JawaPos.com - Kesadaran masyarakat konsumen Indonesia untuk menjalani gaya hidup yang lebih ramah lingkungan terus berkembang, tapi pilihan produk berkelanjutan masih terbatas
Riset KIC menunjukkan, 37 persen konsumen Indonesia belum pernah membeli produk berkelanjutan, salah satunya karena produk tersebut masih sulit ditemukan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan konsumsi berkelanjutan di Indonesia bukan hanya tentang membangun kesadaran.
Baca Juga: BATIC 2026 Buka Babak Baru Transformasi Digital Asia Pasifik
Ketika masyarakat mulai ingin mengubah kebiasaan, mereka juga membutuhkan akses yang lebih mudah terhadap produk yang sesuai dengan pilihan tersebut.
Isu lingkungan sendiri semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Persoalan sampah, penggunaan plastik, perubahan iklim hingga pemanfaatan sumber daya mendorong sebagian masyarakat untuk mempertimbangkan kembali barang yang mereka konsumsi.
Baca Juga: IHSG Berpotensi Lanjut Menguat Pagi Ini, Cermati Rekomendasi Saham DEWA hingga PTRO
Namun, niat untuk memilih produk yang lebih bertanggung jawab dapat terhambat ketika pilihan tersebut tidak mudah ditemukan.
Di sinilah muncul kesenjangan antara kepedulian konsumen dan ketersediaan produk.
Masyarakat bisa saja memiliki keinginan untuk berbelanja secara lebih berkelanjutan, tetapi tanpa visibilitas dan akses yang memadai, perubahan perilaku akan berjalan lebih lambat.
Karena itu, memperluas pilihan produk ramah lingkungan menjadi bagian penting dari upaya mendorong gaya hidup berkelanjutan.
Semakin mudah produk ditemukan, semakin besar peluang konsumen mengubah kepedulian menjadi keputusan nyata.
Selain itu, pilihan konsumen juga semakin dipengaruhi oleh cerita dan dampak di balik sebuah produk.
Baca Juga: Rupiah Berfluktuasi Hari Ini, Sentimen Demo DPR dan Survei Prabowo-Gibran Jadi Sorotan
Bagi konsumen yang peduli terhadap lingkungan, produk tidak lagi hanya dinilai dari fungsi atau tampilan.
Mereka ingin mengetahui bahan yang digunakan, proses pembuatannya, hingga dampak yang dihasilkan.
Interaksi langsung antara konsumen dan pelaku usaha menjadi penting dalam kondisi tersebut.
Baca Juga: Prabowo Naikkan Anggaran PPATK 100 Persen, Perkuat Pusat Intelijen Keuangan
Konsumen dapat melihat produk, bertanya mengenai proses pembuatannya, sekaligus memahami nilai yang ingin dibawa sebuah usaha.
Pengalaman tersebut dapat membangun kepercayaan yang tidak selalu mudah diperoleh hanya melalui informasi di kanal digital.
Pada akhirnya, konsumen tidak sekadar membeli barang.
Baca Juga: Cara Masyarakat Pelosok Gunungkidul Olah Sampah Organik jadi Cuan
Mereka juga ingin memastikan bahwa keputusan yang dibuat sehari-hari sejalan dengan nilai yang mereka yakini.
Namun sekarang, pilihan untuk hidup lebih berkelanjutan kini juga semakin beragam.
Pendekatan tersebut dapat ditemukan dalam berbagai kategori, mulai dari fashion, kecantikan, makanan dan minuman, perlengkapan rumah tangga hingga kerajinan.
Ekonomi sirkular juga membuka ruang bagi berbagai inovasi.
Baca Juga: Bisa Tingkatkan Kesejahteraan, Kemenko PM Minta Penempatan PMI Harus Prosedural dan Terlindungi
Material yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah dapat diolah kembali menjadi produk dengan fungsi baru, memperpanjang masa pakai sekaligus mengurangi penggunaan sumber daya baru.
Perubahan seperti ini penting karena gaya hidup berkelanjutan tidak harus selalu dimulai dari langkah besar.
