerman mengamati objek atau lanskap yang sama, hasil lukisannya tidak selalu serupa. Setiap seniman membawa pengalaman, karakter, serta cara pandang masing-masing ke dalam karya.

"Menurut saya menarik melihat bagaimana mereka terinspirasi oleh motif yang sama, tetapi menafsirkannya dengan cara yang berbeda," ungkap Christopher.

Christopher Lehmpfuhl melakukan kegiatan berkarya bersama sejumlah seniman Tanah Air melakukan selama sekitar 2 minggu, beberapa bulan lalu. Mereka melukis di ruang terbuka mulai dari Jakarta, Cisarua, Borobudur hingga Pacitan. 

Pengalaman tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam karya yang menonjolkan tekstur, warna, gerak, cahaya, serta karakter setiap lanskap.

Christopher Lehmpfuhl menggunakan teknik impasto dengan lapisan cat tebal yang diaplikasikan secara langsung menggunakan tangan. Beberapa karyanya terinspirasi dari keindahan Monumen Nasional (Monas) dan sejumlah gedung di sampingnya.

Baca Juga: Sarwendah Merasa Lucu Ruben Onsu Minta Audit Nafkah Anak

Sejumlah lukisan karya Christopher Lehmpfuhl kini dipamerkan oleh SBY Art Community dengan mengusung tajuk "Art for Peace and a Better Future: Collaboration".

Pameran tersebut berlangsung di Galeri Emiria Soenassa dan Galeri Oesman Effendi, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada 18-30 Agustus 2026.

EDITOR: Abdul Rahman