← Beranda
Produksi Beras Indonesia Naik, KASAI Soroti Harga yang Belum Turun
Dimas ChoirulSabtu, 27 Juni 2026 | 20.35 WIB
Ketua Umum Keluarga Alumni Sosial Ekonomi Pertanian Agribisnis Indonesia (KASAI) Achmad Tjachja Nugraha. (Dimas Choirul/Jawapos.com).

 

JawaPos.com - Capaian produksi pangan nasional yang terus meningkat mendapat apresiasi dari berbagai kalangan. Namun, peningkatan produksi dinilai perlu diikuti pembenahan tata niaga dan distribusi agar manfaatnya tidak hanya dirasakan petani, tetapi juga konsumen.

Sebelumnya, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan bahwa berdasar laporan terbaru Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), produksi beras Indonesia mencapai sekitar 38 juta ton dan menempatkan Indonesia sebagai salah satu produsen beras terbesar di dunia.

Mentan menyebut capaian tersebut turut mendorong peningkatan kesejahteraan petani yang tercermin dari Nilai Tukar Petani (NTP) sebesar 127, tertinggi dalam 34 tahun terakhir. Selain itu, pertumbuhan ekonomi sektor pertanian mencapai 5,74 persen, tertinggi dalam 25 tahun terakhir berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS).

Baca Juga: Negara Butuh Uang Cepat dari Konglomerat, Terbitlah Patriot Bond

Menanggapi berbagai capaian tersebut, Ketua Umum Keluarga Alumni Sosial Ekonomi Pertanian Agribisnis Indonesia (KASAI) Achmad Tjachja Nugraha menilai program ketahanan pangan yang dijalankan pemerintah merupakan langkah yang baik. Namun, dia mengingatkan agar pelaksanaannya di tingkat teknis dicermati secara detail.

"Nah namun tataran teknis itu harus kita cermati secara detail secara tegas agar apa niat baik yang dilakukan oleh pemerintah itu sama dengan yang diharapkan masyarakat," ujar Achmad Tjachja Nugraha saat konferensi pers di Jakarta, Sabtu (27/6).

Menurut Achmad, peningkatan produksi pangan memang merupakan fakta yang tidak dapat dipungkiri. Namun, ia mempertanyakan kondisi harga beras yang masih tinggi di tengah meningkatnya produksi.

Baca Juga: 1.590 Anak Nasabah PNM Terima Beasiswa, Membuka Mimpi dari Keluarga Prasejahtera

"Misalnya tadi, sesuatu yang menurut kita harus kita pikirkan adalah memang faktanya produksi meningkat. Kan kita jelas. Tapi yang menarik adalah kenapa harga beras nggak bisa turun? Kan kalau bicara supply-demand kan itu sesuatu anomali," kata Achmad Tjachja Nugraha.

Dia menilai persoalan ketahanan pangan tidak dapat dilihat semata-mata dari sisi produksi. Pemerintah, kata dia, perlu memperhatikan berbagai aspek lain yang memengaruhi harga pangan di tingkat konsumen.

"KASAI melihat pemerintah bukan hanya fokus terhadap produksi yang semu nih. Kita harus kolaborasi secara komprehensif dan integral karena ternyata ketahanan pangan bukan hanya masalah produksi," terang Achmad Tjachja Nugraha.

Achmad mengatakan masih terdapat sejumlah aspek yang perlu dibenahi agar keberhasilan peningkatan produksi dapat dirasakan secara merata oleh masyarakat. "Tadi ada blind spot area yang harus kita bereskan, wajar kalau ternyata ada sebagian nggak happy ya. Wah berasnya ada tapi kan harganya tinggi, gimana ceritanya sih?' Wajar itu. Nah itu yang harus disikapi kita semua, kita bekerja sama untuk membereskan memberikan masukan," tutur dia.

Di sisi lain, dia mengakui peningkatan produksi pangan tetap penting karena berdampak langsung terhadap kesejahteraan petani. Mengingat sektor pertanian masih menjadi penyerap tenaga kerja yang besar, terutama di wilayah pedesaan, peningkatan produksi diyakini dapat memperkuat ekonomi masyarakat desa.

"Nah ketahanan pangan, ketahanan suatu negara salah satu ukurannya adalah di dalam ketersediaan pangan. Nah dilalahnya pengelolaan pangan itu di dalamnya adalah petani. Dan petani itu adalah suatu pekerjaan yang ternyata penyerapan pekerjaannya itu begitu besar," tandas Achmad Tjachja Nugraha.

Baca Juga: Harga Emas Antam Naik Rp 5.000 Hari Ini, Cek Daftar Lengkapnya per 27 Juni 2026

Menurut dia, manfaat ketahanan pangan seharusnya tidak hanya dirasakan petani, tetapi juga masyarakat luas sebagai konsumen. Karena itu, KASAI mendorong perbaikan sistem distribusi dan tata niaga pangan agar lebih efisien.

"Makanya KASAI menginisiasi juga riset tentang bagaimana sih pola distribusi yang bagus sehingga rantai tata niaga itu betul-betul dirasakan bukan hanya petani, dirasakan oleh konsumen. Kan kalau rantai tata niaganya semakin efektif, semakin efisien kan everybody happy gitu loh," tutur Achmad Tjachja Nugraha.

Dia menambahkan, kajian tersebut dilakukan untuk mencari formulasi yang mampu menghadirkan manfaat ketahanan pangan secara lebih merata bagi petani, masyarakat, dan wilayah pedesaan.

Baca Juga: Pegadaian Gencarkan Sosialisasi Tring, Perluas Literasi Keuangan Digital, Sasar Gen Z

"Nah KASAI dalam konteks sosial ekonomi pertanian mengelaborasi itu semua nih: ya petani, ya masyarakat, ya pedesaan untuk semua merasakan bahwa ketahanan pangan itu membuat happy semua gitu loh," ucap Achmad Tjachja Nugraha.

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah