← Beranda
Panggung Teateral Inspektur Jenderal
Agus Dermawan TMinggu, 10 Maret 2024 | 21.52 WIB
ILUSTRASI

Ketika sedang duduk nyaman di kapal pesiar Sebastiantasya Line yang menuju Finlandia, gawai Dutasena menyapa. Kabar petir datang dari sahabatnya di Kota Langkapura. Dut, baru saja ada berita di televisi. Putra Inspektur Jenderal Agoes Dharma ditangkap. Ia menabrak temannya dengan motor gede. Yang ditabrak terpental jauh. Badannya menggelosor di aspal dan kepalanya membentur batu. Parah, sampai koma. Apa sekarang Agoes ada di dekatmu? Dia sudah tahu kasus itu?

DUTASENA, dalang skandal pemalsuan lukisan dan pemalsuan tanda tangan pesohor sepak bola, terperangah. Ia melirik Agoes Dharma –inspektur jenderal pembebas dirinya dari kasus itu– yang duduk bahagia di sebelahnya. Dutasena lalu menjawab: Beliau sekarang sedang asyik membalik-balik brosur Crystal Bohemian Ceko. Beliau tenang-tenang saja. Mungkin keluarganya masih merahasiakan berita buruk itu.

Dutasena lantas tercenung. Ini persoalan berat! Anak inspektur jenderal institusi keamanan negara menganiaya seseorang sampai sekarat. Ia lalu teringat cerita yang pernah disampaikan oleh sahabatnya di Kota Langkapura itu. Cerita yang mengingatkan agar dirinya janganlah terlampau berdekat-dekat dengan Agoes Dharma karena sang perwira tinggi ini menyimpan banyak persoalan semenjak masih muda belia.

Cerita itu pelan-pelan menjelma bagai film dalam kepala. Begini.

***

 

Gawai Dutasena bergetar lagi. Dut, berita baru, nih. Para wartawan mulai mempertanyakan harta Inspektur Jenderal Agoes Dharma yang ternyata bukan main banyaknya. Motor gede yang dikendarai putranya itu hanyalah satu dari tiga yang dia punya. Di rumahnya ada Ferrari dan Bugatti. Agaknya mulai dicurigai, Agoes korupsi. Apakah ia masih belum tahu perkara ini? Dia masih di dekatmu?

Dutasena menjawab: Beliau sekarang sedang tidur bahagia. Kalau dia tahu, entah apalah jadinya.

Jawaban itu berjawab lagi: Dia suruh bersiap saja. Di sela-sela kesukacitaan, sering mendadak menyelip kepedihan hati.

 Baca Juga: Kota Masa Depan Bayangan Belanda di Jantung Pandalungan

***

 

Lalu cerita ulah Agoes Dharma di masa lalu kembali menjelma dalam ingatan Dutasena.

Alkisah, sahabat Dutasena sakit dan berobat ke dokter Razak, yang terkenal sebagai pengobat tepat dengan tarif rakyat. Oleh karena itu, pasiennya selalu berderet-deret setiap senja. Mereka tertib mengantre dengan cara mengambil nomor yang sudah disediakan di ruang tunggu. Si sahabat melihat Agoes ada di ruang tunggu yang dipenuhi pasien itu.

”Hai Agoes, kau sakit apa kiranya?” si sahabat bertanya.

Agoes tersenyum dan lalu berbisik. ”Ssssst. Sesungguhnya aku cuma calo pasien. Hihihi. Pasien yang tidak mau lama-lama menunggu bisa membeli nomor antre yang ada di tanganku ini. Nomor-nomor kecil... Nah, si pasien yang beli nomor antrean dari aku tentu akan dipersilakan masuk ke ruang pemeriksaan dokter lebih dahulu. Kau mau?”

Si sahabat terbelalak.

”O ya, semakin darurat sakit pasiennya, semakin aku pasang tinggi tarifnya. Aku dapat uang banyak dari sini. Karena aku nyalo sambil pura-pura sakit, setiap senja hari...” Si sahabat menggeleng-gelengkan kepala.

Pada suatu hari, terjadi kehebohan di dekat pintu ruang tunggu dokter Razak. Dalam keributan itu tampak Agoes sedang diringkus oleh petugas keamanan. Agoes dianggap memeras dengan tarif amat tinggi kepada pasien yang berkursi roda. Pasien itu protes, emosional, berusaha memekik-mekik sampai akhirnya pingsan. Terjadilah keributan.

Waktu terus lewat, kadang pelan, kadang seperti berlari. Setelah lulus SMA, Agoes diketahui menempuh pendidikan di akademi keamanan negara. Setelah lulus dengan mulus, ia bekerja di institusi yang berkait dengan keahliannya. Kariernya terus dan terus menanjak dan bahkan melejit. Belum pula berusia 50, Agoes Dharma sudah menyandang pangkat inspektur jenderal!

