JawaPos.com - PT PGN Tbk melalui anak usahanya, PT Gagas Energi Indonesia, terus memperluas penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) bagi pelanggan komersial dan retail di wilayah yang belum terjangkau jaringan pipa gas bumi.
Di Yogyakarta, Gagas saat ini telah melayani empat pelanggan dengan total penyaluran CNG mencapai sekitar 50 ribu-60 ribu meter kubik (m3) per bulan.
Head Area Gagas Yogyakarta, Miranti Dyah Pramesti, mengatakan CNG menjadi solusi bagi pelanggan yang membutuhkan gas bumi tetapi lokasinya belum terhubung dengan jaringan pipa PGN.
"Gagas itu kan memang mengakomodir lokasi pelanggan yang belum ada jaringan pipanya," ujar Miranti saat ditemui, Yogyakarta, Rabu (16/9).
Baca Juga: Bukan Harga Kedelai, Ini yang Paling Dikhawatirkan Pengrajin Tahu dan Tempe
Untuk mendapatkan layanan CNG, calon pelanggan terlebih dahulu mengajukan permintaan kepada Gagas. Perusahaan kemudian melakukan survei untuk menghitung kebutuhan volume gas sekaligus mengecek kesiapan instalasi di lokasi dan menetapkan konsumsi minimum 500 m3 per bulan bagi pelanggan CNG.
"Surveinya itu terkait satu, volumenya berapa, karena kita ada minimumnya 500 kubik per bulan," ujarnya.
Gagas juga menyiapkan proses konversi instalasi bagi pelanggan yang sebelumnya menggunakan LPG. Survei mencakup kebutuhan instalasi tambahan hingga jumlah kompor yang akan dikonversi.
Dari sisi layanan, Gagas menawarkan kontrak penyaluran CNG dengan periode tertentu. Untuk pelanggan retail melalui layanan GasKu, harga CNG bersifat flat selama masa kontrak sehingga tidak mengikuti perubahan harga minyak dunia dalam jangka pendek.
"Kalau CNG, kalau GasKu ini flat. Jadi memang kalau untuk retail ya, saya ngomongnya untuk retail, kita memang harganya karena tidak terpengaruh dengan minyak dunia, jadi kita enggak ikut yang tiap dua minggu itu," ucapnya.
Selain Yogyakarta, Gagas juga mengembangkan pasar CNG di wilayah Solo dan Magelang. Total penyaluran CNG Gagas di kawasan Jawa Tengah bagian selatan, termasuk Yogyakarta dan Solo, saat ini mencapai sekitar 80 ribu m3 per bulan.
Pemanfaatan CNG juga mulai diperluas ke fasilitas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG). Gagas saat ini melayani sekitar 10 SPPG di Solo dan dua SPPG di Magelang.
Pengembangan CNG tersebut ditujukan untuk menghadirkan akses gas bumi bagi pelanggan di wilayah yang belum memiliki jaringan pipa. Namun, ketika jaringan pipa gas bumi PGN sudah tersedia, pelanggan akan dialihkan untuk menggunakan layanan gas melalui jaringan pipa tersebut.
"Ketika sudah ada jaringan pipa gas, kita kembalikan ke PGN, gas pipa," ucapnya.
Pelanggan Yang Mulai Menggunakan CNG
Chief Engineering Hotel Platinum Yogyakarta, Yudi, mengatakan rata-rata pemakaian CNG mencapai 1.200-1500 M3 CNG per bulan atau setara sekitar 1.500 Kg LPG. Manajemen hotel memilih beralih ke CNG karena bisa menghasilkan efisiensi cukup signifikan.
Baca Juga: WN Australia di Legian Bali Diduga Habisi 2 Anaknya Sebelum Gantung Diri
"Secara pemakaian itu kalau kita rupiahkan itu cukup hemat dari sebelumnya. Penghematannya sekitar 20 sampai 30 persen. Biasanya sekitar Rp 29 - Rp 30 juta ini bisa turun jadi sekitar 20 juta," kata Yudi ditemui di Hotel Platinum Yogyakarta, Selasa (15/9).
Yudi mengatakan, Hotel Platinum sudah mulai beralih dari LPG ke CNG sejak Januari 2026 dan memperoleh banyak keuntungan yang diperoleh mulai dari tidak hanya dari sisi harga yang lebih murah tapi juga dari sisi kemudahan pasokan hingga keamanan.
"Kita ada grup dengan teman-teman Gagas, jadi nanti dibaca meterannya kalau sekiranya sudah mau habis tinggal lapor terus pengisian ulang," ujarnya.
Sementara itu, Supervisor Marugame Udon Kaliurang, Dedi Sugianto, mengatakan kemudahan pasokan jadi salah satu keunggulan utama dibandingkan saat masih menggunakan LPG. Dalam ebulan Marugame Udon Kaliurang menggunakan sekitar 1.000 M3 CNG.
"Tanpa menunggu sampai gas habis, dua hari sekali langsung melakukan refill," ujar Dedi.
Dari sisi kualitas pembakaran, terdapat perbedaan yang sangat terasa, terlihat dari warna api yang dihasilkan CNG jauh lebih biru dibandingkan LPG yang masih kemerahan. Ini berdampak pada kualitas memasak yang lebih sempurna.
"CNG ini lebih besar tekanan out-nya daripada yang LPG. LPG kita buka tuasnya full, itu baru akan keluar yang gas sempurnanya. Warnanya pun juga enggak terlalu merah gitu, biru warnanya," ungkap Dedi.