← Beranda
Green Jobs Pariwisata Bisa Serap 5,3 Juta Pekerja, Kemenpar: Serapan SDM Masih Rendah
Dimas ChoirulKamis, 30 Juli 2026 | 13.32 WIB
Suasana diskusi panel Forum Bisnis Ketenagakerjaan Pariwisata, di Jakarta, Rabu (29/7). (Dimas Choirul/JawaPos.com)

JawaPos.com – Kementerian Pariwisata (Kemenpar) memperkirakan kebutuhan tenaga kerja hijau (green jobs) di sektor pariwisata akan terus meningkat.

Berdasarkan peta jalan pengembangan tenaga kerja hijau yang disusun Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), kebutuhan tersebut diproyeksikan mencapai 5,3 juta tenaga kerja pada skenario optimistis.

Asisten Deputi Peningkatan Sumber Daya Manusia Industri Kemenpar Faisal mengatakan, besarnya kebutuhan tersebut harus menjadi momentum mempercepat transformasi sumber daya manusia (SDM) pariwisata.

Sehingga mereka mampu memenuhi tuntutan industri yang semakin mengadopsi prinsip ekonomi hijau.

Baca Juga: Persipura Experience Hadir di Bandara Sentani, Gerai Baru Siap Layani Suporter dan Wisatawan di Papua

"Di sektor pariwisata itu yang optimistis sampai 2029 itu ada 5,3 juta tenaga kerja. Yang paling pesimis itu 3,2 juta tenaga kerja," ujarnya di acara Forum Bisnis Ketenagakerjaan Pariwisata di Jakarta, Rabu (29/7).

Menurut Faisal, transformasi tersebut didorong oleh perubahan standar industri global yang semakin menekankan tata kelola bisnis yang efisien, berkelanjutan, serta peduli terhadap lingkungan melalui konsep blue economy, green economy, dan circular economy.

Ia menjelaskan, kompetensi baru dibutuhkan mulai dari pengelolaan sampah, efisiensi energi, hingga pemanfaatan energi listrik.

Standar tersebut kini telah diterapkan di tiga subsektor utama, yakni transportasi pariwisata, akomodasi dan restoran, serta destinasi wisata. "Sehingga tenaga kerja ke depan harus memiliki kompetensi itu," kata Faisal.

Ia mengingatkan, apabila Indonesia tidak segera menyiapkan SDM dengan kompetensi yang sesuai, peluang kerja tersebut berpotensi diisi tenaga kerja dari negara yang lebih siap menerapkan standar ekonomi hijau. "Dan ini harus kita respon," ujarnya.

Baca Juga: MAXI Yamaha Day 2026 Jadi Ajang Silaturahmi Bikers Sekaligus Promosi Wisata Kuningan

Meski peluang kerja terus meningkat, penyerapan tenaga kerja pariwisata dinilai masih menjadi pekerjaan rumah.

Faisal mengungkapkan, pertumbuhan tenaga kerja sektor pariwisata setiap tahun berada pada kisaran 3 hingga 5 persen. Sedangkan tenaga kerja yang terserap industri hanya sekitar 1 hingga 1,5 persen.

"Data kerja pariwisata 3 sampai 5 persen tiap tahun pertumbuhannya. Nah yang terserap dari tenaga kerja itu hanya 1 sampai 1,5 persen," ungkapnya.

Menurut dia, rendahnya penyerapan bukan semata karena minimnya lapangan pekerjaan, melainkan belum adanya sistem informasi pasar kerja yang mampu menghimpun seluruh kebutuhan tenaga kerja industri pariwisata.

"Jadi saya berpikir itu harus ada sistem informasi pasar kerja di mana industri pariwisata terkonsolidasi memasukkan semua peluang kerjanya sehingga terbuka," katanya.

Baca Juga: Semakin Banyak Keturunan Jepang Telusuri Akar Keluarga, Wisata Leluhur Jadi Tren Baru

Ia menambahkan, selama ini banyak perusahaan melakukan rekrutmen secara terpisah sehingga informasi lowongan tidak terhimpun dalam satu sistem.

"Tidak terdata itu karena rata-rata melakukan rekrutmen masing-masing segala macamnya," ungkapnya.

Selain menyiapkan SDM, Kemenpar juga menghadapi tantangan memastikan setiap program pelatihan benar-benar berkualitas dan berdampak terhadap penyerapan tenaga kerja.

"Tantangan yang pertama kalau kami itu sebenarnya bagaimana memastikan yang berjalan ini berkualitas dan berdampak. Itu kan yang harus jadi PR kita. Jangan sampai ada program yang sejatinya bagus tapi dari sisi implementasinya itu ya begitu-begitu aja, hanya lebih orientasi administrasi dan seterusnya," tutur Faisal.

Di sisi lain, Kemenpar juga mendorong penyusunan standar kompetensi hijau di sektor pariwisata.

Baca Juga: Dijuluki Venesia dari Timur, Zhouzhuang Manjakan Wisatawan dengan Suasana Kota Air Kuno, Muslim Friendly

Standar tersebut akan menjadi acuan penyusunan kurikulum pendidikan, program pelatihan, hingga modul pembelajaran sesuai kebutuhan industri.

"Yang kedua, yang juga yang perlu kita lakukan dalam konteks di kementerian, segera bisa menyusun standar kompetensi hijau di sektor pariwisata," katanya.

Menurut Faisal, percepatan pengembangan pariwisata hijau juga membutuhkan dukungan regulasi, anggaran, dan kolaborasi lintas pemangku kepentingan.

"Yang kita harapkan seperti itu gitu supaya apa yang kita lakukan ini ya merupakan orkestrasi bersama untuk bisa berbuat sesuatu," ucapnya.

Sebagaimana diketahui, Forum Bisnis Ketenagakerjaan Pariwisata ini diikuti oleh 220 peserta yang merupakan representasi dari berbagai sektor.

Baca Juga: Shindong Jadi Bintang Tamu Jeon Hyun Moo Plan 4, Nikmati Wisata Kuliner Khas Hapcheon

Mulai dari pelaku usaha, pengelola industri pariwisata, asosiasi pariwisata, perguruan tinggi, SMK pariwisata, lembaga sertifikasi profesi, pakar tenaga kerja, serta perangkat daerah yang terkait.

Forum ini diharapkan dapat menghasilkan sebuah rekomendasi pelatihan dan sertifikasi profesi yang prioritas berdasarkan kebutuhan industri.

Juga penguatan kolaborasi link and match antara pemangku kepentingan, serta tersusunnya rencana tindak lanjut pengembangan SDM pariwisata Provinsi DKI di tahun 2027.

 

 

EDITOR: Bayu Putra