← Beranda
Kapasitas Tidak Cukup, Bulog Sewa Gudang untuk Simpan Cadangan Beras Pemerintah
Ilham SafutraJumat, 24 April 2026 | 15.14 WIB
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman didampingi Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani di gudang Bulog Karawang, Jawa Barat, Kamis (23/4/2026). (Harianto/ANTARA)

 

JawaPos.com - Stok cadangan beras pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog menembus 5.000.198 ton. Jumlah itu merupakan data per 23 April 2026. Semua beras tersebut disimpan di gudang milik Perum Bulog. Namun, kapasitas gudang yang dimiliki Perum Bulog tidak memadai, sehingga disewa gudang lain untuk menampung 2 juta ton CBP.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan, stok cadangan beras pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog yang menembus 5.000.198 ton merupakan yang pertama dalam sejarah Indonesia. Data per April 2026 ini belum pernah terjadi sebelumnya.

"Alhamdulillah hari ini tanggal 23 April 2026, sekarang jam 9 kurang 5 menit, jam 8.55 WIB, stok beras seluruh Indonesia 5.000.198 ton. Ini adalah pertama, tidak pernah terjadi sepanjang sejarah. Ini sejarah pertama," kata Amran di sela meninjau stok beras di gudang Bulog Karawang, Jawa Barat, Kamis (23/4).

Amran yang juga Kepala Badan Pangan Nasional itu menyatakan, capaian itu merupakan hasil kerja keras berbagai pihak. Kini pemerintah terus menambah kapasitas penyimpanan melalui penyewaan gudang guna menampung peningkatan produksi dan cadangan beras nasional.

Contohnya di Karawang, Perum Bulog harus menyewa gudang untuk menyimpan cadangan beras nasional. Kapasitas di Karawang 102.000 ton. Saat ini sudah terisi sekitar 80.000 ton dan diperkirakan akan penuh dalam dua pekan ke depan.

Secara nasional, total kapasitas gudang Bulog mencapai sekitar 3 juta ton. Sedangkan jumlah cadangan beras pemerintah mencapai 5 juta ton. Maka, sebanyak 2 juta ton lainnya disimpan Bulog di gudang yang disewa dari pihak ketiga.

Amran menilai keberhasilan ini tidak hanya berdampak bagi ketahanan pangan nasional, tetapi juga menunjukkan kontribusi Indonesia terhadap stabilitas pangan global yang bergantung pada komoditas beras.

Pada periode 2023 hingga 2024, Indonesia sempat mengimpor beras sekitar 7 juta ton. Namun, pada 2025 pemerintah berhasil menghentikan impor. Amran optimistis bahwa Pemerintah tidak melakukan impor beras pada 2026. Keyakinan itu seiring dengan peningkatan produksi dalam negeri dan penguatan cadangan beras nasional yang terus dijaga.

"Kami membuka akses bagi publik untuk melakukan pengecekan langsung ke gudang-gudang Bulog guna memastikan transparansi data stok beras yang telah disampaikan pemerintah," katanya.

Baca Juga: Bulog Jajaki Impor Plastik dari Malaysia untuk Wadah Penyimpanan Beras

Dalam peninjauan tersebut, Mentan Amran turut didampingi Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani dan sejumlah pengamat pertanian.

Cadangan Beras Mencukupi

Pemerintah juga mencatat ketersediaan beras di sektor Horeka (Hotel, Restoran, Kafe/Katering) mencapai 12,5 juta ton. Sehingga total cadangan beras yang dikelola sangat besar dan mampu mencukupi kebutuhan hingga 11 bulan ke depan.

Adapun total potensi stok gabungan antara gudang pemerintah, standing crop, dan sektor Horeka diperkirakan melebihi kebutuhan konsumsi. Kondisi itu dinilai memberikan jaminan keamanan pangan yang sangat kokoh bagi seluruh rakyat Indonesia.

