← Beranda
Indeks Kepercayaan Industri Juli 2026 Naik ke 53,10, Didorong Permintaan Domestik
Djati WaluyoSabtu, 1 Agustus 2026 | 23.31 WIB
Juru Bicara Kementerian Perindustrian Febri Hendri Antoni Arief. (istimewa)

JawaPos.com - Kementerian Perindustrian (Kemenperin), mencatat Indeks Kepercayaan Industri (IKI) bulan Juli 2026 berada pada level 53,10 atau meningkat 0,20 poin dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 52,90.

Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arief, mengatakan hingga Juli 2026, sebanyak 22 dari 23 subsektor industri pengolahan menembus fase ekspansi dengan kontribusi mencapai 98,6 persen terhadap PDB nonmigas.

Ia mengatakan, capain tersebut menunjukan industri dalam negeri kembali menunjukkan resiliensinya menghadapi berbagai tekanan pada sisi produksi ataupun demand pada pasar domestik dan global.

Baca Juga: Punya Jiwa Finansial Kuat, 9 Tanggal Lahir Ini Disebut Jauh dari Masalah Keuangan

“Ditunjukkan oleh kenaikan IKI sebesar 0,20 dari 52,90 pada bulan Juni menjadi 53,10 bulan Juli 2026. Hal ini mencerminkan ketahanan sektor industri di tengah berbagai tantangan global sekaligus menjadi modal penting untuk menjaga pertumbuhan ekonomi nasional," ujar Febri dalam keterangan yang diterima, Sabtu (1/8).

Febri mengatakan, berdasarkan variabel pembentuk IKI, komponen permintaan baru meningkat sebesar 0,45 poin menjadi 53,80. Peningkatan pesanan terutama disebabkan karena permintaan pasar domestik yakni, Pertama, meningkatnya permintaan produk manufaktur oleh sektor-sektor dalam perekonomian nasional.

Kedua, konsumsi rumah tangga terutama pemenuhan kebutuhan rumah untuk liburan memasuki tahun ajaran baru. Ketiga, belanja program pemerintah seperti MBG, Kopdes Merah Putih, Kampung Nelayan, Transformasi B30 menjadi B50, pembangunan 3 juta rumah subsidi. Keempat, Investasi pembangunan industri baru dan Kelima, yaitu pesanan ekspor.

Terkait investasi baru, Kemenperin mencatat bahwa terdapat 152 industri baru yang mulai beroperasi pertama kali di Indonesia pada semester 1 2026. Nilai investasi dari industri yang mulai beroperasi tersebut senilai Rp 157,6 triliun dan menyerap tenaga kerja baru bidang produksi sebesar 56.347 orang.

Baca Juga: Tugas Baru Miguel Pereira, Winger Persebaya Surabaya Jadi Penerjemah Alex Martins

“Kenaikan aktivitas manufaktur Indonesia pada bulan Juli 2026 terutama ditopang oleh kenaikan dari sisi permintaan domestik, terutama mulai jalannya program pemerintah seperti MBG, kelanjutan pembangunan koperasi merah putih, B50, kampung nelayan, serta program tiga juta rumah subsidi,” ujarnya.

Febri melanjutkan, variabel produksi mengalami kenaikan sebesar 0,27 poin dari 54,28 menjadi 54,55 pada bulan Juli. Hal ini menunjukkan resiliensi dari rantai pasok manufaktur di tengah masalah pemadaman listrik, kenaikan harga gas industri, dan kenaikan harga bahan baku terutama harga bahan impor pada bulan sebelumnya.

“Rantai pasok industri dalam negeri pada bulan Juli 2026 menunjukkan aktivitas lebih kuat dibandingkan bulan sebelumnya. Pada bulan Juni lalu, industri dalam negeri mengalami masalah pada sisi produksi seperti pemadaman listrik, kenaikan harga gas industri dan kenaikan harga bahan baku impor telah teratasi dengan baik,” ucapnya.

Namun, meski permintaan dan produksi meningkat, variabel persediaan pada bulan Juli mengalami kontraksi, yang disebabkan karena sebagian industri masih menahan stok persediaan di gudang dan belum mendistribusikan nya keluar industri.

Ia mengatakan, sebagian industri masih menahan sebagian stok barang hasil produksi di bulan sebelumnya, karena masih menunggu perkembangan industri makro, kebijakan atau insentif dari pemerintah pada produksinya.

“Setelah ada perkembangan, industri akan segera mendistribusikan hasil produksi ke pasar mengingat permintaan terus meningkat,” ungkapnya.

Lanjutnya, dari 23 subsektor industri pengolahan non migas yang dipantau IKI, subsektor dengan kinerja terbaik berasal dari Industri Kendaraan Bermotor, Trailer dan Semi Trailer serta Industri Minuman.

Di samping itu, hanya satu subsektor yang mengalami kontraksi, yaitu Industri Kulit, Barang dari Kulit, dan Alas Kaki, yang masih menghadapi tekanan akibat melemahnya permintaan ekspor dan meningkatnya biaya logistik internasional.

“Kondisi tersebut mencerminkan masih adanya penumpukan stok produk jadi pada sebagian industri, sehingga perlu terus diantisipasi melalui penguatan permintaan, baik dari pasar domestik maupun ekspor,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menyebut bahwa hasil survei juga menunjukkan bahwa kondisi usaha industri secara umum mengalami perbaikan. Sebanyak 77,9 persen responden menyatakan kegiatan usahanya membaik maupun stabil, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya.

Di sisi lain, tingkat pesimisme pelaku usaha terhadap kondisi enam bulan ke depan justru menurun menjadi 7,0 persen, meskipun tingkat optimisme juga sedikit terkoreksi menjadi 67,8 persen.

“Ini menunjukkan bahwa dunia usaha masih memiliki keyakinan terhadap prospek industri nasional, namun tetap mencermati berbagai perkembangan ekonomi global secara hati-hati,” pungkasnya.

EDITOR: Bintang Pradewo