JawaPos.com - Anomali terjadi di tengah perdagangan telur. Saat harga telur relatif stabil dan dinilai cukup terjangkau, pedagang justru menghadapi penurunan daya beli masyarakat yang berdampak pada merosotnya volume penjualan hingga 60 persen.
Tio, 29 tahun, pedagang telur di Pasar Pos Pengumben, Jakarta Barat, mengatakan penjualannya turun sekitar 60 persen dibandingkan kondisi sebelumnya.
"Sangat-sangat menurun," kata Tio saat ditemui Jawapos.com, Senin (17/8).
Dia menyebut penurunan mulai terasa setelah Lebaran tahun ini. Padahal, pada awalnya aktivitas penjualan masih berjalan normal dan permintaan cukup stabil.
Pria yang sudah lima tahun berjualan ini mengatakan penurunan pembelian paling terasa dari pelanggan yang merupakan pelaku usaha makanan.
Warteg dan pedagang nasi goreng yang sebelumnya membeli lima hingga enam kilogram telur per hari, kini hanya membeli sekitar dua hingga tiga kilogram.
"Rata-rata berubah semua Mas. Dari warteg, dari tukang nasi goreng yang tadinya beli 5 kilo 6 kilo, sekarang cuma 3 kilo, 2 kilo. Sangat menurun sekali," tuturnya.
Menurut dia, kondisi tersebut membuat pedagang telur ikut terdampak karena penjualan sangat bergantung pada aktivitas para pelanggan. Sementara pembeli rumah tangga cenderung tidak berbelanja telur setiap hari.
Terlebih, kata dia, kondisi itu juga terjadi dengan kawan pedagang lainnya yang ada di sejumlah pasar di Jakarta.
"Semua merasakan mas, teman-teman saya (pedagang telur) lainnya di Kebayoran Lama, sama," katanya.
Harga Lagi Bagus
Di tengah penurunan permintaan, Tio menyebut harga telur justru relatif stabil selama sekitar sebulan terakhir. Harga dari distributor berada di kisaran Rp21 ribuan dan belum mengalami perubahan berarti.
"Bagus harganya sebenernya, cuma daya beli masyarakatnya itu yang berkurang," ujarnya.
Dia menilai harga telur saat ini sebenarnya cukup terjangkau jika dibandingkan dengan sejumlah biaya produksi dan distribusi. Namun, kemampuan masyarakat membeli justru melemah.
"Malah daya belinya yang turun, kan aneh. Berarti ekonomi semua lagi pada sulit sepertinya," kata Tio.
Untuk mempertahankan penjualan, Tio mengaku harus menyesuaikan margin keuntungan. Persaingan antarpedagang membuatnya tidak bisa mempertahankan margin seperti sebelumnya.
"Tetap ada Mas. Kita menyesuaikan. Kalau kita tetep kekeuh kayak yang pertama kita ngambil untung segitu, nggak bisa. Saingannya banyak sekarang, apalagi kalau kita tetep harganya di atas semua, kita malah makin turun entar," katanya.
Meski penjualan melemah, pasokan telur menurut Tio masih aman. Ia biasanya mengambil sekitar 100 ikat atau 1,5 ton telur yang kemudian didistribusikan ke dua lokasi.
"Pokoknya aman. Kalau stok aman banget kalau untuk telur ya. Paling aman pokoknya dah," sambungnya.
Telur ayam negeri menjadi jenis yang paling banyak dicari konsumen. Sementara telur bebek dan telur ayam kampung lebih banyak menjadi pilihan tambahan.
Di momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI, Tio berharap kondisi ekonomi nasional lebih stabil sehingga aktivitas masyarakat dan pedagang kembali berjalan lebih baik.
"Semoga ekonomi Indonesia makin stabil dah pokoknya Mas. Nyari duit enak, biar sama-sama enak," katanya.
Dia juga berharap kondisi ekonomi yang lebih baik dapat membuat masyarakat lebih mampu memenuhi kewajiban, termasuk membayar pajak.
Baca Juga: Daya Beli Kelas Menengah Tertekan Meski Ekonomi Tumbuh 5,29%
"Kita taat bayar pajak juga enak. Kalau ekonomi susah, kita mau bayar pajak gimana coba? Logikanya begitu," ujarnya. (*)