← Beranda
Kaitkan Langsung Banjir Bandang Tapsel dengan Operasional Kesimpulan Prematur, PTAR Beberkan Temuannya
Nanda PrayogaRabu, 3 Desember 2025 | 00.48 WIB
Area terdampak banjir di Kecamatan Batang Toru dan Muara Batang Toru. (dok. PTAR)

JawaPos.com - Bencana alam banjir hingga tanah longsor telah melanda sejumlah titik di Sumatera Utara hingga Sumatra Barat. Perusahaan pertambangan, PT Agincourt Resources (PTAR), mengungkapkan hasil telaah mengenai narasi terkait keterhubungan antara bencana longsor dan banjir bandang di Tapanuli Selatan dengan keberadaan Tambang Emas Martabe.

"Temuan kami menunjukkan bahwa mengaitkan langsung operasional Tambang Emas Martabe dengan kejadian banjir bandang di Desa Garoga merupakan kesimpulan yang prematur dan tidak tepat," kata PTAR dalam keterangannya, Selasa (2/12).

PTAR menjabarkan, berdasarkan data dan fakta di lapangan, peristiwa banjir bandang dan longsor bisa dijelaskan dengan sebagai berikut!

Sungai Garoga Tak Mampu Tampung Debit Air Akibat Penyumbatan Kayu Gelondongan 

Siklon Senyar memicu hujan berintensitas sangat tinggi di wilayah Tapanuli Selatan. Curah hujan tersebut bersifat ekstrem dan secara statistik termasuk dalam kategori hujan maksimum yang belum pernah tercatat setidaknya dalam 50 tahun terakhir. 

Volume hujan yang luar biasa besar itu turun merata di kawasan Sumatra bagian utara, termasuk Hutan Batang Toru yang merupakan daerah hulu sejumlah sungai utama di Kecamatan Batang Toru, seperti Sungai (Aek) Garoga, Aek Pahu, dan Sungai Batang Toru.

Pusat awal terjadinya banjir bandang berada di Desa Garoga yang masuk dalam Sub-Daerah Aliran Sungai (DAS) Garoga, kemudian meluas ke sejumlah desa sekitar, antara lain Huta Godang, Batu Horing, Sitinjak, dan Aek Ngadol.

Banjir bandang terjadi karena alur Sungai Garoga tidak mampu menampung besarnya debit air yang datang secara tiba-tiba. Kondisi ini diperparah oleh penyumbatan besar-besaran material kayu gelondongan di Jembatan Garoga I dan Jembatan Anggoli (Garoga II). 

Penyumbatan tersebut mencapai titik kritis pada 25 November sekitar pukul 10 pagi, memicu perubahan mendadak arah aliran sungai. Dua anak Sungai Garoga kemudian bergabung membentuk alur baru yang langsung menerjang Desa Garoga. Hingga kini, puluhan korban telah dinyatakan meninggal dan puluhan lainnya masih hilang. Jumlah korban diperkirakan akan terus bertambah dalam beberapa hari mendatang.

Kegiatan PTAR di DAS Aek Pahu Tak Berkaitan dengan Bencana di Garoga

PTAR beroperasi di sub-DAS Aek Pahu yang secara hidrologis terpisah dari DAS Garoga. Walaupun kedua aliran sungai tersebut pada akhirnya bertemu, titik konvergensinya berada jauh di hilir Desa Garoga dan kemudian mengalir menuju pantai barat Sumatra. 

Dengan demikian, kegiatan PTAR di DAS Aek Pahu tidak memiliki keterkaitan langsung dengan bencana yang terjadi di Garoga.

Beberapa kejadian longsor memang teridentifikasi di wilayah sub-DAS Aek Pahu, namun tidak ditemukan adanya banjir bandang di sepanjang aliran sungainya. Berbeda dengan Sungai Garoga, aliran Sungai Aek Pahu tidak menunjukkan adanya arus lumpur dan kayu gelondongan dalam jumlah besar yang dapat memicu penyumbatan masif. 

Lima belas Desa Lingkar Tambang yang sebagian besar berada di sub-DAS Aek Pahu pun tidak mengalami dampak berarti, bahkan saat ini menjadi lokasi utama untuk menampung para pengungsi.

Hasil investigasi lanjutan melalui pemantauan udara menggunakan helikopter di area hulu Sungai Garoga memperkuat penjelasan mengenai sumber bencana. Dari titik-titik pengamatan di sub-DAS Garoga, terlihat secara jelas adanya rangkaian longsor besar pada tebing-tebing di sepanjang alur sungai, termasuk di kawasan hutan lindung. 

Longsoran inilah yang menjadi sumber utama material lumpur serta kayu-kayu gelondongan yang ditemukan di Sungai Garoga. Meski demikian, temuan tersebut masih bersifat indikatif dan memerlukan kajian lanjutan untuk mengidentifikasi seluruh faktor penyebab secara menyeluruh.

PTAR menjadi salah satu pihak pertama yang bergerak melakukan penanganan darurat, termasuk operasi Search and Rescue (SAR), membuka akses yang tertutup, serta mendirikan posko-posko pengungsian yang dilengkapi tenda darurat, dapur umum, dan layanan kesehatan. 

PTAR bersama pemerintah daerah, TNI-Polri, dan berbagai pemangku kepentingan terus mengerahkan seluruh kapasitas yang dimiliki untuk membantu masyarakat sejak hari pertama bencana. Upaya bersama ini sangat penting guna mengurangi jumlah korban dan mempercepat proses pemulihan pascabencana.

PTAR merupakan bagian dari masyarakat Batang Toru dan Tapanuli Selatan. Dalam seluruh operasinya, PTAR selalu mematuhi ketentuan yang berlaku, termasuk perizinan yang terkait dengan perlindungan lingkungan. Kegiatan Tambang Emas Martabe dilakukan sepenuhnya di Areal Penggunaan Lain (APL) dan berada di luar kawasan hutan Batang Toru. 

Sepanjang masa operasionalnya, PTAR terus mendukung berbagai upaya pelestarian lingkungan, mencakup konservasi air, udara, tanah, serta penguatan keanekaragaman hayati melalui kerja sama dengan lembaga nasional maupun internasional.

“Dengan memahami sepenuhnya perhatian publik yang sangat besar atas bencana ini, kami mengajak seluruh pihak untuk mengedepankan kolaborasi, komunikasi, dan manajemen informasi yang baik untuk menghindari opini yang, secara sengaja atau tidak, berujung pada narasi-narasi yang tidak tepat, kontraproduktif dan merusak upaya pertolongan dan pemulihan masyarakat korban bencana,” tutup PTAR.

 

EDITOR: Estu Suryowati