 

***

 

Agoes Dharma bangun dari tidurnya. Dengan kalem ia membuka gawainya. Raut mukanya mendadak terperanjat, lalu memucat. Celaka. Celaka. Celaka! Benaknya berkata. Kapal pesiar Sebastiantasya Line terus melaju dengan tenangnya.

 

***

 

Sekembalinya di tanah air, Dutasena dan Agoes Dharma berpisah. Dutasena sengaja menjauh, menjaga jarak. Ia takut tersentuh nuansa perkara penganiayaan yang dilakukan oleh putra Agoes. Ia takut disangkutkan dengan harta Agoes. Bukankah kekayaan inspektur jenderal yang datang dari mana-mana itu sedang dipermasalahkan?

Namun, setelah enam bulan, kasus itu serta-merta menghilang. Bahkan Agoes Dharma tiba-tiba mendapat jabatan baru: Pangti (panglima tertinggi) Perkakasjudas (Pemberantasan Kaki Tangan Narkoba, Minuman Keras, Perjudian, dan Sejenisnya). Jabatan sangat penting dan tak sembarang perwira bisa mendapatkan. Agoes Dharma pun jadi pusat perhatian.

Pada suatu malam, Dutasena menonton televisi. Di situ Agoes Dharma, Pangti Perkakasjudas, diwawancarai. Petikan wawancara itu begini.

”Yang Mulia Bapak Inspektur Jenderal Agoes Dharma, adakah cerita tentang masa lalu yang menjadi landasan kesuksesan Anda hari ini?” tanya pewawancara.

”Begini. Sejak usia belia, saya selalu berbuat baik. Pasti tak ada yang menyangka bahwa saya pernah jadi pemulung beling. Berkarung-karung pecahan beling pulungan itu saya jual dan uangnya saya sumbangkan kepada sejumlah pemelihara tradisi di tempat kelahiran saya itu. Sejak dulu, saya tak ingin melihat tradisi kita yang luhur dilindas zaman. Perhatikan upacara tabuik, tari gandrung, pencak silat, bakar tongkang...” Raut Agoes kelihatan meradang.

”Saya juga pernah berbulan-bulan melakukan penyadaran kepada wong cilik di suatu kota agar mereka tidak terbius kepada judi yang dipicu oleh lotre dan semacamnya. Apalagi terbius oleh ramalan peruntungan yang menyebabkan mereka hanya mengunyah harapan. Ini berbahaya karena akan merusak mental dan ekonomi keluarga!”

”Tapi... ini yang paling saya ingat. Pada suatu kali, saya melihat orang-orang sakit sedang antre berobat ke klinik yang hanya ditangani oleh satu dokter. Antrean panjang yang berlangsung setiap hari itu menghadirkan pemandangan miris. Seperti kisah pesakitan di kamp Adolf Eichmann, begundal Nazi era Perang Dunia Kedua! Setelah melihat itu, saya usul kepada pemerintah: mbok jumlah dokter dan ruang dokter di situ ditambah agar antrean tidak menjadi panjang... Syukur usul saya akhirnya diterima. Bahkan perbaikan soal kesehatan itu berlanjut sampai sekarang. Saya rasa, munculnya Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan itu juga lantaran kontribusi saya.”

”Merujuk kasus baru-baru ini... Bapak dikenal berhasil dalam menyelesaikan perkara rumit yang menyangkut pemalsuan tanda tangan pesepak bola dunia dan pemalsuan lukisan di tanah air kita. Mohon izin, Bapak bisa beberkan caranya?”

”Saya menyelesaikan semua itu berdasar rumus yang terpetik dari pengalaman. Dan semua itu saya kerjakan berlandas keberanian. Saya selalu ingat ungkapan: Jika inginkan telur elang di sarang, jangan takut menginjak-injak semut rangrang yang menjagai batang…”

Pewawancara yang kelihatan girang lantas menutup acaranya.

”Bisa disimpulkan bahwa Bapak Inspektur Jenderal adalah orang yang hormat dan jujur kepada sejarah dan pengalaman masa lalunya. Seperti dikatakan sejarawan Amerika Claude Gernade Bowers, sejarah dan pengalaman adalah obor untuk menerangi masa depan. Saya yakin, obor Agoes akan menyala terus sampai kapan-kapan!”

Dutasena pun mematikan televisi dengan gembira karena telah mendapat hiburan yang kontennya persis seperti yang ia duga. Semenit kemudian, sahabatnya dari Kota Langkapura mengirim WhatsApp. Di kolom pesan tertulis kata singkat: Siaran semprul! (*)

---

AGUS DERMAWAN T., Kritikus seni, penulis buku-buku budaya, dan sastrawan. Buku cerpennya, Odong-Odong Negeri Sulap, masuk lima besar buku terbaik versi Kemendikbudristek 2023.

EDITOR: Ilham Safutra