JawaPos.com - Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) massal kembali memakan korban di sektor industri nasional. Kali ini, pabrik elektronik PT Xacti Indonesia yang berlokasi di Depok, Jawa Barat, resmi ditutup dan terpaksa merumahkan sekitar 350 karyawannya akibat hantaman krisis global.
Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) menyebut penutupan ini menjadi alarm keras bagi kondisi industri formal di tanah air.
Presiden KSPI yang juga Presiden Partai Buruh, Said Iqbal, menegaskan bahwa kasus ini menjadi bukti nyata dari peringatan yang pernah ia sampaikan sebelumnya.
"Benar, telah terjadi PHK sekitar 350 orang karyawan PT Xactie di Depok dan perusahaan tersebut tutup. Ini membuktikan bahwa apa yang disampaikan KSPI sebelumnya bukan ngarang atau menakut-nakuti. Informasi ini berasal dari bawah, dari perusahaan-perusahaan sendiri, dan sekarang mulai terjadi," ujar Said Iqbal, Senin (25/5).
Meski harus kehilangan pekerjaan, Said Iqbal memastikan bahwa hak-hak para mantan karyawan telah terpenuhi sesuai regulasi yang berlaku.
"Para pekerja yang terkena PHK mendapatkan nilai pesangon sebesar dua kali ketentuan dalam UU Ketenagakerjaan. Selain itu juga ada penghargaan masa kerja dan uang penggantian hak yang telah disepakati bersama," terang Said Iqbal.
Pemicu Utama: Efek Domino Perang Global
Menurut analisis KSPI, ambruknya PT Xacti Indonesia tidak lepas dari situasi geopolitik dunia yang belum stabil. Perang berkepanjangan memicu lonjakan biaya operasional yang tak lagi sanggup dipikul oleh perusahaan berorientasi ekspor tersebut.
"Perang membuat harga bahan baku impor yang dibeli dengan dolar naik drastis. Ongkos produksi meningkat, sementara pasar ekspor lesu. PT Xactie adalah perusahaan orientasi ekspor, sehingga ketika pasar global melemah, mereka tidak mampu bersaing dan akhirnya tutup," jelas Said Iqbal.
Ia menambahkan, sejak awal April 2026 KSPI telah memperingatkan adanya potensi PHK di 10 perusahaan dengan jumlah pekerja terdampak yang diperkirakan mencapai sekitar 9 ribu orang. Saat ini, kata Said Iqbal, peringatan tersebut mulai terbukti satu per satu.
"KSPI sudah mengingatkan sejak awal bahwa akan ada ancaman PHK besar-besaran. Ini bukan asumsi. Kami diingatkan langsung oleh manajemen di tingkat perusahaan. Dan sekarang kenyataannya mulai terjadi," tegasnya.
Badai PHK Meluas ke Banten, Karawang, hingga Jawa Timur
Ternyata, fenomena ini tidak hanya terjadi di Depok. Sejumlah wilayah industri besar di Indonesia juga mulai bertumbangan, terutama di sektor padat karya seperti tekstil, sepatu, hingga otomotif.
Baca Juga: Ramalan Zodiak Pisces Selasa, 26 Mei 2026: Intuisi Kuat Membantu Menemukan Ketenangan
Di wilayah Banten, khususnya Tangerang dan Serang, beberapa nama besar dilaporkan mulai melakukan perampingan jumlah karyawan.
"Bahkan perusahaan besar seperti Nikomas juga mengurangi sekitar 279 pekerja. Ini menunjukkan situasi industri formal sedang tidak baik-baik saja," kata Said Iqbal.
Selain itu, gelombang PHK massal ini juga tercatat di beberapa titik berikut:
- Karawang: Satu pabrik tutup berimbas pada 295 pekerja, ditambah kebijakan efisiensi pada 294 pekerja, serta 200 buruh terdampak akibat disharmoni industrial.
- Sidoarjo (Jawa Timur): CV Asri merumahkan sekitar 200 pekerja akibat lesunya pasar.
"Perusahaan otomotif dan turunannya juga mulai terpukul. Harga jual mobil naik, permintaan turun, daya beli masyarakat melemah, akhirnya perusahaan melakukan efisiensi dan PHK," lanjutnya.
Desak Satgas Mitigasi PHK Segera Bergerak
Melihat situasi yang semakin mengkhawatirkan dalam tiga bulan ke depan, KSPI dan Partai Buruh mendesak pemerintah dan DPR RI untuk mengambil langkah penyelamatan yang konkret.
"Pemerintah sudah membentuk Satgas Mitigasi PHK. KSPI akan terus memberikan informasi dan mendorong langkah-langkah konkret. Yang paling penting adalah memastikan hak-hak buruh diberikan secara penuh," ujar Said Iqbal.
Baca Juga: Ramalan Zodiak Pisces Selasa, 26 Mei 2026: Intuisi Kuat Membantu Menemukan Ketenangan
Salah satu solusi jangka pendek yang ditawarkan adalah memfasilitasi perpindahan kerja bagi buruh yang terdampak agar tidak menganggur terlalu lama.
"Kalau memungkinkan, para pekerja bisa disalurkan ke perusahaan lain. Seperti kasus di Tangerang, ada pekerja yang dipindahkan ke pabrik baru di Brebes," katanya.
Langkah advokasi ini juga akan dibawa ke tingkat legislatif demi merumuskan kebijakan industri yang lebih berpihak pada kesejahteraan pekerja.
"Kami akan berdiskusi dengan DPR RI agar mereka mengetahui kondisi serius yang sedang terjadi di sektor industri formal. Pemerintah dan DPR harus bersinergi menghadapi ancaman PHK ini," tegas Said Iqbal.
Sebagai langkah nyata penanganan cepat di lapangan, KSPI telah menyiapkan posko khusus bagi para buruh yang membutuhkan bantuan hukum dan pendampingan.
"KSPI dan Partai Buruh sudah membuka Posko Orange sebagai pusat advokasi PHK. Kami ingin memastikan para buruh tidak menghadapi situasi ini sendirian," imbuh Said Iqbal.