JawaPos.com – PT Pamerindo Indonesia menghadirkan IEE Series – Engineering Week 2026 sebagai platform yang mempertemukan berbagai sektor strategis, mulai dari konstruksi dan infrastruktur, pertambangan, minyak dan gas, pengelolaan air, manajemen kebencanaan, hingga industri foundry, metalurgi, dan pemrosesan material.
Deputy Event Director PT Pamerindo Indonesia Hanung Hanindito mengatakan, pendekatan tersebut dilakukan karena perkembangan industri saat ini semakin saling terhubung dan tidak dapat dipisahkan antar sektor.
“Yang ingin kami dorong adalah pemahaman bahwa sektor-sektor tersebut sebenarnya saling berkaitan. Perkembangan industri tidak terjadi dalam satu sektor saja,” katanya di JIExpo Kemayoran, Rabu (9/9).
Menurut Hanung, kebutuhan industri saat ini juga semakin bersifat lintas sektor, seperti digitalisasi, otomasi, efisiensi energi, keberlanjutan, dan ketahanan industri. Karena itu, IEE Series tidak hanya menjadi ajang pameran teknologi, tetapi juga ruang pertukaran pengetahuan dan peluang kolaborasi.
“Tujuan kami bukan hanya menghadirkan pameran produk dan teknologi, tetapi menyediakan ruang bagi pelaku industri, technology providers, asosiasi, pemerintah, akademisi, dan stakeholder lainnya untuk bertemu, bertukar insight, membangun networking, dan menemukan peluang kolaborasi,” ujarnya.
Baca Juga: Kebutuhan Energi dan Infrastruktur Digital Meningkat, IEE Series Hadirkan Tiga Sektor Strategis
Tema Sustainability for Industrial Transformation yang diusung tahun ini juga mencerminkan perubahan cara pandang industri terhadap keberlanjutan. Tidak hanya terkait penggunaan teknologi ramah lingkungan, tetapi juga peningkatan efisiensi, produktivitas, keselamatan, serta ketahanan usaha dalam jangka panjang.
Hanung menilai, kolaborasi lintas industri menjadi semakin penting karena setiap sektor memiliki keterkaitan dengan sektor lainnya.
“Tidak ada satu sektor yang dapat berkembang sepenuhnya sendiri,” imbuhnya.
Selain mempertemukan pelaku industri dan penyedia teknologi global, IEE Series juga membuka ruang bagi akademisi dan generasi muda melalui program kunjungan mahasiswa serta berbagai sesi berbagi pengetahuan.
Tahun ini, IEE Series menargetkan lebih dari 75 ribu pengunjung profesional, diikuti lebih dari 2.000 perusahaan dari 39 negara dan wilayah, serta menempati area pameran lebih dari 110 ribu meter persegi.
“Yang lebih penting adalah kualitas koneksi dan peluang yang tercipta di dalam platform ini,” tandas Hanung.
Tak Lagi Sekadar Megah, tapi Berkelanjutan
Marketing Communications Manager IEE Series, Ingrid Muljo, mengatakan prinsip sustainability yang diterapkan dalam pameran tidak sebatas pengelolaan sampah maupun penggunaan kendaraan listrik.
Menurut dia, sejak 2023 penyelenggara telah mengacu pada 17 Sustainable Development Goals (SDGs) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Penerapannya dilakukan melalui berbagai aspek, mulai dari lingkungan, pendidikan hingga ekonomi.
Salah satu langkah yang dilakukan yakni mengurangi penggunaan karpet di area pameran. Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari edukasi kepada peserta karena penggunaan karpet sudah menjadi hal yang lazim dalam pameran.
Selain itu, penyelenggara menjalankan program Better Stands untuk mendorong peserta mengurangi penggunaan booth sekali pakai.
"Kita mengajak dan mengedukasi peserta pameran itu untuk mengurangi sebetulnya, bukannya nggak boleh bangun booth yang bagus, tapi mengurangi untuk penggunaan booth yang sekali pakai," ujarnya.
Upaya menekan limbah juga dilakukan dengan memanfaatkan kembali material yang sebelumnya digunakan dalam pameran. Banner yang dikumpulkan sejak 2024, misalnya, diolah menjadi berbagai produk yang masih dapat digunakan.
"Terus kita juga mengumpulkan banner-banner. Kita kumpulkan dari tahun 2024 terus kita coba upcycle jadi produk-produk yang masih bisa digunakan," kata Ingrid.
Banner bekas tersebut antara lain diolah menjadi material ubin di sustainability corner hingga pouch. Dalam prosesnya, penyelenggara juga menggandeng UMKM lokal untuk membuat produk hasil daur ulang tersebut.
Tak berhenti pada aspek lingkungan, konsep keberlanjutan juga diterapkan pada sektor sosial. Salah satunya dengan memberikan kesempatan kerja bagi tenaga disabilitas selama pameran.
"Karena kita tahu, keberlanjutan itu bukan cuma sekadar hijau, kita kan soalnya nggak mau greenwashing, bukan cuma terkait soal lingkungan, tapi juga ada yang namanya keberlanjutan misalnya pendidikan, ekonomi," jelasnya.
Ingrid mengakui tantangan penerapan sustainability dalam pameran adalah mengubah kebiasaan peserta. Sebab, tampilan pameran tetap dituntut menarik, namun di sisi lain tidak boleh menambah limbah secara berlebihan.
"Kalau untuk sebuah pameran kan pasti kita inginnya menampilkan yang bagus gitu ya. Tapi juga harus mengedepankan atau bagaimana caranya itu imbang, bagus tapi nggak menambah limbah," pungkasnya.