Pilihan sehari-hari, termasuk barang yang dibeli dan digunakan, dapat menjadi bagian dari perubahan yang lebih luas.
Baca Juga: Menkeu Purbaya Yakin Layer Cukai Baru Efektif Tekan Peredaran Rokok Ilegal
Potensi konsumen untuk produk berkelanjutan juga terlihat dari penyelenggaraan Langkah Membumi Market (LMM) pada tahun sebelumnya.
Lebih dari 40 tenant terkurasi ikut ambil bagian dan menghadirkan berbagai produk dengan pendekatan ramah lingkungan.
Nilai transaksi dalam gelaran tersebut bahkan meningkat hingga dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
Baca Juga: DSI Bongkar 6.500 Transaksi Ekspor, Telusuri Potensi Under Invoicing
Kenaikan tersebut menjadi sinyal bahwa pasar untuk produk berkelanjutan memiliki peluang untuk berkembang.
Konsumen tidak hanya menunjukkan simpati terhadap isu lingkungan, tetapi juga mulai bersedia membelanjakan uang untuk pilihan yang dianggap membawa dampak lebih baik.
Bagi pelaku usaha, kondisi ini sekaligus memperlihatkan pentingnya menemukan ruang yang tepat untuk memperkenalkan produk sekaligus mengedukasi konsumen.
CEO dan Co-Founder Ulur Wiji Joko Santoso mengatakan, kehadiran ruang tersebut sejalan dengan upaya membangun kesadaran lingkungan, khususnya di kalangan generasi muda.
Baca Juga: Temukan Potensi Kebocoran Ekspor Rp 88,6 Triliun, DSI mulai Petakan Ribuan Transaksi
"Kami happy sekali karena acara Langkah Membumi ini selaras dengan visi kami di Ulur Wiji. Kami berharap masyarakat, terutama anak-anak muda, akan semakin aware terhadap isu-isu lingkungan, global warming, dan sampah," ujar Joko Santoso.
Tantangan berikutnya adalah memastikan produk berkelanjutan tidak hanya tersedia bagi kelompok konsumen tertentu.
Semakin luas akses terhadap produk tersebut, semakin besar peluang masyarakat mengadopsinya sebagai bagian dari kebiasaan sehari-hari.
Baca Juga: Gelar AOE 2026, Apkasi Pertemukan Potensi Daerah dengan Pasar dan Investor
Pilihan itu dapat berupa produk berbahan daur ulang, barang yang mengurangi penggunaan plastik, pakaian dengan material daur ulang, hingga produk yang memanfaatkan kembali material yang sebelumnya dianggap sebagai limbah.
Dengan semakin banyaknya alternatif, konsumen memiliki ruang lebih besar untuk memilih berdasarkan kebutuhan sekaligus mempertimbangkan dampak lingkungan.
Pada saat yang sama, pelaku usaha juga memperoleh kesempatan untuk menunjukkan bahwa prinsip keberlanjutan dapat berjalan berdampingan dengan kebutuhan pasar.
Baca Juga: Festival DEB Pertamina 2026 Perkuat Kolaborasi, Dorong Energi Terbarukan Jadi Penggerak Ekonomi D
Intinya, upaya memperkecil jarak antara konsumen dan produk berkelanjutan kembali dilakukan melalui Langkah Membumi Market 2026.
Untuk kelima kalinya, program ini menghadirkan ruang temu yang mempertemukan pelaku usaha, konsumen, komunitas, media, kreator, dan mitra strategis.
Konsep tersebut tidak hanya memberi ruang bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan produknya, tetapi juga membuka kesempatan bagi masyarakat untuk mengenal lebih dekat berbagai pilihan gaya hidup berkelanjutan.
Bagi pelaku usaha lokal, kesempatan ini mencakup berbagai bidang, mulai dari fesyen, kecantikan, makanan dan minuman, produk rumah tangga, kerajinan hingga inovasi berbasis ekonomi sirkular.
Baca Juga: Diakui di Kancah Internasional, Pegadaian Raih Penghargaan Best Sukuk-SME di Kuala Lumpur
Sementara bagi konsumen, semakin banyak pilihan berarti semakin mudah menerapkan kebiasaan yang lebih ramah lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.