← Beranda
Perkuat Hilirisasi, RAI Dorong Kapasitas Pengolahan Tembus 2 Juta Kelapa Per Hari
Mohamad Nur AsikinJumat, 18 September 2026 | 17.31 WIB
Penandatanganan nota kesepahaman pengadaan mesin pengolah kelapa PT Royal Agro Industri (RAI) dengan mitra dari Tiongkok. (Istimewa)

JawaPos.com -Tingkatkan nilai tambah komoditas kelapa, PT Royal Agro Industri (RAI) memperkuat hilirisasi dengan menambah kapasitas industri pengolahannya berupa mesin produksi baru dari Beyond, Tiongkok.

Penambahan fasilitas produksi pada empat pabrik akan meningkatkan kapasitas produksi lebih dari 2 juta butir kelapa per hari mulai 2027.

CEO PT RAI Johanna mengatakan, mesin baru tersebut akan ditempatkan di pabrik perusahaan di Manado, Sulawesi Utara; Sampit, Kalimantan Tengah; serta pabrik baru yang tengah dibangun di Riau.

"Karena permintaan hasil pengolahan kelapa di dunia terus meningkat, saat ini kami sedang membangun satu pabrik lagi di Riau, yakni PT Garuda Coco Industri," kata Johanna kepada wartawan, Jumat (18/9/2026).

Saat ini, RAI mengelola tiga pabrik pengolahan kelapa, yakni PT Dewa Agricoco Industri (DAI) di Halmahera, Maluku Utara; PT Tri Mustika Cocomanaesa di Manado, Sulawesi Utara; dan PT Samuda Coco Indonesia di Sampit, Kalimantan Tengah.

Menurut Johanna, mesin dari Tiongkok tersebut akan digunakan untuk menambah jalur produksi di pabrik Manado dan Sampit yang telah beroperasi. Sementara di Riau, mesin menjadi bagian dari fasilitas produksi pabrik baru. ”Tahun depan, semua alat baru sudah bisa digunakan untuk produksi," ujarnya.

Baca Juga: Harga Komoditas RI Turun Tajam, Salah Satunya Minyak Kelapa Sawit

Setelah penambahan fasilitas tersebut, pabrik di Riau diproyeksikan memiliki kapasitas pengolahan hingga 1 juta butir kelapa per hari. Sementara pabrik di Manado memiliki kapasitas sekitar 500.000 butir per hari, Sampit 350.000 butir, dan Halmahera 250.000 butir per hari. ”Artinya, PT RAI memiliki kapasitas untuk mengolah lebih dari 2 juta butir kelapa per hari,” kata Johanna.

Penambahan mesin juga akan memperluas produksi sejumlah produk turunan kelapa, antara lain desiccated coconut low fat dan desiccated coconut high fat. Selain itu, RAI memproduksi santan, arang, cocofiber, cocopeat, crude coconut oil, serta sejumlah produk turunan lainnya.

Owner PT RAI, Jerry Hermawan Lo, mengatakan, pengembangan industri  merupakan bagian dari upaya mengubah pola perdagangan kelapa Indonesia, dari menjual komoditas dalam bentuk mentah menjadi produk olahan yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

”Kalau dulu kelapa Indonesia diekspor dalam bentuk utuh atau kelapa bulat dengan harga murah, sekarang dengan pabrik ini kami bisa olah dulu sebelum diekspor. Tentu saja olahan kelapa memiliki nilai ekonomi yang jauh lebih tinggi. Ini yang dinamakan hilirisasi kelapa,” kata Jerry.

RAI mencatat produk olahan kelapa perusahaan saat ini telah dipasarkan ke lebih dari 33 negara, antara lain Jerman, Spanyol, Turki, Tiongkok, dan Amerika Serikat.

Menurut Jerry, pengolahan kelapa di dalam negeri tidak hanya memberikan nilai tambah terhadap komoditas, tetapi juga membuka lapangan pekerjaan dan memperluas keterlibatan petani dalam rantai industri. Saat ini, pabrik-pabrik RAI mempekerjakan ribuan tenaga kerja Anak Bangsa.

Di sisi lain, perusahaan menjalankan program pendidikan melalui skema penyisihan Rp 10 dari setiap butir kelapa yang diolah untuk membiayai Beasiswa Kelapa. Program tersebut ditargetkan membantu pendidikan 2.000 mahasiswa pertanian.

Jerry mengatakan, hingga saat ini beasiswa telah diberikan kepada sekitar 1.300 mahasiswa pertanian dari sejumlah perguruan tinggi di Indonesia.

Penerima program tersebut antara lain berasal dari Universitas Lampung, Universitas Sumatera Utara, IPB University, Universitas Hasanuddin, Universitas Bangka Belitung, Universitas Sam Ratulangi, Universitas Nusa Cendana, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Universitas Riau, Universitas Nusa Nipa, serta Sekolah Tinggi Pertanian Kewirausahaan Banau, Halmahera Utara.

 

EDITOR: Mohamad Nur Asikin