JawaPos.com - Pemerintah mempercepat pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Papua dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dari Kementerian Transmigrasi melalui Tim Ekspedisi Patriot, hingga perguruan tinggi untuk memperkuat ekosistem rantai pasok pangan.
Menteri Transmigrasi (Mentrans), M. Iftitah Sulaiman Suryanegara, menegaskan komitmen pihaknya dalam mendukung pengembangan SPPG sebagai bagian dari program prioritas pemerintah, termasuk di Papua.
“Kami dari tim Ekspedisi Patriot berkomitmen untuk ikut membantu yang menjadi titik berat dari beliau (arahan Bapak Presiden Prabowo Subianto) ada 2.500 lebih yang akan dibangun SPPG di Papua. Yang menjadi titik konsen beliau adalah bagaimana kami, tim Ekspedisi Patriot, akan mendukung ekosistemnya, penyediaan bahan pangannya, dan sebagainya” ujar Iftitah dalam Rapat Pleno Tim Ekspedisi Patriot, di Jakarta, Rabu (29/4).
Sementara itu, Ketua Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua, Velix Vernando Wanggai menambahkan bahwa percepatan pembangunan di Papua merupakan komitmen kuat pemerintah, termasuk melalui pendekatan baru dalam program transmigrasi yang melibatkan perguruan tinggi.
“Pendekatan kolaborasi dengan perguruan tinggi dapat memetakan potensi ekonomi wilayah, kemudian dapat memetakan kelembagaan ekonomi yang kontekstual dengan Papua, tapi juga memetakan komoditas-komoditas unggulan yang sangat lokalitas tapi punya nilai ekonomi, nilai strategis, baik yang untuk ekspor maupun pasar nasional maupun pasar lokal sendiri,” lanjutnya.
Terkait program SPPG, Felix menyebutkan target pembangunan di Papua mencapai 2.572 unit yang tersebar di wilayah terpencil hingga perkotaan.
Ia menambahkan, penguatan SPPG di sana tidak hanya pada pembangunan fisik dapur, tetapi juga pembentukan ekosistem rantai pasok pangan berbasis lokal.
“Kemudian dari Kementerian Transmigrasi dan juga dari perguruan tinggi akan melakukan pendampingan terhadap ekosistem rantai pasok komoditasnya, baik yang untuk pemenuhan gizinya, ternak, hasil sayur-mayur, kemudian protein, karbohidrat, yang ini mendekatkan pasar off-taker di tingkat lokal,” ujarnya.
Menurutnya, pendekatan ini juga membuka peluang pengembangan komoditas unggulan daerah seperti pala, kopi, dan cokelat yang dapat terserap pasar lokal maupun nasional.
"Tapi juga pasti ada komoditas unggulan lain yang tadi Pak Menteri sampaikan ada pala, ada kopi, ada cokelat, dan juga komoditas lain yang tentu beragam off-taker baik di tingkat nasional maupun tingkat lokal seperti SPPG Makan Bergizi Gratis (MBG) ini,” pungkas Felix.