← Beranda
Banyuwangi Jadi Hub Pesawat Amfibi Santai Seaplane, Bidik Konektivitas Pulau-Pulau Wisata
Dhimas GinanjarSabtu, 13 Juni 2026 | 02.18 WIB
Santai Seaplane resmi beroperasi di Banyuwangi. (Santai Seaplane)

JawaPos.com – Perusahaan penerbangan pesawat amfibi Santai Seaplane resmi membuka basis operasional di Banyuwangi. Fasilitas tersebut akan menjadi pusat layanan penerbangan wisata, konektivitas antarpulau, dan penerbangan charter di kawasan timur Indonesia.

Peresmian basis operasi dilakukan pada 10 Juni 2026 di area Bandara Banyuwangi. Kehadiran fasilitas itu diharapkan memperkuat akses menuju sejumlah destinasi wisata di Jawa Timur dan Bali.

CEO Santai Seaplane Wirmandi Sugriat mengatakan Banyuwangi dipilih karena memiliki posisi strategis di ujung timur Pulau Jawa. Daerah tersebut juga dinilai memiliki potensi wisata yang terus berkembang dan menjadi penghubung ke berbagai destinasi di kawasan timur Indonesia.

“Banyuwangi adalah titik awal yang ideal bagi ekspansi operasi kami. Lokasinya strategis dan memiliki lanskap alam yang luar biasa,” ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (12/6).

Dari Banyuwangi, perusahaan menyiapkan sejumlah layanan penerbangan wisata udara. Di antaranya penerbangan untuk menikmati panorama Kawah Ijen dan Gunung Bromo dari udara.

Selain itu, Santai Seaplane juga menyiapkan konektivitas menuju Bali. Rute yang direncanakan mencakup kawasan Menjangan, Lapangan Udara Letkol Wisnu, hingga Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai.

Perusahaan juga menargetkan layanan menuju Kepulauan Gili, Lombok, dan Sumbawa Barat. Di luar sektor wisata, tersedia pula layanan charter menuju sejumlah kota di Jawa Timur seperti Surabaya dan Malang.

Wirmandi mengatakan basis operasi di Banyuwangi akan menjadi titik awal pengembangan jaringan penerbangan pesawat amfibi yang lebih luas. Jaringan tersebut dirancang untuk melayani kebutuhan wisata, perjalanan bisnis, hingga konektivitas menuju wilayah yang sulit dijangkau transportasi konvensional.

Menurut dia, pembukaan basis operasi tersebut bukan sekadar menambah titik layanan baru. Langkah itu juga menjadi bagian dari upaya menghadirkan alternatif konektivitas antarpulau yang lebih fleksibel.

“Kami tidak hanya meluncurkan basis operasi hari ini. Kami juga ingin membuka cara baru bagi dunia untuk menikmati keindahan kepulauan Indonesia,” katanya.

Ia menjelaskan pesawat amfibi memiliki keunggulan karena dapat beroperasi di perairan maupun landasan konvensional. Fleksibilitas tersebut memungkinkan akses yang lebih mudah menuju sejumlah destinasi yang selama ini membutuhkan waktu perjalanan lebih panjang melalui jalur darat atau laut.

Perusahaan juga menyebut Banyuwangi akan menjadi titik awal pengembangan jaringan yang menghubungkan kawasan wisata, pulau-pulau kecil, hingga wilayah pesisir. Pengembangan tersebut akan dilakukan secara bertahap bersama berbagai mitra di sektor pariwisata dan transportasi.

General Manager Bandara Banyuwangi Mohamad Holik Muardi menyambut hadirnya operator pesawat amfibi tersebut. Menurut dia, layanan baru itu melengkapi infrastruktur transportasi udara yang sudah tersedia di Banyuwangi.

“Operasi ini menghadirkan produk penerbangan yang unik dan melengkapi infrastruktur yang ada. Kehadirannya memperkuat posisi Bandara Banyuwangi sebagai gerbang menuju Jawa Timur,” katanya.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menilai layanan tersebut berpotensi memperluas akses wisatawan ke daerahnya. Konektivitas yang lebih baik dinilai dapat mendukung pengembangan sektor pariwisata setempat.

“Kehadiran Santai Seaplane membawa Banyuwangi ke level yang baru. Layanan ini membuka peluang lebih besar bagi pengembangan pariwisata dan menunjukkan kesiapan Banyuwangi bersaing di tingkat global,” ujarnya.

Dalam rencana jangka panjangnya, Santai Seaplane tidak hanya menyasar pasar wisata. Perusahaan juga menyebut tengah menyiapkan berbagai layanan pendukung untuk wilayah kepulauan dan pesisir.

Salah satunya adalah layanan evakuasi medis dari daerah terpencil yang belum memiliki landasan pacu memadai. Pesawat amfibi juga diproyeksikan dapat digunakan untuk pengiriman logistik dan dukungan penanganan bencana.

Selain itu, perusahaan melihat peluang pemanfaatan armada untuk kegiatan pemantauan lingkungan dan wilayah maritim. Operasi tersebut disebut dapat dilakukan melalui kerja sama dengan pemerintah maupun lembaga konservasi.

Perusahaan menyatakan pengembangan jaringan tersebut akan dilakukan secara bertahap. Namun hingga kini belum diungkap detail jumlah armada, jadwal penerbangan reguler, maupun tarif layanan yang akan diberlakukan.

EDITOR: Dhimas Ginanjar