JawaPos.com – Di tengah perubahan sentimen konsumen dan meningkatnya kehati-hatian dalam berbelanja, brand perlu melihat kembali bagaimana pertumbuhan dapat dibangun.
Melalui Ipsos Growth Forum 2026, Ipsos Indonesia mengajak para pelaku industri untuk memahami bagaimana brand equity perlu berjalan beriringan dengan konteks pasar agar dapat mendorong pertumbuhan yang nyata.
Mengangkat tema “The Real Equation of Growth: Brand Equity in Market Context”, forum ini membahas perubahan realitas konsumen Indonesia dan bagaimana brand dapat tetap relevan serta memenangkan peluang pertumbuhan di tengah kondisi pasar yang dinamis.
Data Ipsos Global Consumer Confidence Index mencatat, Consumer Confidence Index Indonesia pada Agustus 2026 berada di angka 53,9, menempatkan Indonesia di peringkat kelima dari 30 negara yang diukur, meningkat dari peringkat ke-10 pada Juli. Namun, peningkatan posisi tersebut juga dipengaruhi oleh melemahnya sentimen di sejumlah negara lain.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa meskipun terdapat perbaikan pada Agustus, konsumen Indonesia masih menghadapi berbagai tekanan yang memengaruhi cara mereka mengambil keputusan. Kekhawatiran terhadap kondisi keuangan, daya beli, dan situasi investasi masih menjadi bagian dari sentimen konsumen.
Baca Juga: Perilaku Konsumen Berubah, Konten Video Jadi Rujukan Utama Cari Kuliner
Hansal Savla, Managing Director, Ipsos Indonesia, mengatakan bahwa perubahan sentimen tersebut perlu menjadi perhatian bagi brand dalam memahami perilaku konsumen.
“Kita melihat konsumen Indonesia yang tetap berhati-hati dan selektif dalam membelanjakan uangnya. Dalam kondisi seperti ini, brand perlu memahami bahwa pertumbuhan tidak hanya berbicara mengenai seberapa kuat sebuah brand di benak konsumen, tetapi juga bagaimana brand dapat hadir dan tetap relevan ketika konsumen membuat keputusan pembelian.”
Dalam kondisi tersebut, Ipsos melihat bahwa konsumen diperkirakan akan tetap berhati-hati dan selektif dalam melakukan pengeluaran hingga akhir tahun. Kondisi ini menjadi bagian dari apa yang disebut Ipsos sebagai “The New Consumer Reality.”
Namun, perubahan perilaku konsumen tidak serta-merta berarti brand harus berhenti membangun desire dan brand equity. Justru, tantangannya adalah bagaimana kekuatan sebuah brand dapat diterjemahkan menjadi pembelian nyata di tengah berbagai faktor yang memengaruhi keputusan konsumen.
Lioni Halim, Country Service Line Group Director – Brand Health Tracking & Creative Assessment, Ipsos in Indonesia, menjelaskan bahwa terdapat kesenjangan yang sering terjadi antara brand yang disukai konsumen dengan performa aktualnya di pasar.
“Sering kali terdapat kesenjangan antara preferensi terhadap sebuah brand dengan pangsa pasar yang sebenarnya. Pertumbuhan terjadi ketika brand mampu membangun keinginan konsumen terhadap brand tersebut, sekaligus membuat konsumen lebih mudah untuk membeli melalui faktor-faktor pasar yang tepat,” ujar Lioni.
Lebih lanjut, Lioni menjelaskan bahwa distribusi dan assortment memiliki pengaruh yang lebih besar dibandingkan promosi dan harga dalam mendorong pertumbuhan.
“Brand yang kuat mampu menciptakan keinginan di benak konsumen. Namun, untuk memenangkan pertumbuhan, brand juga perlu memastikan bahwa konsumen dapat dengan mudah menemukan dan membeli produk tersebut. Di sinilah brand equity perlu bertemu dengan konteks pasar,” pungkas Lioni.