← Beranda
Menko Airlangga Sebut Defisit Anggaran RI Berpotensi Tembus 4 Persen Imbas Perang Timur Tengah
R. Nurul Fitriana PutriSabtu, 14 Maret 2026 | 04.16 WIB
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto. (YouTube Setpres)

JawaPos.com – Pemerintah mengkaji sejumlah skenario dampak konflik di Timur Tengah terhadap kondisi fiskal Indonesia.

Jika perang berlangsung lama dan mendorong lonjakan harga minyak dunia, defisit anggaran negara berpotensi melebar hingga melampaui batas 3 persen.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa pemerintah telah menyiapkan beberapa skenario berdasarkan durasi konflik dan pergerakan harga minyak global.

Menurut Airlangga, skenario tersebut menggunakan asumsi perang berlangsung selama lima bulan, enam bulan, hingga sepuluh bulan dengan dampak berbeda terhadap harga minyak.

Baca Juga: Purbaya Pastikan APBN Belum Diubah Meski Harga Minyak Mentah RI Naik Tembus USD 68 per Barel

“Nah kalau kita mengambil beberapa asumsi perang, katakanlah 5 bulan, 6 bulan dan 10 bulan, dengan masing-masing kenaikan harga BBM yang sampai USD 107. Kemudian 6 bulan USD 107-nya, 6 bulan kemudian menurun lagi,” ujar Airlangga dalam sidang kabinet di Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (13/3).

Ia menjelaskan, dalam skenario konflik yang lebih panjang, harga minyak bahkan dapat menembus USD 130 per barel sebelum turun ke sekitar USD 125 pada akhir tahun.

Sementara itu, realisasi harga minyak Indonesia pada awal tahun masih berada di bawah asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Pada Januari, harga minyak mentah tercatat sekitar USD 64,41 per barel dan Februari USD 68,79 per barel.

“Pembelian kita di bulan Januari Februari itu angkanya USD 64,41 dan USD 68,79. Ini realisasi Pak, jadi realisasi di bawah APBN yang 70 (USD),” jelasnya.

Baca Juga: Rata-rata Minyak Mentah Indonesia Tembus USD 68,79 per Barel di Februari 2026, Dipicu Ketegangan Geopolitik Timur Tengah

Dari simulasi tersebut, lanjut Airlangga, pemerintah memproyeksikan rata-rata harga minyak berbeda pada tiap skenario.

Untuk konflik enam bulan, rata-rata harga minyak diperkirakan sekitar USD 90 per barel. Sementara skenario lain bisa mencapai USD 97 hingga USD 115 per barel.

Siapkan Skenario Ringan Hingga Terburuk

Dalam skenario pertama yang relatif ringan, pemerintah mengasumsikan harga minyak Indonesia (ICP) di kisaran USD 86 per barel dengan nilai tukar rupiah sekitar Rp 17.000 per dolar AS.

Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi tetap dipertahankan di level 5,3 persen dan imbal hasil surat berharga negara sekitar 6,8 persen.

Dengan asumsi tersebut, defisit APBN diperkirakan mencapai 3,18 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Baca Juga: Iran Tak Biarkan AS-Israel Ekspor Minyak dari Timur Tengah Meski hanya Setetes

Pada skenario moderat kedua, harga minyak diperkirakan naik menjadi USD 97 per barel dengan kurs Rp 17.300 per dolar AS dan pertumbuhan ekonomi sekitar 5,2 persen.

Imbal hasil surat berharga negara juga meningkat menjadi 7,2 persen. “Defisitnya itu mencapai 3,53 persen,” ungkap Airlangga.

Sementara itu, dalam skenario terburuk atau pesimistis, harga minyak dapat melonjak hingga USD 115 per barel.

Nilai tukar rupiah diproyeksikan melemah ke level Rp17.500 per dolar AS dengan pertumbuhan ekonomi sekitar 5,2 persen dan yield surat berharga negara 7,2 persen.

Dalam kondisi tersebut, defisit anggaran diperkirakan dapat melebar hingga 4,06 persen dari PDB.

Baca Juga: Harga Minyak Melonjak saat Perang, Prabowo: Singkong dan Jagung Bisa Jadi Sumber Energi Alternatif

“Nah kemudian kalau skenario terburuk yang pesimis itu dengan harga USD 115, kurs rupiah kita 17.500 per dolar AS, defisitnya 4,06 persen,” ungkapnya.

Airlangga menegaskan bahwa dengan berbagai simulasi tersebut, mempertahankan defisit di bawah 3 persen akan menjadi tantangan berat jika konflik berkepanjangan.

"Jadi artinya dengan berbagai skenario ini defisit yang 3 persen itu sulit kita pertahankan. Kecuali kita mau memotong belanja dan memotong pertumbuhan,” pungkasnya.

 

EDITOR: Bayu Putra