JawaPos.com - Harga minyak mentah dunia kompak melemah pada perdagangan Kamis (15/10) pagi ditengah meningkatnya serangan dari Rusia hingga Timur Tengah yang mengancam pasokan minyak global.
Melansir Investing pada pukul 07:45 WIB, kontrak berjangka minyak mentah Brent turun 0,77 poin atau 0,73 persen ke level 105,27 dolar per barel atau lebih rendah jika dibandingkan dengan harga yang diperdagangkan Rabu (15/10) pagi sebesar 106,50 dolar per barel.
Sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat turun 0,63 poin atau 0,66 persen ke level 94,46 dolar per barel atau lebih rendah jika dibandingkan dengan harga yang diperdagangkan Rabu (14/10) pagi sebesar 94,87 dolar per barel.
Melansir Bloomberg, sebuah kapal kargo tenggelam setelah terkena proyektil yang tidak diketahui saat melintasi Selat Hormuz. Pada saat yang sama, kelompok Houthi yang didukung Iran terus melancarkan serangan rudal dan drone ke sejumlah wilayah di Arab Saudi.
Sementara itu, Rusia menuduh Ukraina menyerang dua kilang minyak pada Rabu, sehingga melanggar gencatan senjata energi yang diusung Presiden AS Donald Trump.
Pengurasan persediaan selama konflik membuat stok minyak global yang terpantau berada 509 juta barel di bawah level sebelum konflik. Persediaan di darat juga mendekati level terendah dalam setidaknya satu dekade, menurut Badan Energi Internasional (IEA) pada Rabu.
IEA memperingatkan bahwa pasokan solar dan bahan bakar lainnya akan tetap berada di bawah tekanan pada tahun depan.
“Jika serangan baru terhadap infrastruktur minyak di Timur Tengah semakin mengganggu pasokan minyak di tengah pasar fisik yang sudah sangat ketat, biaya energi dan inflasi akan meningkat lebih tinggi,” ujar Kepala Global Strategi Komoditas di TD Securities, Bart Melek.
Baca Juga: Empat Orang Terluka dan 15 Rumah Rusak Terkena Puing Rudal Houthi yang Dicegat Saudi
Di AS, American Petroleum Institute (API), organisasi yang didanai industri minyak, melaporkan persediaan minyak mentah nasional turun 11,1 juta barel pada pekan lalu, menurut dokumen yang dilihat Bloomberg. (*)