← Beranda
Teknologi Pertanian Ubah Lahan Pesisir yang Terdampak Salinitas Jadi Sumber Pangan dan Pendapatan Baru
Rian AlfiantoJumat, 19 Juni 2026 | 18.46 WIB
Ilustrasi teknologi pertanian ubah lahan pesisir jadi lahan produktif. (Istimewa)

 

JawaPos.com - Lahan pesisir yang selama ini dianggap kurang produktif akibat tingginya kadar garam kini mulai dilirik sebagai sumber pangan masa depan. Itu dilakukan melalui penerapan teknologi pertanian berbasis riset.

Salah satunya di kawasan pesisir Kabupaten Batang, Jawa Tengah, dikembangkan menjadi ekosistem terpadu sumber pangan. Dengan teknologi pertanian, menggabungkan budi daya padi tahan salinitas, ikan nila salin, dan rumput laut, dalam satu hamparan lahan.

Pendekatan teknologi pertanian ini menjadi salah satu upaya menjawab tantangan ketahanan pangan di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim, intrusi air laut, dan berkurangnya lahan pertanian produktif di wilayah pesisir.

Baca Juga: Pemerintah Genjot Hilirisasi Lewat 870 Ribu Hektare Perkebunan Rakyat, Fokus Kakao hingga Kelapa

Program itu diluncurkan di kawasan Pantai Sicepit, Kelurahan Kasepuhan, Kabupaten Batang, melalui kolaborasi antara Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Pemerintah Kabupaten Batang, dan PT Perusahaan Gas Negara (PGN).

Sebagai tanda dimulainya implementasi program, dilakukan pelepasan 10.000 benih ikan nila salin serta penanaman benih padi biosalin bersama petani setempat. Program ini dijalankan di lahan seluas 32,26 hektare yang dikelola Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sido Barokah Mulyo, Poktan Intani, dan Poktan Dewi Sri VI.

Program Minapadi Salin mengandalkan inovasi teknologi pangan yang dikembangkan melalui riset BRIN. Teknologi pertanian tersebut memungkinkan budidaya padi biosalin pada lahan dengan tingkat salinitas tinggi yang sebelumnya sulit dimanfaatkan secara optimal.

Baca Juga: Mentan Sebut Dampak Positif Perang AS-Iran, Ekspor Sektor Pertanian RI Meningkat

Tak hanya padi, lahan yang sama juga digunakan untuk pemeliharaan ikan nila salin. Sistem ini kemudian diperkuat dengan budidaya rumput laut jenis Gracilaria verrucosa yang dikenal memiliki nilai ekonomi tinggi dan mampu tumbuh baik di perairan pesisir.

Dengan pendekatan terintegrasi tersebut, satu kawasan mampu menghasilkan beberapa komoditas sekaligus sehingga potensi pendapatan masyarakat menjadi lebih beragam. Deputi Bidang Riset dan Inovasi Daerah BRIN Yopi menegaskan, program ini menjadi bukti hasil penelitian dapat diterapkan secara nyata untuk menyelesaikan persoalan di lapangan.

“BRIN tidak ingin hasil riset hanya berhenti di laboratorium, tetapi harus hadir di tengah masyarakat dan menjadi solusi nyata bagi persoalan daerah,” kata Yopi.

Menurut dia, pendekatan ini tidak hanya memulihkan produktivitas lahan pesisir yang terdampak salinitas, tetapi juga mampu meningkatkan nilai ekonomi kawasan.

Produktivitas Padi Ditargetkan Tembus 7 Ton per Hektare

Melalui dukungan teknologi pertanian berbasis riset, program ini menargetkan produktivitas padi mencapai 6–7 ton per hektare. Sementara itu, benih ikan nila salin yang ditebar diharapkan dapat dipanen dengan bobot rata-rata sekitar 300 gram per ekor.

Pada komoditas rumput laut, tahap awal budidaya dilakukan menggunakan sekitar 30 kilogram bibit. Panen perdana ditargetkan berlangsung dalam waktu sekitar tiga bulan setelah penanaman dengan potensi hasil mencapai lima kilogram rumput laut untuk setiap satu kilogram bibit yang ditebar.

Baca Juga: Dilepas Kemenpora, Bintang Sinaga Bertekad Bawa Tim Garuda Muda Indonesia Jadi Terbaik pada Turnamen di Vietnam

Setelah panen pertama, budidaya rumput laut direncanakan berlanjut secara bertahap setiap tiga hingga empat minggu sehingga mampu memberikan tambahan pendapatan yang lebih berkelanjutan bagi masyarakat pesisir.

Jejak Keberhasilan di Semarang dan Jepara

Model pemanfaatan lahan salin ini bukan pertama kali diterapkan. Sebelumnya, program serupa telah dijalankan di wilayah pesisir Mangunharjo, Semarang, serta Kabupaten Jepara melalui budidaya padi biosalin.

Di Semarang, luas lahan yang semula hanya 20 hektare kini berkembang menjadi lebih dari 115 hektare. Sementara di Jepara, realisasi panen mencapai 22 hektare dari target awal 20 hektare dengan nilai ekonomi sekitar Rp 1,23 miliar.

Baca Juga: Bidik Pasar Tiongkok, Purbaya : PBOC Siap Percepat Perizinan Panda Bond RI

Secara keseluruhan, program Padi Biosalin yang telah berjalan menghasilkan nilai ekonomi sekitar Rp 7,66 miliar. Capaian tersebut menjadi dasar pengembangan model yang lebih terintegrasi di Kabupaten Batang dengan menambahkan komoditas ikan nila salin dan rumput laut.

Corporate Secretary PGN, Fajriyah Usman, mengatakan program tersebut merupakan bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat melalui integrasi inovasi pertanian dan perikanan.

“Program Minapadi Salin merupakan wujud nyata komitmen tersebut, dengan mengintegrasikan inovasi pertanian dan perikanan, termasuk pengembangan komoditas rumput laut, untuk meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional,” ujar Fajriyah.

Baca Juga: IHSG Berpotensi Menguat, MNC Sekuritas Rekomendasikan Empat Saham Ini

Selain itu, pengembangan kawasan ini tidak berhenti pada peningkatan produksi pangan. Ke depan, program akan diperkuat dengan penanaman mangrove di sekitar lokasi budidaya sebagai upaya mitigasi abrasi sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir.

“Kami ingin memastikan bahwa manfaat program ini tidak hanya dirasakan pada saat panen, tetapi juga memberikan dampak jangka panjang bagi lingkungan dan masyarakat. Dengan pendekatan terintegrasi antara pertanian, perikanan, dan pelestarian ekosistem pesisir, kami berharap tercipta keseimbangan antara peningkatan produktivitas, penguatan ekonomi masyarakat, dan keberlanjutan lingkungan,” ucap Fajriyah.

EDITOR: Latu Ratri Mubyarsah