← Beranda
Wartsila: Fleksibilitas Jaringan Listrik Kunci Indonesia Mempercepat Energi Terbarukan 
Mohamad Nur Asikin• Kamis, 24 September 2026 | 17.08 WIB
Wartsila, perusahaan teknologi global asal Finlandia memaparkan keunggulan teknologi dan solusi yang ditawarkan untuk mendukung visi ketenagalistrikan di Indonesia, termasuk dalam mencapai tujuan RUPTL 2025-2034. (Istimewa).

Kelompok teknologi global Wartsila menyoroti pentingnya fleksibilitas jaringan listrik untuk mendukung pertumbuhan ini sekaligus menjaga ketahanan energi dan menurunkan emisi. 

Berdasarkan RUPTL 2025–2034, Indonesia berencana menambah kapasitas pembangkit listrik sebesar 69,5 GW pada tahun 2034, yang mencakup 42,6 GW energi terbarukan dan 10,3 GW kapasitas gas baru. 

Membangun sistem tenaga listrik yang tangguh tidak hanya membutuhkan kapasitas pembangkitan yang memadai. Sistem tersebut juga memerlukan sumber daya yang mampu merespons dengan cepat terhadap perubahan kondisi operasi, mendukung stabilitas jaringan, dan menjamin keandalan pasokan listrik seiring berkembangnya pola permintaan energi. 

“Ketahanan energi pada akhirnya berarti memiliki sistem tenaga listrik yang mampu beradaptasi,” ujar Ossi Ylinen, Managing Director PT Wartsila Indonesia. 

Ambisi Indonesia yang telah diumumkan untuk mengembangkan 100 GW tenaga surya menunjukkan skala dan kecepatan transisi energi negara ini. Seiring dengan meningkatnya pembangkit listrik tenaga surya, kapasitas penyeimbang yang fleksibel akan memainkan peran penting dalam menjaga keandalan sistem ketika output tenaga surya berfluktuasi atau berhenti setelah matahari terbenam.

Baca Juga: Festival DEB Pertamina 2026 Perkuat Kolaborasi, Pacu Energi Terbarukan Jadi Penggerak Ekonomi Desa 

Pembangkit listrik berbasis mesin dengan kemampuan start-up cepat menyediakan fleksibilitas operasional yang dibutuhkan untuk mengintegrasikan lebih banyak energi terbarukan sekaligus menjaga pasokan listrik tetap andal.

“Pembangkit listrik berbasis mesin Wartsila dirancang untuk melengkapi pembangkit energi terbarukan yang bersifat variabel,” kata Frederic Carron, Vice President, Middle East and Asia, Wartsila Energy. 
“Mesin-mesin tersebut dapat dinyalakan dan mencapai beban penuh dalam waktu kurang dari dua menit, serta outputnya dapat disesuaikan dengan cepat sesuai kebutuhan jaringan. Hal ini memungkinkan pembangkit memberikan kapasitas penyeimbang saat produksi energi terbarukan berfluktuasi, sehingga keandalan dan stabilitas sistem tetap terjaga.” 

Pendekatan Wartsila menggabungkan pembangkit energi terbarukan, penyimpanan energi, dan pembangkit mesin fleksibel untuk penyeimbang sistem. Portofolio mesin Wartsila juga terus dikembangkan agar dapat menggunakan bahan bakar berkelanjutan ketika tersedia secara komersial dalam skala besar, sehingga menyediakan jalur menuju emisi yang semakin rendah tanpa mengorbankan keandalan sistem. 

“Keputusan yang diambil hari ini akan menentukan aspek ekonomi dan ketahanan sistem tenaga listrik Indonesia di masa depan,” ujar Frederic Carron. 

“Dengan memprioritaskan teknologi yang fleksibel, Indonesia dapat memperkuat keandalan jaringan, mempercepat integrasi energi terbarukan, dan mendukung perjalanan menuju target net-zero.” 

Wartsila melihat peluang serupa dalam jangka menengah hingga panjang di Asia, termasuk Indonesia. Pembangkit listrik modular berbasis mesin gas yang fleksibel dapat menyediakan pasokan listrik utama di lokasi yang kapasitas jaringannya terbatas. Kapasitas pembangkit juga dapat ditambahkan secara bertahap seiring pertumbuhan kebutuhan pusat data. 

Aset-aset ini juga dapat mengambil peran berbeda ketika koneksi jaringan listrik sudah tersedia. Alih-alih menjadi tidak terpakai, pembangkit mesin dapat berfungsi sebagai kapasitas penyeimbang atau pembangkit beban puncak (peaking plant), membantu mengelola fluktuasi pasokan dan permintaan listrik sekaligus mendukung peningkatan porsi energi terbarukan dalam sistem. 

“Bagi pusat data, kecepatan memperoleh pasokan listrik kini hampir sama pentingnya dengan akses terhadap listrik itu sendiri,” ujar Patrik Farkas, General Manager, Market Development, Middle East and Asia, Wartsila Energy. 

“Para pengembang semakin menilai infrastruktur energi sebagai bagian strategis dari keputusan investasi mereka. Pembangkitan listrik onsite yang dapat diskalakan memungkinkan proyek berjalan meskipun kapasitas jaringan terbatas, sambil tetap mempertahankan opsi untuk mengalihkan fungsi aset tersebut ketika sistem tenaga di sekitarnya berkembang.” 

Pengalaman Wartsila di pasar pusat data global yang berkembang pesat menunjukkan besarnya peluang ini. Perusahaan telah menjual proyek-proyek terkait pusat data dengan total kapasitas lebih dari 2,4 GW di Amerika Serikat dan Eropa. Wartsila mengidentifikasi Indonesia, Malaysia, Jepang, dan Australia sebagai pasar yang menawarkan peluang jangka menengah hingga panjang untuk solusi kelistrikan pusat data. 

 

EDITOR: Mohamad Nur Asikin