Fenomena El Nino yang berdampak pada musim di Indonesia, Mantan menyebutkan bahwa estimasi dampak El Nino diprediksi berlangsung selama enam bulan. Karena itu pemerintah meyakini cadangan beras yang setara 11 bulan ini lebih dari cukup untuk menjaga stabilitas harga dan pasokan.

Semenjak untuk menjaga produktivitas pertanian di tengah ancaman kekeringan sebagai dampak El Nino, Pemerintah telah mengalokasikan anggaran sekitar Rp 5 triliun untuk program irigasi melalui pompanisasi dan bantuan benih unggul.

Selain itu, pemerintah juga menjalankan program cetak sawah baru seluas 30 ribu hektare ,guna memperluas area tanam dan meningkatkan kapasitas produksi pangan nasional secara bertahap dan berkelanjutan.

Baca Juga: Presiden Prabowo Sidak Gudang Bulog, Stok Beras RI Aman Tembus 4,8 Juta Ton

Bulog: Stok Beras 5 Juta Ton Bukti Swasembada 

Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menegaskan stok cadangan beras pemerintah (CBP) yang mencapai 5.000.198 ton menjadi bukti nyata keberhasilan swasembada pangan, bukan sekadar rekayasa data.

Rizal menyatakan fasilitas penyimpanan Bulog, baik gudang milik sendiri maupun gudang yang disewa, saat ini terisi penuh oleh hasil produksi petani dalam negeri. "Gudang Bulog saat ini penuh oleh beras hasil produksi petani dalam negeri, gudang-gudang swasta yang disewa juga mengalami kondisi serupa. Nah ini menunjukkan negara kita betul-betul swasembada pangan, bukan rekayasa dan lain sebagainya," kata Rizal.

Menurut Rizal, melimpahnya stok tersebut menunjukkan tingginya produktivitas pertanian nasional sekaligus keberhasilan pemerintah dalam menjaga ketersediaan pangan.

Dia mengajak semua pihak untuk mengecek langsung ke berbagai gudang Bulog di seluruh Indonesia jika meragukan kebenaran stok cadangan beras pemerintah saat ini, yang dinilai kokoh menghadapi dampak geopolitik global maupun ancaman kekeringan akibat fenomena El Nino.

Baca Juga: Prabowo Sidak Gudang Bulog Danurejo, Pastikan Stok Beras Nasional Aman

Baik gudang milik Bulog maupun gudang swasta yang bekerja sama, kata dia, terbuka untuk dikunjungi sebagai bentuk transparansi pemerintah dalam memastikan ketersediaan beras nasional.

Perum Bulog menorehkan capaian bersejarah dalam pengelolaan Cadangan Pangan Pemerintah (CPP). Untuk pertama kalinya sepanjang sejarah, stok beras yang dikelola BUMN pangan itu berhasil menembus angka 5 juta ton, menjadi tonggak penting dalam memperkuat ketahanan pangan nasional.

Saat ini, Bulog didukung oleh jaringan lebih dari 1.500 gudang milik sendiri serta lebih dari 1.200 gudang mitra yang disewa yang tersebar di seluruh Indonesia, memastikan stok tersimpan aman dan siap didistribusikan secara merata.

Dengan cadangan yang kuat, Bulog dinilai tidak hanya berperan sebagai stabilisator, tetapi juga sebagai penggerak utama dalam ekosistem pangan nasional. Stok itu menjadi instrumen strategis dalam meredam gejolak harga, mengantisipasi kondisi darurat, serta mendukung program-program pemerintah terkait bantuan pangan.

Capaian itu juga menjadi energi baru bagi seluruh insan Bulog untuk terus meningkatkan kinerja dan memperkuat peran strategis dalam mewujudkan kemandirian pangan nasional.

"Semangat kolaborasi dengan petani, pemerintah daerah, serta seluruh pemangku kepentingan akan terus dijaga dan ditingkatkan," katanya.

Bulog optimistis, dengan fondasi yang semakin kokoh ini, upaya menuju swasembada pangan dan kedaulatan pangan nasional dapat terwujud secara berkelanjutan.

EDITOR: Ilham Safutra