JawaPos.com - Peluang Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga dinilai semakin kecil. ASEAN Economist UOB Enrico Tanuwidjaja memperkirakan BI akan mempertahankan kebijakan suku bunga dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 22-23 September 2026.
"Stay, kelihatannya mereka stay," kata Enrico kepada wartawan usai diskusi bertajuk Reclaiming Global Trust: Indonesia's Investment Agenda for a Volatile World", di Jakarta, Selasa (15/9).
Menurut dia, BI tidak memiliki alasan untuk terburu-buru menaikkan suku bunga karena kebijakan sebelumnya dinilai sudah bersifat pre-emptive.
Terlebih, suku bunga BI telah mengalami kenaikan hingga 100 basis poin, sementara bank sentral Amerika Serikat (The Fed) belum memulai siklus kenaikannya.
"Jadi menurut saya nggak ada lagi alasan buat mereka terlalu tergesa-gesa. Udah naik 100 loh. The Fed belum mulai," ujarnya.
Enrico menilai peluang kenaikan suku bunga lebih lanjut semakin kecil seiring kondisi rupiah yang stabil dan aliran modal asing yang mulai masuk. Kebijakan fiskal yang lebih disiplin juga dinilai dapat memperkuat ruang bagi BI untuk mempertahankan suku bunga.
"Higher for longer, yes. Kemungkinan naik lagi menurut saya menjadi semakin kecil. Karena rupiah stabil, inflow udah masuk, fiskal kita kemungkinan akan lebih disiplin. Jadi buat mereka udah pas," jelasnya.
Dia mengatakan, koordinasi antara kebijakan moneter dan fiskal menjadi penting untuk menjaga kepercayaan pasar.
Menurut Enrico, kondisi likuiditas saat ini masih relatif aman sehingga perlu dipertahankan agar tidak mengalami guncangan.
"Jadi buat mereka tuh beautiful banget, mereka udah pre-emptive, sekarang sinergi dengan fiskal, yang perlu dijaga adalah confidence bahwa likuiditas nggak akan tergoncang. Tadi kan saya udah bilang likuiditas oke, aman. Jadi sekarang tuh kuncinya kita harus sinergi dan run aja," katanya.
Di sisi lain, Enrico menilai tekanan inflasi domestik yang terjadi saat ini belum menunjukkan kuatnya permintaan masyarakat. Menurut dia, tekanan tersebut lebih banyak berasal dari sisi pasokan atau supply side.
Karena itu, penanganan tekanan inflasi dinilai lebih efektif dilakukan dengan memperbaiki pasokan. Enrico mencontohkan komoditas pangan seperti cabai rawit dan bawang, sementara tekanan harga minyak dapat diredam melalui kebijakan fiskal.
"Jadi kalau supply side ya diberesinnya apa? Ya supply-nya. Minyak oke, kita redam pakai fiskal. Terus cabe rawit, bawang, kita supply. Ya udah, aman. Temporer lah. Supply side," paparnya.
Sementara itu, ketika ditanya mengenai kondisi permintaan domestik, Enrico mengatakan pemulihan permintaan belum sepenuhnya terjadi. Menurut dia, kepercayaan masyarakat masih dalam proses pembangunan.
"Kan confidence-nya tadi kita bilang lagi di-build ya," pungkasnya.